Sai Kung, Kampungnya Bule di Hong Kong

Di Jakarta Jalan Jaksa dikenal sebagai tempat tinggalnya para bule, di Hongkong, daerah yang populer dengan ekspatriatnya adalah Sai Kung.

oleh Liputan6Diterbitkan 18 Juni 2013, 12:16 WIB
Citizen6, Hongkong: Kalau di Jakarta kita mengenal Jalan Jaksa sebagai tempat tinggalnya para bule, di Hongkong ada salah satu daerah yang populer dengan kaum ekspatriatnya, yaitu Sai Kung.

Sai Kung merupakan salah satu distrik dari New Teritories Hongkong. Sai Kung Town adalah pusat dari desa-desa sekitarnya, yang nama-nama dari desa tersebut merujuk ke daerah-daerah di sekitarnya. Misalnya Mau Ping New Village, Po Lo Ce, Pakong Au New Village, Nam Shan Villeagr, Fisherman Village, dan lain sebagainya.

Berdasarkan sejarah, sebelum relokasi bandara Hongkong dari Kai Tak ke Chek Lap Kok, Sai Kung Town merupakan daerah perumahan popular untuk para staff bandara seluruh dunia, sedangkan penduduk aslinya yang tinggal di desa-desa kebanyakan bermatapencaharian sebagai nelayan. Tak heran jika di Sai Kung Town terdapat pelabuhan yang bernama Sai Kung Pier.

Menjelang weekend, pengunjung banyak yang memadati lokasi ini. Transaksi jual beli hasil laut dapat disaksikan di pinggir Sai Kung Pier saat menjelang sore.

Di sekitar Sai Kung Pier terdapat pula restoran-restoran seafood dengan harga yang fantastis. Jangan kaget jika harga 1 ikan segar harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Bagi Anda penyuka lobster, di tempat ini 0,5 kg lobster harganya mencapai 800 dolar Hongkong.

Akhir-akhir ini Sai Kung juga mendapat julukan sebagai kampungya para bule (Western Peoples). Di sana dapat disaksikan 2/3 penduduk Sai Kung adalah para bule yang berkeliaran di mana-mana. Ada yang dari Finland, German, Holand, Australia, USA, French, Britisg, dan sebagainya.

Ketika pagi dan sore hari, bisa melihat mereka melakukan joging atau hiking ke bukit-bukt sekitar Sai Kung. Mereka pun juga sudah sangat membaur dengan para penduduk pribumi yang tinggal di sekitar lokasi tersebut. Banyak dari mereka bahkan ada yang fasih berbahasa Cantonise.

Tatkala ditanya mengapa mereka lebih memilh Sai Kung sebagai tempat tinggal dibandingkan memilih tempat-tempat seperti Central, Cause Way Bay, Happy Valley, Tsim Tsa tsui, Mongkok, dan lain sebagainya, jawaban mereka karena Sai Kung masih asri, alami, dan tidak terjamah arus modernisasi. Mereka bosan dengan gedung-gedung pencakar langit dan hiruk pikuk kota metropolitan.

Di Sai Kung, mereka pun bisa bebas berselancar dan sailing layaknya di negara mereka sendiri. Untuk tempat tinggal, Sai Kung adalah tempat tinggal terbaik bagi mereka yang ingin melepas lelah sepulang dari kerja. Karena memang kebanyakan dari mereka bekerja sebagai pilot pesawat maskapai penerbangan di Hongkong.

Untuk alat transformasi di Sai Kung hanya ada bus, mini bus, dan taxi. Sedangkan kapal ferry hanyalah transpotasi bagi para pelancong yang ingin berkeliling ke pulau-pulau disekitar Sai Kung. Di sini juga tidak ada jalur yang bisa ditempuh oleh Mass Rapid Transit Railway (MTR) atau KCR layaknya di kota-kota Hongkong lainnya.

Jalur MTR yang terdekat dari Sai Kung hanyalah MTR Hang Hau, TseungKwanb O, dan Choi Hung dengan jarak perjalanan lebih dari 30 menit jarak tempuh bus.

Jangan ditanya harga barang-barang di Sai Kung. Karena penduduk Sai Kung kebanyakan para bule, maka harga-harga pun dalam ukuran harga beli western peoples. Seperti produk-produk kayu, anyaman bambu, kerajnan alumunium dijual dengan harga yang sangat fantastis.

"Saya sempat bengong ketika orang Finlandia membeli kaleng kerupuk bertuliskan NILAM SARI made in Indonesia dengan harga jual  478 dolar Hongkong per piece."

Alam Sai kung yang masih asri, udara yang sejuk, pemandangan yang indah mengingatkan akan keindahan sebuah perkampungan yang asri di Indonesia. Tapi sayangnya, bagi warga Indonesia, terutama yang bekerja sebagai domestic helper justru tidak menyukai Sai kung sebagai tempat mencari pekerjaan. Mereka lebih menyukai  kota-kota besar seperti Cause Way, bay, Wan Chai,Central, dan sebagainya sebagai tempat mengais rezeki.

"Ngapain jauh-jauh datang bekerja di Hongkong tetapi harus tinggal lagi disebuah kampung? Sama saja tinggal di kampung halaman sendiri," katanya.

Sai Kung memang perkampungan elite, namun jika dibandingkan dengan kampung di Indonesia, keadaan Kota Sai Kung ibarat sebuah kota kabupaten yang masih asri seperti Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, tanpa gedung-gedung pencakar langit, lengkap dengan sarana hidup seperti kolam renang, golf, supermarket, perpustakaan, sekolah yang disertai alam pegunungan yang masih asri.

Sangat wajar jika alam Sai Kung menarik warga asing yang menjadikannya sebagai tempat tinggalnya. Maka jadilah Sai Kung sebagai salah satu kampungnya para bule di Hongkong. (Andrealica Nhordeeniz/Mar)

Andrealica Nhordeeniz adalah pewarta warga yang tinggal di Hongkong

Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke citizen6@liputan6.com.




POPULER

Berita Terkini Selengkapnya