Pasar Menanti Gebrakan Baru Menkeu Purbaya

Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati kepada Purbaya Yudhi Sadewa dinilai analis sebagai momen penting untuk menguji konsistensi pemerintah dalam menjalankan reformasi struktural dan disiplin fiskal.

oleh Septian DenyDiterbitkan 09 September 2025, 11:20 WIB
Layar komputer menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati kepada Purbaya Yudhi Sadewa dinilai analis sebagai momen penting untuk menguji konsistensi pemerintah dalam menjalankan reformasi struktural dan disiplin fiskal.

Purbaya, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto menggantikan Sri Mulyani.

“Pasar kini menaruh perhatian pada kesinambungan disiplin fiskal, sembari menantikan strategi baru dari Menkeu yang ditunjuk di tengah perlambatan ekonomi. Purbaya sebelumnya mendukung program prioritas pemerintah dan menilai target pertumbuhan ekonomi di atas 6% masih realistis. Namun, kunci utamanya adalah eksekusi kebijakan, termasuk menjaga kredibilitas dengan tetap mempertahankan batas defisit anggaran 3% terhadap PDB,” ungkap Analis Macquarie, Ari Jahja, Selasa (9/9/2025).

Risiko arus keluar modal asing juga masih membayangi. Pada Agustus, tercatat arus masuk asing sebesar USD 675 juta. Namun analis menilai keberlanjutan aliran modal akan sangat bergantung pada kecepatan eksekusi reformasi.

“Mobilitas masyarakat meningkat seiring meredanya gelombang demonstrasi, tetapi dalam jangka menengah masih ada pertanyaan terkait kecepatan eksekusi reformasi struktural,” jelas Ari.

Dari sisi belanja, pemerintah diprediksi menggenjot realisasi di semester II-2025. “Kenaikan belanja pemerintah pada paruh kedua 2025 dibandingkan paruh pertama akan krusial untuk mendukung pertumbuhan. Defisit fiskal diperkirakan melebar hingga Juli 2025. Indeks PMI menunjukkan tanda-tanda ekspansi pada Agustus,” sebut Ari.

 

Lapangan Kerja Baru

Mengutip data RTI, 191 saham melaju di zona hijau dan 417 lainnya berada di zona merah. Sementara ada 188 saham mengalami stagnan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, penciptaan lapangan kerja baru dan peningkatan belanja modal BUMN menjadi sorotan. “Pasar juga menanti penciptaan lapangan kerja baru dan peningkatan belanja modal BUMN, di tengah potensi perlambatan investasi swasta,” tambah Ari.

Dalam isu nilai tukar, Bank Indonesia disebut siap menjaga stabilitas rupiah. “Cadangan devisa turun ke US$150,7 miliar pada Agustus (setara 6,3 bulan impor), terendah sejak November 2024,” kata Ari.

Secara keseluruhan, analis menegaskan reformasi tetap menjadi kunci. “Pasar menunggu dorongan lebih jauh pada langkah-langkah struktural guna meningkatkan daya saing: mulai dari peningkatan rasio pajak, belanja yang lebih terarah, eksekusi program prioritas yang lebih baik, hingga kemudahan berusaha,” tutur Ari.

Ia juga mencatat pasar obligasi pemerintah masih positif dengan arus masuk +US$4,1 miliar secara year-to-date. Namun, pasar saham justru mencatat arus keluar -US$3,3 miliar. “Kami menyarankan sikap defensif untuk saat ini; pilih saham dengan neraca keuangan kuat, dividen tinggi, serta potensi turnaround,” pungkasnya.

Efek Ganti Menteri Keuangan, Rupiah Terjun Bebas Hari Ini Selasa 9 September 2025

Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar, selalu mengalami perubahan setiap saat terkadang melemah terkadang juga dapat menguat.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini Selasa 9 September 2025. Kurs rupiah melemah sebesar 185 poin atau 1,13 persen menjadi 16.495 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya 16.310 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS oleh penggantian Menkeu ibu Sri Mulyani yang direspons negatif oleh investor,” ucapnya dikutip dari Antara, Selasa (9/9/2025).

Presiden RI Prabowo Subianto melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menkeu di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/9), menggantikan Sri Mulyani sebagai pejabat sebelumnya.

Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya menjabat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dilantik sebagai Menkeu berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 86/P Tahun 2025 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri dan Wakil Menteri Negara Kabinet Merah Putih Periode 2024-2029.

Penetapan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menkeu per tanggal 8 September 2025.

Sebelum Purbaya Yudhi Sadewa dilantik, jabatan Menkeu diisi oleh Sri Mulyani yang telah memimpin kementerian itu sejak periode kedua pemerintahan Presiden Ke-7 RI Joko Widodo.

 

Jabatan Sri Mulyani

Pegawai memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup turun 0,22 persen atau 34 poin ke Rp15.616,5 per dolar AS. Hal tersebut terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS 0,16 persen ke 104,41. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kemudian pada 21 Oktober 2024, Sri Mulyani kembali terpilih menjabat sebagai Menkeu dan dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto bersama para menteri dan wakil menteri lainnya dalam susunan Kabinet Merah Putih yang saat itu baru terbentuk.

“Sentimen domestik ini sangat kuat, tercermin dari IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) yang berbalik turun besar pasca konfirmasi berita ini,” ujar Lukman.

Di samping itu, indeks dolar AS masih tertekan sentimen peningkatan prospek pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kurs rupiah diperkirakan berkisar Rp16.350-Rp16.550 per dolar AS.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya