Liputan6.com, London - Kisah Cecil Chubb, pengacara kaya raya asal Inggris, kembali jadi sorotan publik. Bagaimana tidak, pria ini disebut awalnya hanya disuruh istrinya beli kursi makan, tapi malah pulang membawa Stonehenge, situs prasejarah paling terkenal di dunia.
Pada 21 September 1915, Cecil Chubb ikut lelang di Palace Theatre, Salisbury, Inggris. Awalnya ia sekadar mencari barang murah. Namun, semua berubah ketika juru lelang Howard Frank mengumumkan lot nomor 15: "Stonehenge dengan lahan sekitar 30 hektare."
Advertisement
Sulit dibayangkan, monumen prasejarah yang kini masuk Warisan Dunia UNESCO ternyata sempat dijual bebas. Lebih mengejutkan lagi, saat tawaran dibuka 5.000, tak ada satu pun yang menawar, dilansir dari History, Minggu (21/9/2025).
"Pasti ada yang mau memberi saya 5.000 pound sterling (Rp111 juta)," ujar Howard Frank saat suasana hening.
Ia bahkan menambahkan jika tidak ada yang menawar harga tinggi, akan tetap dilelang dengan harga 5.000 pound sterling.
Akhirnya tangan Chubb terangkat.
Ia menawar 6.600 pound sterling (setara lebih dari Rp19 miliar sekarang) dan resmi membawa pulang Stonehenge.
"Saat berada di ruangan itu, saya pikir seharusnya orang Salisbury yang membelinya. Jadi, saya lakukan," ujarnya kepada media lokal.
Monumen Terabaikan
Saat itu, Stonehenge memang butuh perawatan. Selama berabad-abad, pengunjung kerap mencungkil batu sebagai suvenir. Pada 1900, salah satu batu besar runtuh, bahkan beberapa harus disangga kayu. Baru pada era keluarga Antrobus, pemilik sebelumnya, situs ini dipagari dan mulai dipungut biaya masuk 1 shilling untuk biaya penjaga serta perbaikan.
Namun, setelah Sir Edmund Antrobus meninggal pada 1915, tak lama setelah putranya gugur di Perang Dunia I, Stonehenge akhirnya dilelang.
Hadiah untuk Rakyat
Meski sempat jadi pemilik pribadi, Chubb akhirnya memutuskan menghadiahkan Stonehenge kepada rakyat Inggris pada Oktober 1918.
Keputusan itu, konon, juga karena sang istri Mary kurang senang ia pulang tanpa kursi makan yang diminta.
Cecil Chubb menulis sebuah surat saat mengumumkan donasi Stonehenge kepada publik. Dalam surat itu ia menggambarkan betapa berharganya monumen tersebut baginya.
"Stonehenge adalah monumen nasional paling terkenal dan selalu memikat imajinasi orang Inggris. Saya tumbuh besar di dekatnya dan sering berkunjung di berbagai kondisi cuaca. Saya senang bisa memilikinya, tapi saya tahu bangsa ini akan lebih merawatnya," ujarnya dalam surat tersebut.
Sebagai balasan, pemerintah Inggris melakukan restorasi besar pada 1919. Bahkan hingga kini, upaya pemulihan lanskap Stonehenge terus dilakukan.
Atas jasanya, Chubb diberi gelar "First Baronet of Stonehenge," meski warga lokal lebih suka memanggilnya "Viscount Stonehenge."
Saat ia meninggal pada 1934, ia sudah mewariskan aturan bahwa warga sekitar berhak masuk gratis ke situs bersejarah ini. Hingga kini, sekitar 30 ribu orang setiap tahun bisa menikmati Stonehenge tanpa bayar, berkat keputusan impulsif sang pengacara 100 tahun lalu.