Jack Grealish dan Kreasi 4 Assist: Kebetulan Statistik atau Kebangkitan Sang Playmaker?

/Jack Grealish tampil gemilang di awal musim bersama Everton dengan torehan empat asis. Apakah ini tanda kebangkitan kariernya setelah meredup di Manchester City?

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 12 September 2025, 09:53 WIB
Jack Grealish dari Everton meninggalkan lapangan saat digantikan dalam laga Premier League antara Everton dan Brighton di Liverpool, Inggris, Minggu, 24 Agustus 2025. (AP Photo/Jon Super)

Liputan6.com, Jakarta Jack Grealish menikmati awal yang berbeda dalam kariernya musim ini. Jika sebelumnya ia kerap absen membela timnas Inggris dan kesulitan menembus performa puncak di Manchester City, kini kiprahnya bersama Everton menarik perhatian.

Dalam dua laga Premier League, Grealish sudah mengoleksi empat asis. Angka itu bahkan dua kali lipat dari total kontribusinya dalam dua musim terakhir di City. Perubahan ini menimbulkan pertanyaan: sekadar kebetulan statistik, atau benar-benar kebangkitan?

David Moyes menepis pujian yang diarahkan kepadanya, dengan menekankan bahwa semua ini lahir dari mentalitas Grealish sendiri. Manajer Everton hanya memberi ruang, sedangkan pemain 30 tahun itu yang membuktikan diri di lapangan.

Kini, publik menantikan apakah performa impresif ini sekadar awalan manis atau benar-benar sinyal kembalinya Grealish ke level terbaik, sebagaimana ketika ia menjadi bintang utama Aston Villa.


Konsistensi Statistik dan Kreativitas Grealish

Pemain Everton, Jack Grealish, beraksi dalam laga Liga Premier antara Everton dan Brighton di Liverpool, Inggris, Minggu, 24 Agustus 2025. (AP Photo/Jon Super)

Performa Grealish kerap disalahpahami ketika hanya dilihat dari jumlah asis. Selama di City, ia sering dianggap menurun drastis karena catatan kontribusinya tidak mencolok. Padahal, data expected assists (xA) menunjukkan konsistensi kreativitasnya tetap tinggi.

Dalam wawancara pada 2022, Grealish mengungkap bahwa staf analisis City selalu menekankan pentingnya xA. Menurutnya, kreativitas bukan hanya soal asis nyata, melainkan peluang berkualitas yang ia ciptakan. Fakta ini didukung statistik, di mana ia sempat masuk lima besar pemain dengan xA tertinggi di Premier League musim 2021/22.

Perbandingan ini menegaskan bahwa penurunan produktivitas Grealish bukan semata karena kualitasnya merosot, melainkan lebih karena faktor eksekusi peluang dari rekan setim. Kini, dengan Everton, angka-angka itu mulai terealisasi nyata lewat asis konkret.


Perbedaan Gaya Main Guardiola dan Moyes

Gelandang Manchester City, Jack Grealish, merayakan gol ke gawang Manchester United pada pertandingan pekan ke-20 Premier League 2022/2023 di Old Trafford, Sabtu (14/1/2022). (AFP/Oli Scarff)

Salah satu alasan utama mengapa Grealish tampak hidup kembali adalah perbedaan filosofi antara Pep Guardiola dan David Moyes. Guardiola mengedepankan penguasaan bola serta kontrol ruang sempit, membuat Grealish lebih sering bermain aman dengan umpan ke belakang.

Di City, ia kerap terjebak dalam situasi satu lawan dua tanpa opsi pergerakan di sekelilingnya. Struktur tim yang disiplin membuat kreativitas individualnya terbatas, meski secara taktik ia menjalankan instruksi dengan baik.

Lanjut Baca:

Berbanding terbalik, Moyes lebih senang membangun permainan dari transisi. Everton menutup ruang di tengah saat bertahan, lalu melepaskan Grealish untuk mengeksploitasi ruang ketika bola direbut. Di sinilah kebebasan Grealish tampak jelas, karena ia diperbolehkan mengambil risiko yang dulu tak sejalan dengan filosofi Guardiola.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya