Ngotot Filosofi Bermain Tanpa Hasil? Ruben Amorim Harus Dengar Saran Jose Mourinho!

Jose Mourinho melontarkan kritik keras terhadap pelatih yang kaku. Dari Ruben Amorim hingga Pep Guardiola, mana yang lebih penting: filosofi atau hasil?

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 18 September 2025, 20:10 WIB
Ekspresi Ruben Amorim usai laga Manchester City vs Manchester United pada pekan ke-4 Premier League 2025/2026 - AP Photo/Dave Thompson

Liputan6.com, Jakarta Jose Mourinho baru-baru ini kembali melontarkan kritik pedas soal pelatih modern. Dalam wawancaranya dengan Canal 11, media milik Federasi Sepak Bola Portugal, ia menyindir banyak manajer yang lebih memilih untuk "mati demi ide" mereka, daripada beradaptasi demi meraih kemenangan.

Meskipun tidak menyebutkan nama, komentar Mourinho secara langsung mengingatkan pada sejumlah kasus yang terjadi di sepak bola Eropa. Ia melihat adanya perbedaan mencolok antara pelatih pragmatis yang mengutamakan trofi dengan pelatih "penyair" yang lebih fokus pada gaya permainan.

Pernyataan ini seolah mengulang kutipan terkenalnya pada 2017 setelah membawa Manchester United menjuarai Liga Europa. Kala itu, Mourinho menyebut ada banyak "penyair di sepak bola" yang permainannya indah, namun jarang mengangkat piala.

Fenomena ini menjadi semakin relevan dengan sorotan yang kini mengarah pada pelatih-pelatih seperti Ruben Amorim di Manchester United, Ange Postecoglou di Tottenham, dan Andrea Pirlo di Juventus. Dari sinilah, perdebatan tentang filosofi, hasil, dan fleksibilitas kembali muncul.


Mourinho: Kritik Terhadap Pelatih yang Mati Demi Ide

Pelatih Fenerbahce asal Portugal, Jose Mourinho, berdiri di lapangan sebelum pertandingan sepak bola Liga Super Turki antara Fenerbahce dan Galatasaray di Stadion Fenerbahce Sukru Saracoglu di Istanbul pada 21 September 2024. (Ozan KOSE/AFP)

Mourinho berpendapat bahwa era sepak bola modern terlalu mengagungkan filosofi dibandingkan hasil akhir. Dengan tegas ia menyatakan, "Kalau kamu mati karena ide, kamu bodoh." Baginya, kemenangan tetap menjadi tolak ukur utama, bukan sekadar cara bermain.

Komentarnya tersebut menyentil realitas di mana banyak pelatih bersikeras mempertahankan gaya main mereka meski tidak lagi efektif. Ruben Amorim, sebagai contoh, tetap teguh dengan sistem 3-4-3 di United meskipun timnya minim kemenangan. Begitu pula dengan Ange Postecoglou, yang menolak mengubah garis pertahanan tinggi Spurs meski taktik tersebut berulang kali membawa kerugian.

Andrea Pirlo bahkan pernah mengaku lebih suka kalah dengan 90 persen penguasaan bola ketimbang harus bertahan total. Di sisi lain, Russell Martin juga menegaskan bahwa ia rela dipecat asalkan tetap setia pada gaya mainnya. Semua contoh ini sesuai dengan apa yang Mourinho sebut "definisi kebodohan", meskipun mereka jelas bukan pelatih bodoh.


Filosofi vs Realita: Guardiola Hingga Postecoglou

Reaksi pelatih Manchester City, Pep Guardiola saat laga babak 16 besar Liga Champions 2022/2023 antara Manchester City melawan RB Leipzig di Stadion Etihad, Manchester pada 14 Maret 2023. Total pengeluarannya sebagai seorang pelatih mencapai angka 1,44 miliar euro untuk membeli pemain di bursa transfer. Jack Grealish menjadi pembelian termahal Guardiola setelah dibeli seharga 117,5 juta euro dari Aston Villa. (AFP/Oli Scarff)

Filosofi sepak bola memang bisa mendongkrak reputasi seorang pelatih. Pep Guardiola, misalnya, memperkenalkan pendekatan baru di Inggris sejak 2016. Kini, banyak tim di Premier League bahkan divisi di bawahnya mengadopsi gaya build-up dari belakang ala Manchester City.

Lanjut Baca:

Namun, bahkan Guardiola pun melakukan penyesuaian. Dalam periode sulit di Manchester City, ia tetap mempertahankan prinsip dasarnya, tetapi menambahkan unsur transisi dan fleksibilitas untuk menjaga hasil. Demikian pula dengan Postecoglou, yang awalnya kaku, akhirnya harus menjadi lebih pragmatis ketika ia membawa Spurs menjuarai Liga Europa. Pada kenyataannya, fleksibilitas adalah kunci. Luis Enrique sempat menerima banyak kritik karena filosofi ekstremnya di PSG, tetapi kegigihannya yang disertai sedikit modifikasi pada akhirnya membawa keberhasilan di musim lalu. Ini menunjukkan bahwa bahkan pelatih "penyair" pun bisa meraih kemenangan bila mereka tahu kapan harus beradaptasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya