Cara Warga Kontribusi untuk Jakarta yang Lebih Baik dan Nyaman

Retribusi bukan hanya kewajiban, tetapi bentuk gotong royong bersama untuk membuat Jakarta lebih tertib dan nyaman.

oleh Gilar RamdhaniDiterbitkan 21 September 2025, 16:34 WIB
Eksistensi Pasar Modern Dongkrak Nilai Ekonomi Kawasan Hunian dan Aktivitas Lokal. foto: istimewa

Liputan6.com, Jakarta Retribusi sering kali luput dari perhatian, padahal instrumen ini memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan kota. Retribusi adalah iuran yang dibayarkan masyarakat atas pemanfaatan jasa atau fasilitas yang disediakan pemerintah daerah.

Contohnya retribusi parkir di tempat umum, retribusi pasar tradisional, atau retribusi terminal. Dana yang terkumpul dari iuran ini digunakan untuk menjaga serta meningkatkan kualitas layanan publik yang sehari-hari digunakan warga.

Di Jakarta, retribusi menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Artinya, setiap rupiah yang dibayarkan masyarakat akan kembali dalam bentuk layanan yang lebih baik. Jenis retribusi beragam, mulai dari jasa umum, jasa usaha, hingga perizinan tertentu. Misalnya, retribusi kebersihan, retribusi pelayanan pasar, hingga retribusi pelayanan terminal.

Kini, sistem pembayaran retribusi semakin modern. Masyarakat dapat membayar dengan mudah melalui kanal resmi Pemprov DKI, seperti Teller dan ATM Bank Jakarta, aplikasi pembayaran (Go-Tagihan, Shopee, Blibli, OVO, dan JakOne Mobile), kasir Indomaret dan Alfamart, hingga QRIS. Digitalisasi ini mempermudah warga sekaligus memastikan pengelolaan retribusi lebih transparan dan akuntabel.

Masyarakat Rasakan Langsung Manfaat Restribusi

Pengendara sepeda motor membayar biaya parkir saat akan keluar dari Park and Ride di kawasan Lebak Bulus, Jakarta. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Manfaat retribusi bisa langsung dirasakan masyarakat. Tanpa retribusi parkir, fasilitas parkir bisa terbengkalai. Jika retribusi pasar tidak dibayarkan, kebersihan dan kenyamanan pasar akan menurun. Dengan membayar retribusi, warga turut menjaga agar fasilitas publik tetap terawat dan berfungsi baik. Dengan kata lain, retribusi bukan hanya kewajiban, tetapi bentuk gotong royong bersama untuk membuat Jakarta lebih tertib dan nyaman.

Selain itu, retribusi menjadi penopang keberlanjutan pembangunan di berbagai sektor: mulai dari perbaikan infrastruktur, penyediaan ruang publik yang lebih layak, hingga layanan kebersihan kota. Dengan adanya retribusi, pembiayaan pembangunan tidak bertumpu pada satu sumber, melainkan terbagi lebih adil kepada semua pengguna fasilitas publik.

Pemudik membawa barang mereka seusai turun dari bus antarkota antarprovinsi (AKAP) di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Ke depan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen terus meningkatkan sistem retribusi agar lebih mudah, praktis, dan terpercaya. Partisipasi aktif masyarakat dalam membayar retribusi diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah dan warga. Dengan begitu, Jakarta bisa tumbuh sebagai kota modern yang berdaya saing tinggi, sekaligus tetap inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh warganya.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya