PM Baru Nepal Bertekad Menjawab Aspirasi Gen Z: Dari Anti Korupsi hingga Kesetaraan Ekonomi

Karki dilantik dalam sebuah upacara sederhana. Sosoknya, yang dikenal tegas melawan korupsi, diusung oleh Gen Z.

oleh Khairisa FeridaDiperbarui 15 September 2025, 08:06 WIB
Mantan Ketua Mahkamah Agung, Sushila Karki, menghadiri upacara pelantikannya sebagai perdana menteri sementara di kediaman presiden di Kathmandu, Nepal, Jumat (12/9/2025). (Dok. AP Photo/Sujan Gurung)  

Liputan6.com, Kathmandu - Pada Minggu (14/9/2025), suasana di Kathmandu masih tegang ketika Sushila Karki untuk pertama kalinya muncul sebagai perdana menteri interim Nepal. Mantan ketua mahkamah agung berusia 73 tahun itu tidak datang dengan ambisi pribadi, melainkan karena desakan jalanan—tekanan generasi muda yang selama berhari-hari memenuhi kota dengan tuntutan mereka.

"Kita harus bekerja sesuai dengan pemikiran Gen Z," kata Karki, dalam pernyataan publik pertamanya sejak menjabat pada Jumat (12/9).

"Apa yang kelompok ini tuntut adalah diakhirinya korupsi, tata kelola yang baik, dan kesetaraan ekonomi. Anda dan saya harus bertekad untuk mewujudkannya."

Hari itu, di kompleks pemerintahan Singha Durbar—beberapa gedungnya masih menyisakan bekas kebakaran akibat amukan massa—Karki berdiri sejenak, mengheningkan cipta untuk puluhan korban jiwa.

Data terbaru pemerintah pada Minggu menyebut total 72 orang tewas dan 191 lainnya terluka dalam demo Gen Z. Itu menjadi tragedi terburuk sejak berakhirnya perang saudara selama satu dekade dan penghapusan monarki pada 2008.

Transisi Kepemimpinan

Sushila Karki (kanan) resmi dilantik sebagai perdana menteri sementara Nepal oleh Presiden Ram Chandra Poudel (tengah) di Kathmandu, Jumat (12/9/2025). Dia menjadi perempuan pertama yang menjabat posisi tersebut setelah runtuhnya pemerintahan akibat gelombang protes. (Dok. Kantor Kepresidenan Nepal via AP)

Pengangkatan Karki bukanlah keputusan mudah. Negosiasi panjang melibatkan Presiden Ram Chandra Poudel dan Kepala Staf Angkatan Darat Nepal Jenderal Ashok Raj Sigdel, yang berusaha meredam krisis politik sekaligus memberi jalan pada aspirasi generasi baru.

"Situasi yang saya masuki ini bukanlah sesuatu yang saya harapkan. Nama saya dibawa dari jalanan," ungkap Karki.

Tidak lama setelah dia dilantik, parlemen dibubarkan dan pemilu dijadwalkan pada 5 Maret 2026.

"Kami tidak akan bertahan di sini lebih dari enam bulan dalam situasi apa pun, kami akan menyelesaikan tanggung jawab kami dan berjanji untuk menyerahkan kepada parlemen dan menteri berikutnya," tambahnya dalam pidato kenegaraan.

"Hal ini tidak mungkin terwujud tanpa dukungan Anda."

Di luar gedung, pekerja sibuk memasang papan nama baru untuk kantor perdana menteri. Simbol kecil bahwa sebuah babak baru tengah dimulai di Nepal.

Pada Sabtu (13/9) malam, Poudel yang melantik Karki mengatakan bahwa sebuah solusi damai akhirnya ditemukan melalui proses yang sulit. Dia menyebut situasi di negara Himalaya berpenduduk 30 juta jiwa itu sangat sulit, rumit, dan genting.

"Saya dengan tulus mengimbau semua orang untuk memanfaatkan kesempatan ini ... dalam menyukseskan pemilu pada 5 Maret," ujarnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya