Suku Bunga The Fed Turun Bakal Dongkrak Dana Asing ke Pasar Modal Indonesia

Analis menilai, pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (the Fed) akan menjadi katalis penting bagi pasar saham domestik.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 18 September 2025, 14:45 WIB
Layar komputer menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) memangkas suku bunga acuan 25 basis poin (bps) atau 0,25% pada Rabu, 17 September 2025 waktu setempat.

Terkait hal ini, Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa menilai, pemangkasan suku bunga oleh The Fed akan menjadi katalis penting bagi pasar saham domestik, terutama dalam mendorong aliran dana asing masuk ke Indonesia.

“Pemangkasan suku bunga oleh The Fed pasti berpotensi menjadi katalis kuat untuk IHSG ke depan. Ini bisa memberi ruang bagi BI untuk melanjutkan pelonggaran arah suku bunga. IHSG cenderung bullish terutama jika dibarengi sentimen-sentimen positif lainnya,” ujarnya kepada Liputan6.com, Kamis (18/9/2025).

Menurut Reydi, potensi arus modal asing akan semakin besar, mengingat Indonesia termasuk dalam kelompok negara emerging market yang menarik bagi investor global. 

"Aliran dana asing berpotensi masuk lebih besar, terutama ke negara emerging market seperti Indonesia. Investor asing akan mencari bursa saham dengan valuasi yang rendah yang bisa memberikan potensi imbal hasil lebih tinggi,” kata dia.

 

Berdampak terhadap Sektor Ini

Layar grafik pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ia menambahkan, masuknya dana asing juga akan menguntungkan sejumlah sektor sensitif suku bunga, seperti perbankan, properti, hingga konsumsi dan ritel. Penurunan biaya dana diperkirakan menebalkan margin bank dan meningkatkan penyaluran kredit. 

Di sisi lain, sektor properti diyakini dapat mendorong penjualan lebih besar karena kepercayaan masyarakat terhadap KPR meningkat. Sektor konsumsi dan ritel pun berpotensi meraup margin lebih besar seiring meningkatnya daya beli masyarakat.

 

BI Kembali Pangkas Suku Bunga Jadi 4,75 Persen pada September 2025

Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan penjelasan kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/6/2019). RDG Bank Indonesia 19-20 Juni 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI7DRR sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) resmi menurunkan suku bunga acuan menjadi 5 persen pada September 2025. BI menurunkan suku bunga (BI Rate) sebesar 25 basis poin dari level sebelumnya. Keputusan ini diambil usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16 - 17 September 2025.

"Berdasarkan assesment global dan nasional Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 16 - 17 September 2025 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers, Rabu (17/9/2025).

Bank Indonesia juga turut menurunkan suku bunga deposit facility sebesar 50 basis poin menjadi 3,75 persen. Serta, suku bunga lending facility turun 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Perry menegaskan keputusan ini diambil sejalan dengan semakin rendahnya perkiraan inflasi pada 2025 hingga 2026. Perry memprediksi inflasi masih berada pada kisaransasaran 2,5±1%, terjaganya stabilitas nilai tukar Rupiah, dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai kapasitas perekonomian.

 

 

Langkah BI

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo saat jumpa pers di Gedung BI, Jakarta, Jumat (29/06). Pada Rapat Dewan Gubernur BI suku bunga Deposit Facility (DF) juga naik 50 bps menjadi 4,50%, (Liputan6.com/Herman Zakharia)

"Ke depan Bank Indonesia akan terus mencermati prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi dalam memanfaatkan ruang penurunan suku bunga BI rate dengan mempertimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah," ujar Perry.

Sejalan dengan itu, ekspansi likuiditas moneter dan kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong kredit/pembiayaan, menurunkan suku bunga, dan meningkatkan likuiditas perbankan bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

"Kebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk turut menopang pertumbuhan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, dan penguatan daya tahan infrastruktur sistem pembayaran," ujarnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya