Modal Nekat, Pemuda Ini Sukses Jadi CEO Frozen Yogurt dan Punya 40 Toko di New York

Di usia 23 tahun, Neil Hershman nekat membeli toko frozen yogurt meski tanpa pengalaman sedikitpun. Kini, setelah 7 tahun, ia menjadi bos besar 16 Handles.

oleh Sekar FebrianiDiterbitkan 21 September 2025, 21:00 WIB
Gerai 16Handles (dok. Instagram@16handles/https://www.instagram.com/16handles//Sekar Febriani)

Liputan6.com, Jakarta Banyak orang menunda untuk memulai usaha karena merasa belum cukup berpengalaman. Namun, kisah Neil Hershman justru membuktikan hal sebaliknya. Saat berusia 23 tahun, ia berani membeli sebuah toko frozen yogurt 16 Handles, meski saat itu ia sama sekali tidak tahu cara menjalankan bisnis makanan ringan.

Ia menggunakan tabungan pribadi senilai USD 160 ribu serta pinjaman sekitar USD 400 ribu untuk mendanai pembelian itu.

Alih-alih membersihkan mesin yogurt atau menata ulang taburan permen warna-warni di meja topping, saat itu Hershman justru lebih akrab dengan layar Excel untuk membuat perencanaan keuangan. Demi menjalankan bisnis barunya, ia rela meninggalkan pekerjaannya di bidang manajemen aset tersebut.

Dikutip dari CNBC, di usianya yang menginjak 30 tahun Hershman telah menjadi CEO dari 16 Handles. Ia juga meniadi pemegang saham mayoritas sekaligus memiliki 6 toko yang ia jalankan sendiri. Menurutnya, kunci sukses bukanlah menunggu sampai benar-benar ahli, melainkan berani terjun langsung dan belajar dari setiap prosesnya.

“Banyak orang terlalu lama menjadi penonton, hanya karena ingin tahu segalanya sebelum terjun,” ujar Hershman kepada CNBC. 

 

Belajar dari Proses

Ilustrasi Miliarder atau Orang Terkaya. Foto: Freepik

Saat pertama kali mengelola toko di kawasan Murray Hill, Manhattan, Hershman memilih untuk turun tangan langsung. Ia bekerja di setiap shift, mendengarkan masukan dari karyawan, dan berbincang langsung dengan pelanggan.

Dari situlah ia memahami bagaimana bisnis ini bisa berjalan denga baik. Perjalanannya tentu tidak selalu mulus. Strategi promosi dan pemasaran yang dicoba seringkali harus mengalami kegagalan sebelum akhirnya berhasil.

“Rasanya proses ini seperti melempar cat ke dinding dan melihat bagian nama yang menempel,” ungkapnya.

Keputusan beraninya ini terbukti tepat. Sejak mengambil alih 16 Handles pada 2022, penjualannya selalu mengalami peningkatan lebih dari 10% tiap tahun. Pada 2024, brand yang kini memiliki 40 toko di New York itu sukses mencatat penjualan total sebesar USD 20,6 juta.

Ia menegaskan, seseorang tidak perlu menguasai semua hal sebelum memulai usaha. “Kadang kamu hanya perlu mencoba dulu, lalu belajar dalam prosesnya,” pesan Hershman.

Pengusaha Lain dengan Jejak Serupa

Ilustrasi Miliarder atau Orang Terkaya. Foto: Freepik

Hershman bukan satu-satunya pengusaha yang meninggalkan pekerjaan tetap demi mulai mengelola bisnis.

Charles Coristine, misalnya. CEO Lesser Evil ini dulunya bekerja sebagai trader saham di Morgan Stanley. Pada 2011, ia membeli perusahaan camilan yang nyaris bangkrut tanpa pernah berkecimpung di industri makanan. Bersama timnya, ia mengubah cara produksi dan memperbarui merek produknya. Usaha itu berbuah manis.

Menurut laporan The Wall Street Journal, ia berhasil menjual perusahaannya ke The Hershey Company dengan nilai sekitar USD 750 juta pada April lalu.

Kisah lain datang dari Gurmer Chopra. Saat tengah mempersiapkan ujian akuntansi, ia memutuskan untuk berhenti dan fokus pada bisnis jual beli streetwear. Dari sana, lahirlah merek fashion ternama YoungLA. Chopra mengaku belajar segalanya sembari terjun langsung, mulai dari produksi hingga strategi pemasaran.

“Kamu belajar banyak saat benar-benar menjalaninya,” ujar Chopra. “Proses itu membuatmu bukan hanya paham tentang dunia usaha, tapi juga membuatmu lebih memahami dirimu sendiri.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya