Cerita Nelangsa Warga di Kaltim: Rumahnya Hilang Ditelan Bumi, Solusinya Cuma Janji-Janji

Wati (30), seorang warga mengaku rumah yang sudah ditinggalinya 30 tahun lenyap bak ditelan bumi. Bagian utama rumahnya hilang, tersisa teras dan dapur, sisanya masuk terperosok ke tanah sedalam 8 meter.

oleh Abdul JalilDiperbarui 09 September 2025, 14:20 WIB
Wati (30), seorang warga mengaku rumah yang sudah ditinggalinya 30 tahun lenyap bak ditelan bumi. Bagian utama rumahnya hilang, tersisa teras dan dapur, sisanya masuk terperosok ke tanah sedalam 8 meter. (Liputan6.com/ Abdul Jalil)

Liputan6.com, Kutai Kartanegara - Bencana tanah bergerak menelan sejumlah rumah warga yang ada di Kilometer 28, Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. 

Seorang warga atas nama Wati (30) mengaku rumah yang sudah ditinggalinya 30 tahun lenyap bak ditelan bumi. Kini, bagian utama rumahnya sudah tak ada lagi, hanya teras dan dapur yang masih berdiri pada posisi aslinya, sisanya terperosok turun sedalam hampir 8 meter.

"Di sini kan rata, bukan perbukitan. Ini teras saya, di sana dapur saya," kata Wati sambil menunjuk sisa bangunan rumahnya, Selasa (9/9/2025).

Pernyataan itu seakan menegaskan kebingungan ibu yang sehari-hari juga berkebun ini. Kawasan datar, ternyata bukan aman dari tanah ambruk, dalam pula. Kehilangan rumah, tempat berteduh setelah puluhan tahun tinggal di tanah yang mereka yakini aman dari bahaya. Namun, tanah yang diam-diam bergeser justru mematahkan keyakinan itu.

Wati masih ingat betul, awal tahun lalu dia merasakan tanah di sekitar rumahnya mulai bergerak. Retakan muncul di lantai.

"Kalau kejadiannya mulai Januari, geser sedikit demi sedikit. Mulai berhenti setelah dua bulan. Bulan 5 di situ sudah puncaknya," ujarnya.

Kekhawatiran itu membuatnya mengemasi barang-barang seadanya, hanya beberapa meter dari teras rumah. Satu per satu dipindahkan ke sebuah tempat yang dianggapnya aman itu. Tempat itu pula yang menjadi awal Wati sekeluarga menginap setelah kejadian.

"Awalnya sempat khawatir, jadi kita angkat sedikit-sedikit, taruh di tenda sini. Belum sempat ambil semua, sudah amblas," ceritanya.

Sejak rumahnya amblas, Wati bersama keluarganya hidup di pengungsian. Awalnya mereka tinggal di tenda darurat. Setelah beberapa minggu, ia menumpang di rumah seorang warga bernama Haji Asnawati.

"Alhamdulillah ada yang kasih tumpangan walaupun ukurannya hanya 3 kali 5 meter. Tinggal berlima. Tapi kita bersyukur sekali dikasih tumpangan. Seandainya tidak ada yang kasih, kami masih di posko (tenda), pak," tuturnya lirih.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Wati bergantung dari hasil kebun seadanya. Meski tidak pasti, menunggu masa panen, namun dia tetap berharap pada mata pencaharian itu.

"Berkebun aja pak. Bukan penghasilan tiap hari. Itu pun kalau berbuah," ujarnya.

 

Bantuan Datang, Solusi Tak Jelas

Sejumlah bantuan memang berdatangan. Mulai dari sembako hingga logistik kebutuhan dasar. Namun bagi Wati, bantuan itu tidak cukup.

"Banyak bantuan, tapi berupa sembako. Tidak memberikan solusi sama sekali," katanya.

Selain itu, berbagai pejabat, baik kabupaten maupun provinsi, juga sudah meninjau lokasi. Dari Dinas Sosial Provinsi Kaltim yang menyalurkan bantuan, hingga Dinas ESDM yang mendorong agar dunia usaha ikut membantu warga terdampak.

Komisi III DPRD Kaltim bahkan turun langsung, menggelar rapat dengar pendapat dengan pemerintah dan akademisi, serta meninjau langsung lokasi di Batuah.

Beragam janji juga disampaikan, mulai dari relokasi, rumah baru, hingga pemulihan infrastruktur. Yang paling cepat terlihat justru hanya perbaikan badan jalan di titik amblas agar arus lalu lintas Samarinda–Balikpapan tetap lancar.

Sementara untuk rumah warga, pemerintah menyebut akan melibatkan dukungan CSR dari banyak perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di sekitar wilayah itu. Namun hingga kini, rencana tersebut belum terlihat wujudnya.

Pemerintah sempat menjanjikan relokasi bagi para korban. Namun hingga kini, Wati belum tahu ke mana harus pindah.

"Harapan kami, bisa dapat bantuan, terutama rumah. Karena kita masih numpang," tutur Wati.

 

Tragedi Amblas di KM 28

Peristiwa amblas di Desa Batuah bukan kasus kecil. Data desa mencatat 10 rumah amblas total, termasuk milik Wati. Namun secara keseluruhan, terdapat 22 rumah terdampak, baik rusak berat, retak, maupun tidak bisa lagi ditinggali.

Sekitar 28 KK atau 88 jiwa kini kehilangan tempat tinggal. Kajian awal menyebut tanah di lokasi tersebut mengandung lempung jenuh air yang mudah bergerak.

Namun warga menduga aktivitas tambang di sekitar lokasi turut memperparah kondisi. DPRD Kaltim bersama akademisi dan pemerintah daerah kini tengah melakukan kajian teknis sekaligus menyiapkan relokasi.

Bagi Wati, rakyat biasa yang tinggal tak jauh dari Ibu Kota Nusantara, harapannya kini hanya satu: bisa kembali memiliki rumah yang layak setelah puluhan tahun tinggal di Batuah.

"Kami ingin rumah, pak. Itu saja. Supaya bisa hidup tenang lagi," katanya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya