Liputan6.com, Jakarta Dugaan praktik pembalakan liar atau illegal logging di Blok Cangkuang, kawasan Gunung Salak, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, disebut telah berlangsung lebih dari dua tahun.
Praktik ini diduga terjadi tanpa pengawasan yang ketat. Padahal, Blok Cangkuang adalah area vital sebagai daerah resapan air dan hulu sungai yang mengalir ke wilayah Cidahu dan Parungkuda.
Advertisement
Akibatnya, warga kini menghadapi ancaman bencana. Banjir yang berulang kali melanda kawasan ini diduga kuat karena kemampuan hutan dalam menyerap air sudah jauh menurun.
"Ini berdampak pada berkurangnya kemampuan hutan menyerap air hujan, memperbesar risiko banjir bandang dan tanah longsor di kawasan lereng Gunung Salak," ujar Rozak Daud, tim advokasi Warga Cidahu, Kamis (11/09/2025).
Rozak mencontohkan, bencana banjir bandang sempat terjadi pada 2022, kemudian beberapa kali banjir kecil kembali melanda. Terakhir, pada awal Agustus 2025, banjir kembali dirasakan masyarakat.
"Harusnya ini jadi perhatian serius. Buktinya bencana sudah berulang kali terjadi," ujarnya.
Ekosistem dan Satwa Liar Terancam
Selain risiko bencana hidrologis, Rozak juga menyebut pembalakan liar ini merusak kualitas udara dan keseimbangan ekologi.
Pohon-pohon besar yang berfungsi menyerap karbon banyak hilang, sementara spesies tumbuhan dan satwa liar kehilangan habitatnya.
"Ekosistem hutan terganggu. Satwa-satwa liar seperti burung, elang jawa, kancil hingga macan tutul jawa terancam kehilangan tempat tinggal dan sumber pangan," jelasnya.
Rozak juga menyoroti komitmen Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang selama ini dikenal konsisten memperjuangkan penyelamatan hutan. Menurutnya, kasus di Gunung Salak ini harus menjadi ujian nyata.
"Ini ujian untuk Gubernur Jabar yang selama ini konsisten dalam upaya penyelamatan lingkungan. Tentu masyarakat berharap aktivitas ini segera dihentikan," ungkapnya.
Menurut laporan warga, aktivitas penebangan bahkan dilakukan secara terang-terangan.
"Harusnya fungsi pengawasan berjalan. Tapi ini sudah lama terjadi. Bahkan ada laporan warga yang melihat para pelaku membawa alat pemotong kayu ke atas dengan bebas," ucapnya.
Kini, warga Cidahu yang berada di lereng Gunung Salak mulai bersuara. Mereka berencana menggelar aksi ke kantor TNGHS maupun pemerintah daerah untuk mendesak penghentian aktivitas pembalakan liar.
"Jelas-jelas ini sudah berdampak pada warga. Jika dibiarkan, maka kami yang akan bergerak sendiri melawan illegal logging," tuturnya.