BMKG: Cuaca Indonesia Mayoritas Diprediksi Diselimuti Awan dan Hujan Selasa 23 September 2025

BMKG memprakirakan mayoritas wilayah Indonesia akan diselimuti awan dan diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada hari ini, Selasa (23/9/2025).

oleh Devira PrastiwiDiperbarui 23 September 2025, 10:25 WIB
Pejalan kaki yang menggunakan payung saat hujan deras menyeberang jalan di kawasan Thamrin, Jakarta, Rabu (23/11/2022). Sejak Oktober, DKI Jakarta mulai memasuki musim penghujan yang sudah masuk ke dalam tahap ekstrem. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan mayoritas wilayah Indonesia akan diselimuti awan dan diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada hari ini, Selasa (23/9/2025).

Prakirawati BMKG Ranti Kurniati menyebutkan, adanya potensi udara kabur di Banda Aceh, berawan di Pekanbaru, serta berawan tebal di Tanjung Pinang, Pangkalpinang, dan Bandar Lampung.

"Hujan ringan berpotensi terjadi di Medan, Padang, Jambi, Bengkulu, dan Palembang," ujar Ranti dalam siaran prakiraan cuaca di Jakarta, melansir Antara, Selasa (23/9/2025).

Dia memaparkan, di Pulau Jawa, kondisi cerah berawan diprakirakan di Yogyakarta, berawan di Semarang dan Surabaya, serta berawan tebal di Jakarta, Serang, dan Bandung.

"Sementara itu, di Bali dan Nusa Tenggara, cuaca berawan diperkirakan terjadi di Denpasar dan Kupang, serta berawan tebal di Mataram," papar Ranti.

Kemudian, lanjut di, cuaca Indonesia di wilayah Kalimantan, kondisi berawan berpotensi terjadi di Pontianak dan Palangkaraya, berawan tebal di Samarinda, serta hujan ringan di Tanjung Selor dan Banjarmasin.

"Di Pulau Sulawesi, cuaca berawan terjadi di Makassar, berawan tebal di Gorontalo dan Kendari, serta hujan ringan di Palu, Mamuju, dan Manado," terang dia.

Ranti menambahkan, di wilayah timur Indonesia diprakirakan BMKG hujan ringan terjadi di Ambon, Sorong, Manokwari, Jayapura, dan Jayawijaya.

"Hujan sedang berpotensi terjadi di Kota Ternate, dan kami peringatkan masyarakat untuk waspada hujan disertai petir di Nabire serta Merauke," ucap dia.

 

Gambaran Umum Cuaca di Daerah

Pengendara terjebak banjir yang menggenangi jalan Bayangkara Pusdiklat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Selasa (2/11/2021). Ada potensi hujan lebat dengan intensitas lebih dari 50 milimeter (mm) per hari. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ranti mengingatkan, prakiraan ini merupakan gambaran umum kondisi cuaca di masing-masing daerah.

"Untuk mendapatkan informasi cuaca yang lebih spesifik dan diperbarui serta terkini, masyarakat dapat memantau aplikasi Info BMKG atau mengunjungi laman resmi bmkg.go.id," tandas Ranti.

Sebelumnya, gempa bumi mengguncang wilayah Sukabumi-Bogor pada 20–21 September 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan gempa dipicu aktivitas sesar aktif dangkal dengan mekanisme geser (strike-slip fault).

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Senin, mengatakan gempa utama berkekuatan magnitudo 4,0 terjadi pada Sabtu (20/9) pukul 23.47 WIB berada di kedalaman tujuh kilometer di darat, tepatnya di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

"Berdasarkan bentuk gelombang gempa yang terekam sensor seismik DBJI Darmaga dan CBJI Citeko, gempa ini jelas merupakan gempa tektonik, bukan gempa vulkanik," ucap Daryono, Senin 22 September 2025.

 

Data Kerusakan

Ruang kelas MTs Al Idris rusak ambruk akibat cuaca ekstrem hujan deras di Kecamatan Sukalarang Kabupaten Sukabumi. (Liputan6.com/Istimewa).

BMKG mencatat gempa tersebut dirasakan warga di Kalapanunggal dan Kabandungan dengan intensitas III–IV MMI, di Pamijahan dan Leuwiliang dengan intensitas III MMI, di Bogor II–III MMI, serta di Palabuhanratu dan Depok dengan intensitas II MMI.

Gempa yang terjadi menyebabkan kerusakan ringan pada lima rumah di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, yang dihuni sekitar 20 jiwa. Tidak ada laporan korban jiwa maupun luka dalam kejadian ini.

Kerusakan bangunan terjadi karena kombinasi hiposenter gempa yang dangkal, kondisi tanah lunak di lokasi terdampak, serta struktur bangunan rumah warga yang belum memenuhi standar tahan gempa.

BMKG juga mencatat telah terjadi 39 gempa susulan pascagempa utama, dengan magnitudo terbesar M3,8 dan terkecil M1,9. Dari jumlah itu, lima di antaranya dirasakan masyarakat.

Daryono menambahkan gempa merusak di wilayah ini bukan kali pertama terjadi.

Pada Maret 2020 gempa di Kabandungan merusak ratusan rumah, disusul kejadian Desember 2023, yang merusak 61 rumah, serta peristiwa Juli 2000 yang juga menimbulkan banyak kerusakan di beberapa kecamatan.

Infografis BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya