Liputan6.com, Jakarta Kementerian Kebudayaan meyakini betul bahwa fungsi film tak hanya sekadar hiburan semata. Namun juga merupakan medium yang dapat digunakan untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai kepahlawanan Tanah Air. Hal ini pula yang membuat pihak Kementerian menggagas perlombaan menulis skenario bertajuk Sinema (Skenario Inspiratif Nasional untuk Merawat Asa).
Sebelum lomba dihelat, Kementerian menggelar diskusi bertajuk "Ngofi (Ngobrol Film): Tantangan dan Peluang Film Narasi Kepahlawanan” di Komplek Kemendikbudristek, Senayan, Jakarta pada 18 September 2025 lalu bersama sejumlah sineas, jurnalis, dan komunitas film.
Advertisement
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan untuk mendukung ekosistem perfilman Indonesia, yang sejauh ini masih sangat produktif. Kita sangat berterima kasih, terutama pada insan perfilman dan industri perfilman kita yang terus memproduksi film berkualitas,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon dilansir dari keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com baru-baru ini.
Dalam sambutannya di acara Ngofi, Fadli Zon juga mengungkap bahwa saat ini adalah momen yang tepat untuk menggelar lomba tersebut, karena berdekatan dengan HUT ke-80 Republik Indonesia, dan juga Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November mendatang.
Stimulus untuk Penulis Skenario
Kementerian Kebudayaan berharap Sinema bisa merupakan ruang kreatif bagi penulis skenario untuk merumuskan kembali makna kepahlawanan dengan cerita-cerita yang menginspirasi dan mencerdaskan.
“Kita ingin menjadikan kompetisi penulisan skenario film ini sebagai sebuah stimulus bagi masyarakat terutama penulis skenario atau masyarakat yang memiliki interest terhadap sejarah atau tokoh sejarah untuk menuangkan karyanya dalam skenario,” kata sang Menteri Kebudayaan.
Sejumlah masukan datang, termasuk penekaanan tentang perlunya kolaborasi erat antara para pembuat film dengan akademisi, psikolog, hingga komunitas. Begitu pula pengemasan film ini secara komersial, agar menjangkau audiens yang lebih luas dan berdampak lebih besar.
Sambutan Sineas
Dalam diskusi ini, hadir pula sejumlah sineas ternama Indonesia. Mereka adalah Celerina Judisari produser film-film seperti Soekarno: Indonesia Merdeka, Gundala, dan Kadet 1947; Rahabi Mandra selaku penulis dan sutradara Kadet 1947; serta sutradara Robby Ertanto.
Mereka menyambut baik lomba penulisan skenario ini. "Kita memang butuh penulis skeanario yang bagus, sejak bertahun-tahun lalu senior-senior saya bilang begitu," kata Rahabi Mandra.
Namun, pengerjaan film bertema sejarah kepahlawanan, ternyata memiliki tantangan tersendiri.
Soal Fakta Sejarah hingga Restu Keluarga
Salah satu tantangan yang perlu dihadapi materi sejarah Indonesia, yang bahkan tak berada di Tanah Air, melainkan di Belanda.
Sementara Rahabi menyorot soal bagaimana menyeimbangan soal proporsi fakta sejarah dengan dramatisasi maupun elemen fiksi yang diselipkan dalam plot cerita. Ada pula catatan soal reaksi keluarga mengenai penggambaran mengenai seorang tokoh dalam film.
"Setelah filmnya tayang, keluarga bisa bilang 'Kakek tidak seperti itu.' Ini bisa dipahami karena ada hubungannya dengan keluarga. Pihak keluarga bisa melihatnya sebagai sosok pahlawan yang baik, sempurna," ujar Rahabi Mandra.
Menanggapi hal ini, Fadli Zon menyebut pemerintah siap menjadi jembatan antara pihak keluarga dan sineas. "Perlu ada dialog dengan keluarga... kami bisa memfasilitasinya," kata Fadli Zon, ketika ditemui usai acara.