Liputan6.com, Beijing - Kisah seorang ayah di China yang rela membayar putrinya demi mendapat kabar harian selama kuliah menuai perbincangan luas. Cara unik ini bikin publik terbelah, antara kagum dan mengkritik gaya parenting-nya.
Seorang ayah bernama Cao Qianhong dari Xiantao, Provinsi Hubei, mengunggah video pada 6 September lalu tentang putrinya yang baru masuk kuliah, dilansir dari SCMP, Sabtu (20/9/2025).
Advertisement
Putri berusia 18 tahun itu kini menempuh pendidikan di Wuhan Donghu College.
Cao menawarkan kesepakatan kepada putrinya.
"Kamu akan memulai kehidupan kuliah. Aku akan transfer 500 yuan (Rp1,1 juta) tiga kali sebulan. Selain itu, di akhir bulan aku akan beri tambahan 500 yuan dengan syarat kamu mengirim setidaknya satu pesan setiap hari. Pesan apa saja, bisa video pendek, foto, atau bahkan koma, yang penting tetap menghubungi kami," ujarnya.
Ia mengaku khawatir karena selama ini anaknya jarang mengangkat telepon dan biasanya hanya menghubungi ketika butuh uang.
Dalam video yang viral itu, Cao menanyakan apakah putrinya setuju dengan aturan tersebut. Setelah sang anak mengangguk, keduanya saling kaitkan jari kelingking sebagai tanda janji.
Menuai Kritik Publik
Cao menuturkan bahwa putrinya yang pendiam itu baru pertama kali tinggal di kota asing, sehingga ia khawatir dengan kondisi anaknya. Ia bahkan berencana menempuh perjalanan 100 km dari Xiantao ke Wuhan untuk mengunjungi putrinya sebulan sekali.
Namun, ide itu tidak luput dari kritik. Profesor pendidikan Universitas Hubei, Ye Xianfa, menyebut cara tersebut salah.
"Dia sudah 18 tahun dan dewasa. Apakah kamu bisa merawatnya seumur hidup? Metode pengasuhanmu tidak benar, itu tidak bisa menumbuhkan kemandirian anak. Kamu sebenarnya mengontrol anak lewat uang," ujarnya.
Menanggapi kritik itu, Cao menegaskan tujuannya hanya untuk lebih sering berkomunikasi dengan sang anak.
"Saya tidak memberi tekanan padanya. Bahkan kalau dia lupa menghubungi, saya tetap akan memberikan bonus 500 yuan itu," katanya.
Publik pun terbelah. Seorang warganet menilai langkah itu justru bisa berdampak buruk.
"Itu membuat hubungan keluarga jadi tugas. Apakah anak akan berpikir kalau menghubungi keluarga hanya untuk mendapat uang?" tulisnya.
Namun, ada juga yang melihat sisi lain.
"Ayah itu sangat merindukan putrinya dan ingin tahu apakah ia hidup dengan baik," ujar warganet lainnya.