Liputan6.com, Jakarta Sinar matahari yang menghantarkan rasa panas pada tubuh, tidak menyurutkan langkah kaki Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, mendatangi Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah.
Dahulunya desa Ponggok menjadi salah satu desa tertinggal, namun kini telah berubah menjadi desa wisata.
Advertisement
Selepas mengunjungi kantor Desa Ponggok, Iftitah bersama rombongan mendatangi wisata air Umbul Ponggok.
Didampingi Kepala Desa, Iftitah melihat langsung kolam air yang jernih dan terdapat ikan berbagai ukuran.
“Memang sudah saya niatkan berbulan-bulan yang lalu, saya seperti para pengunjung Umbul Ponggok tadi yang juga datang ada yang dari Banten, ada yang dari Magelang, bahkan ada yang dari luar Jawa, itu mengetahui Ponggok ini dari media sosial,” ujar Iftitah, Rabu (17/9/2025).
Iftitah menelusuri setiap sudut Umbul Ponggok yang memiliki mata air dan menghasilkan air yang jernih. Iftitah tergerak karena mengetahui kepala desa mampu melihat potensi wilayahnya sekitar 77 hektar.
“Dari desa yang tadinya sangat miskin, ya tertinggal begitu, sekarang ini menjadi salah satu desa yang unggulan,” ucap dia.
Melihat Desa Bangkit
Iftitah mengagumi kembangkitan Desa Ponggok yang telah berubah menjadi daya tarik ekonomi dan para pendatang.
Secara tidak langsung, kembangkitan Desa Ponggok layaknya strategi di Kementerian Transmigrasi, yakni transmigrasi harus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baru.
“Maka yang terpenting adalah bagaimana melihat potensi masing-masing kawasan itu, ada magnetnya yang menciptakan produktivitas dalam bentuk barang dan jasa, juga ada aktivitas ekonomi lainnya,” jelas Iftitah.
Dia tampak sesekali berbicara dengan Kepala Desa Ponggok sambil mengelilingi Umbul Ponggok.
Iftitah mendengarkan setiap paparan yang disampaikan kepala desa, mulai dari pemetaan potensi ekonomi dan melibatkan kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta.
“Itu pun yang sekarang tahapan-tahapan itu sedang dilakukan Kementerian Transmigrasi di 154 kawasan transmigrasi. Kita mengirim 2.000 peneliti, kolaborasi dari tujuh perguruan tinggi terbaik Indonesia dengan 17 perguruan tinggi yang ada di daerah, tugasnya adalah itu, melakukan riset dan pemetaan potensi ekonomi,” terangnya.
Kepala Desa Punya Peran
Iftitah tampak sesekali melayani permintaan untuk swafoto bersama dengan pengunjung Umbul Ponggok. Disela kegiatan, dia mengagumi Desa Ponggok mencari emasnya dalam tanda kutip, keunggulan dari Desa Ponggok.
“Tadi saya dapat informasi dari Pak Kades, emas yang ada di Ponggok ini, itu adalah air yang bersih, yang deras, debitnya juga cukup tinggi, dan itulah yang dulu selama ini tertidur, tidak ditemukan oleh masyarakat Ponggok itu sendiri, sehingga menjadi desa yang tertinggal,” ungkap Iftitah.
Keberhasilan Desa Ponggok tidak terlepas dari kepemimpinan kepala desa dan dukungan kolaborasi berbagai pihak, Desa ponggok mampu bangkit dan menjadi desa wisata. Berkat sumber mata air yang dimiliki Desa Ponggok, mampu mengairi 50 hektar pertanian, dan mengairi lima kecamatan lainnya.
“Kemudian seperti yang baru kita saksikan sekarang ini adalah untuk perikanan, totalnya ada sekitar enam hektar, di sini ada dua hektare, dan yang lebih menarik lagi adalah, setiap sudut di desa ini, ada tersisa tanahnya dimanfaatkan untuk perikanan,” tutur Iftitah.
Padangan Iftitah seakan sulit berpaling melihat kolam ikan yang berjejer berisikan berbagai jenis ikan air tawar. Hal itu dikarenakan dalam satu kawasan mampu menghasilkan ikan sebanyak 20 ton dalam satu hari.
“Itu luar biasa sekali, dampaknya adalah tingkat kesejahteraan masyarakat pendapatannya meningkat. Dari yang tadinya Rp600 ribu per bulan, sekarang sudah lebih dari Rp2 juta per bulan,” tutur pria yang pernah berdinas di militer sekitar 20 tahun.
Pengaruhi BUMDes
Keberhasilan Desa Ponggok turut mempengaruhi BUMDes yang sebelumnya memiliki aset Rp100 juta, kini menjadi Rp 20 miliar.
“Nah inilah hal-hal yang kami katakan real dan konkret sekali, dan ingin kami pelajari lebih mendalam, untuk kami sebarkan juga di berbagai kawasan transmigrasi,” ujar Iftitah.
Kekaguman Iftitah terhadap Desa Ponggok dalam memperkenalkan destinasi wisata desanya, turut memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Desa Ponggok tidak hanya memanfaatkan media berita konvensional, namun memanfaatkan media sosial sehingga menjadi viral.
“Bagaimana untuk menjadi magnet, mendatangkan orang ke kawasan itu, ini yang sudah fenomena, sudah mengglobal sekarang ini adalah teknologi informasi, utamanya media sosial,” ucap Iftitah.
Apa yang dilakukan Desa Ponggok secara tidak langsung memiliki kesamaan dengan misi Kementerian Transmigrasi dalam pengembangan sebuah kawasan. Kementerian Transmigrasi tidak hanya ingin membangun, namun kawasan transmigrasi memiliki manfaat untuk masyarakat.
“Terutama yang ingin kami jadikan sebagai contoh itu sebetulnya sustainability nya, karena kita tidak ingin membangun, terus kemudian nanti tidak sustain begitu. Bagaimana manfaat untuk masyarakat banyaknya, itu yang lebih penting lagi,” tutup Iftitah.