Gelar Aksi Damai, Aliansi Perempuan Indonesia Minta Delpedro Cs Dibebaskan

Aksi tabur bunga menjadi simbol. Bunga-bunga berjatuhan di aspal jalan Sudirman, membentuk pesan “Bebaskan Kawan Kami.”

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 17 September 2025, 13:02 WIB
Puluhan perempuan yang mengatasnamakan Aliansi Perempuan Indonesia menggelar aksi damai di depan Gerbang Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Rabu (17/9/2026) (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Liputan6.com, Jakarta - Puluhan perempuan yang mengatasnamakan Aliansi Perempuan Indonesia menggelar aksi damai di depan Gerbang Polda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Rabu (17/9/2026). Mereka menuntut agar rekan-rekanya yang ditahan pasca kericuhan di Jakarta, segera dibebaskan.

Pantauan di lokasi, massa berkumpul membawa spanduk, dan poster. Aksi tabur bunga menjadi simbol. Bunga-bunga berjatuhan di aspal jalan Sudirman, membentuk pesan “Bebaskan Kawan Kami.” Orasi bergantian dilontarkan dengan suara lantang.

Juru Bicara Aliansi Perempuan Indonesia, Mutiara Eka Pratiwi menerangkan, tabur bunga ini adalah bentuk penegasan bahwa aksi protes tidak bisa disamakan dengan makar atau terorisme.

"Kami ingin menyampaikan bahwa aksi-aksi yang dilakukan oleh kawan-kawan kami di dalam itu adalah sebuah aksi yang merupakan bentuk kepedulian sebagai warga negara atas berbagai kerusakan, kemiskinan, kekerasan yang terjadi dan itu tidak pernah diusut tuntas," ucap dia kepada wartawan, Rabu (17/9/2025).

Mutiara pun meminta Presiden Prabowo Subianto tidak lagi melabeli aksi demonstrasi sebagai makar, serta menarik mundur keterlibatan TNI dalam pengamanan aksi masyarakat sipil.

"Fokus tunturan kami adalah Presiden segera membebaskan seluruh aktivis dan demonstran yang ditangkap, tidak hanya tanpa syarat, tidak hanya di Polda, tapi juga di berbagai wilayah yang ada di Indonesia saat ini," ucap dia.

 

Tertib

Aksi ini tetap berjalan tertib. Polisi tampak berjaga di sekitar lokasi untuk mengamankan jalannya unjuk rasa. Aliansi bersama koalisi masyarakat sipil juga berencana menjenguk Delpedro Marhaen, Direktur Lokataru Foundation, yang ditahan sejak 1 September.

"Kami juga melihat yang miris koalisi dalam tahanan yang sebenarnya itu tidak manusiawi, bagaimana kawan-kawan tidak diinformasikan secara penuh tentang kenapa mereka ditangkap, kemudian juga tidak diberikan akses terhadap alat tulis, kemudian juga sangat dibatasi untuk menjenguk siapa yang bisa menjenguk," ucap dia.

"Nah ini merupakan sebuah realita yang sangat miris sekali, karena mereka justru adalah kawan-kawan yang harus kita hargai, apresiasi, karena keberaniannya turun terjalan," dia menandaskan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya