Sejumlah alat untuk berburu dan meramu, di antaranya alat tulang berupa jarum dan korek api tradisional ditemukan Balai Arkeologi (Balar) Jayapura di Distrik Mamberamo Tengah, Kabupaten Mamberamo Raya, Papua.
"Dalam penelitian di Distrik Mamberamo Tengah, Balai Arkeologi Jayapura menemukan 2 alat untuk berburu dan meramu tradisional yakni alat tulang berbentuk jarum dan korek api tradisional, pekan lalu," kata ketua tim peneliti Balai Arkeologi Jayapura, Hari Suroto, Selasa (17/6/2013).
Ia menjelaskan alat tulang berupa jarum yang ditemukan itu berfungsi untuk melubangi kulit kayu dan juga berfungsi untuk merajut serat kulit kayu genemo menjadi noken atau tas tradisional masyarakat Papua.
"Alat tulang menyerupai atau seperti bentuk jarum ini berbahan tulang kuskus dan tulang burung kasuari," jelas Hari.
Dalam penelitian tersebut, alumni Universitas Udayana Bali itu mengungkapkan, pihaknya juga menemukan korek api tradisional berbahan batu, bulu kering dari nibung dan bambu.
"Cara kerja korek api tradisional ini yaitu batu yang dilapisi bulu nibung digesek dengan kecepatan tinggi pada bambu kering. Panas yang ditimbulkan pada batu, kemudian membakar bulu nibung dan dengan beberapa tiupan saja api sudah dapat menyala," imbuh Hari.
Ia menambahkan, survei permukaan tanah di sekitar Distrik Mamberamo Tengah juga didapatkan cangkang moluska laut famili Trochidae, Veneridae dan Cypraeidae. Padahal, jarak antara Distrik Mamberamo Tengah dengan laut sekitar 160 kilometer.
"Temuan cangkang moluska laut di Mamberamo Tengah, ini menggambarkan bahwa pada masa lalu, moluska laut telah dikonsumsi masyarakat setempat. Keberadaan moluska tersebut menggambarkan daya jelajah berburu dan meramu makanan masyarakat Mamberamo Raya mencapai ratusan kilometer dan telah menjangkau pesisir laut," ujar Hari.
Ia menegaskan penemuan tersebut merupakan penelitian awal dari Balai Arkeologi Jayapura yang selanjutnya akan terus dikembangkan. (Ant/Adi/Mut)
"Dalam penelitian di Distrik Mamberamo Tengah, Balai Arkeologi Jayapura menemukan 2 alat untuk berburu dan meramu tradisional yakni alat tulang berbentuk jarum dan korek api tradisional, pekan lalu," kata ketua tim peneliti Balai Arkeologi Jayapura, Hari Suroto, Selasa (17/6/2013).
Ia menjelaskan alat tulang berupa jarum yang ditemukan itu berfungsi untuk melubangi kulit kayu dan juga berfungsi untuk merajut serat kulit kayu genemo menjadi noken atau tas tradisional masyarakat Papua.
"Alat tulang menyerupai atau seperti bentuk jarum ini berbahan tulang kuskus dan tulang burung kasuari," jelas Hari.
Dalam penelitian tersebut, alumni Universitas Udayana Bali itu mengungkapkan, pihaknya juga menemukan korek api tradisional berbahan batu, bulu kering dari nibung dan bambu.
"Cara kerja korek api tradisional ini yaitu batu yang dilapisi bulu nibung digesek dengan kecepatan tinggi pada bambu kering. Panas yang ditimbulkan pada batu, kemudian membakar bulu nibung dan dengan beberapa tiupan saja api sudah dapat menyala," imbuh Hari.
Ia menambahkan, survei permukaan tanah di sekitar Distrik Mamberamo Tengah juga didapatkan cangkang moluska laut famili Trochidae, Veneridae dan Cypraeidae. Padahal, jarak antara Distrik Mamberamo Tengah dengan laut sekitar 160 kilometer.
"Temuan cangkang moluska laut di Mamberamo Tengah, ini menggambarkan bahwa pada masa lalu, moluska laut telah dikonsumsi masyarakat setempat. Keberadaan moluska tersebut menggambarkan daya jelajah berburu dan meramu makanan masyarakat Mamberamo Raya mencapai ratusan kilometer dan telah menjangkau pesisir laut," ujar Hari.
Ia menegaskan penemuan tersebut merupakan penelitian awal dari Balai Arkeologi Jayapura yang selanjutnya akan terus dikembangkan. (Ant/Adi/Mut)