Lika-Liku Pilu Pemain Lokal Premier League: Tradisi yang Terancam Punah

/Jumlah pemain lokal di Premier League terus menyusut, dari 6,5 per tim pada 1995 jadi hanya 2,7 musim ini. Apa penyebabnya dan mengapa ini jadi masalah besar?

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 12 September 2025, 09:55 WIB
Gelandang Manchester City asal Inggris #47, Phil Foden, dibantu berdiri dalam pertandingan Premier League antara Manchester City dan Tottenham Hotspur di Stadion Etihad, Manchester, Inggris barat laut, pada 23 Agustus 2025. Manchester City kalah 2-0 dalam pertandingan tersebut. (Darren Staples/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Sepakbola Inggris dulu selalu punya satu benang merah: Kebanggaan pada pemain lokal. Dari sorakan “he’s one of our own” di tribun hingga kisah sukses akademi, pemain lokal dianggap simbol identitas klub. Namun, pemandangan itu kini semakin jarang terlihat di Premier League.

Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pemain lokal di liga teratas Inggris kian merosot drastis. Jika pada pertengahan 1990-an setiap klub rata-rata punya lebih dari enam pemain lokal, kini angkanya hanya tinggal 2,7 per tim. Beberapa klub bahkan tidak memiliki satupun wakil dari daerah mereka sendiri.

Fenomena ini dipicu banyak faktor, mulai dari regulasi Bosman, aturan profit and sustainability (PSR), hingga strategi akademi klub yang semakin global. Semua membuat kesempatan pemain lokal untuk bertahan di tim utama kian menyempit.

Pertanyaannya, apakah Premier League sedang kehilangan identitas lokalnya? Atau sepakbola modern memang sudah tidak lagi memberi ruang pada faktor kebanggaan komunitas?


Pemain Lokal yang Kian Menghilang

Gelandang Real Madrid, Jude Bellingham, saat laga leg kedua babak 16 besar Liga Champions melawan Atletico di Civitas Metropolitano, Kamis dini hari WIB (13-3-2025). (Bola.com/X @realmadriden)

Jurgen Klopp pernah menyebut ingin meraih trofi bersama “tim penuh Scousers”, sementara Eddie Howe menilai Geordies di timnya membawa sesuatu yang spesial. Namun, narasi romantis semacam itu semakin sulit diwujudkan.

Pada derby Manchester akhir pekan ini, City masih bisa menurunkan Phil Foden, Nico O’Reilly, atau Rico Lewis. Sebaliknya, United kemungkinan besar tak punya satupun pemain Mancunian di starting XI.

Contoh lain lebih ekstrem lagi. Aston Villa, Leeds United, Wolves, dan Burnley kini tidak memiliki satupun pemain lokal di tim utama mereka. Villa bahkan harus melepas Jacob Ramsey ke Newcastle karena tuntutan PSR, sementara Leeds kehilangan Archie Gray yang dijual ke Tottenham. Situasi serupa terjadi di klub-klub tradisional lain yang dulunya selalu punya ikon lokal.

Jika dibandingkan dengan tiga dekade lalu, jurangnya begitu lebar. Musim 1995-96, rata-rata tiap klub punya 6,5 pemain lokal. Wimbledon bahkan memiliki 16 pemain asal London dalam skuadnya. Kini, angka itu terjun bebas jadi hanya 2,7 pemain per tim.


Bosman, PSR, dan Efeknya pada Identitas Klub

Penampilan Harry Maguire saat Manchester United bertandang ke markas Aston Villa, Senin (12/2/2024) dini hari WIB mendapatkan pujian (AFP/Paul Ellis)

Turunnya jumlah pemain lokal tak lepas dari putusan Bosman tahun 1995. Regulasi itu menghapus batas kuota pemain Eropa, membuka pintu lebar-lebar untuk impor talenta asing. Momentum ini bertepatan dengan masuknya dana besar dari hak siar televisi, membuat klub semakin agresif membeli pemain dari luar.

Lanjut Baca:

UEFA sempat mencoba menahan laju dengan aturan homegrown pada 2006, yang kemudian diikuti Premier League pada 2010. Namun, aturan ini hanya mengatur jumlah pemain yang dididik di akademi domestik, bukan pemain asli daerah. Akibatnya, klub tetap bisa mematuhi regulasi tanpa harus mempertahankan pemain lokal. Dalam beberapa musim terakhir, tekanan PSR menambah rumit situasi. Pemain lokal yang datang dari akademi tidak membutuhkan biaya transfer, sehingga penjualannya bisa dicatat sebagai “laba bersih”. Inilah yang membuat Conor Gallagher, Elliot Anderson, hingga Jacob Ramsey harus rela meninggalkan klub masa kecil mereka demi neraca keuangan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya