Marak Keracunan Massal Siswa, DPR Bakal Sidak Dapur-Dapur MBG

Ketua DPR Puan Maharani mengatakan pihakya bakal melakukan fungsi pengawasan terkait banyaknya siswa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Puan menyebut, DPR akan menyambangi dapur-dapur MBG hingga menyebabkan keracunan massal siswa.

oleh Tim NewsDiperbarui 23 September 2025, 14:04 WIB
SPPG bertugas mengawasi standar kebersihan, pengelolaan gizi, dan pengolahan limbah di setiap Dapur MBG. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPR Puan Maharani mengatakan pihakya bakal melakukan fungsi pengawasan terkait siswa keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG). Puan menyebut, DPR akan menyambangi dapur-dapur MBG hingga menyebabkan keracunan massal siswa.

"Kami akan melakukan pengawasan tempat-tempat yang mana ada masalah di dapur-dapur MBG untuk melihat secara langsung itu sebenarnya masalahnya itu seperti apa," kata Puan kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (23/9).

Ketua DPP PDIP ini menegaskan, evaluasi secara total ini ingin dilakukan agar tidak adanya saling menyalahkan.

"Jadi memang evaluasinya itu harus dilakukan secara total, jadi jangan saling menyalahkan, tapi kita evaluasi bersama sehingga jangan terulang kembali," tegasnya.

Kasus Keracunan MBG Terbaru

Kasus terbaru keracunan MBG terjadi di Kecamatan Cipongkor, Bandung Barat. Total sebanyak 342 orang siswa keracunan setelah mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebagian telah pulang dan berobat jalan. Sementara yang lainnya masih mendapatkan perawatan intensif di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.

Data Siswa Keracunan MBG

Kepala Staf Presiden (KSP) M Qodari mengulas data siswa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yakni sebanyak 5 ribu lebih korban di berbagai wilayah Indonesia. Sementara yang terbesar terjadi di Jawa Barat.

“Saya punya data yang disiapkan oleh Kedeputian III KSP. Jadi ada data dari tiga lembaga sebagai berikut. BGN, 46 kasus keracunan, ini pasti yang mau ditanyakan keracunan kan, dengan jumlah penderita 5.080, ini data per 17 September. Kedua dari Kemenkes, 60 kasus dengan 5.207 penderita, data 16 September. Kemudian BPOM, 55 kasus dengan 5.320 penderita, data per 10 September 2025,” tutur Qodari di Istana Negara, Jakarta, Senin (22/9/2025).

Qodari menyatakan, ketiga data tersebut terbilang sama meski ada perbedaan angka secara statistik. Keseluruhannya mencapai jumlah 5 ribu, ditambah dengan kemiripan hasil dari elemen masyarakat seperti Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia yang mencatat sebanyak 5.360 siswa keracunan MBG.

“Berdasarkan asesmen BPOM, nanti follow up-nya kalau mau lebih detail tolong kontak BPOM, puncak kejadian tertinggi pada bulan Agustus 2025 dengan sebaran terbanyak di Provinsi Jawa Barat,” jelas dia.

Adapun secara umum, penyebab keracunan MBG antara lain terkait higienitas makanan, suhu makanan dan ketidaksesuaian pengolahan pangan, kontaminasi silang dari petugas, serta indikasi sebagian disebabkan alergi pada penerima manfaat. 

Reporter: Nur Habibie

Sumber: Merdeka.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya