5 Hal yang Bisa Dipetik dari Hasil Imbang Indonesia vs Lebanon: Filanesia ala Kluivert Mulai Terlihat

Pasukan Patrick Kluivert mampu mencatat penguasaan bola hingga 81 persen. Namun, tidak ada gol yang dicetak

oleh Asad ArifinDiperbarui 08 September 2025, 23:57 WIB
Bulan depan, tim asuhan pelatih Patrick Kluivert ini akan menentukan nasib keikutsertaannya di Piala Dunia 2026 dengan melawan Arab Saudi dan Irak di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia grup B. (Bola.com/Abdul Aziz)

Liputan6.com, Jakarta Laga Timnas Indonesia melawan Lebanon berakhir dengan skor 0-0. Meskipun bukan hasil yang diharapkan, laga ini memberi pelajaran penting bagi Indonesia jelang laga krusial pada Oktober 2025 nanti.

Indonesia tampil dominan pada duel di Stadion Gelora Bung Tomo, Selasa (8/9) malam WIB. Pasukan Patrick Kluivert mampu mencatat penguasaan bola hingga 81 persen. Namun, tidak ada gol yang dicetak.

Dibanding Chinese Taipei, Lebanon jelas lebih kuat. Lebanon memberikan perlawanan cukup gigir, terutama cara mereka bertahan. Pada aspek serangan, Lebanon tidak mampu berbuat banyak dan hanya mampu melepas dua shots.

Laga melawan Lebanon jadi persiapan untuk tampil di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, Oktober 2025 nanti. Lantas, apa catatan yang bisa dipetik dari duel lawan Lebanon bagi Skuad Garuda?


Eksperimen Mengejutkan Kluivert

Pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, saat melawan Timnas Lebanon dalam laga FIFA Matchday 2025 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (8/9/2025). (Bola.com/Abdul Aziz)

Layaknya laga uji coba, Patrick Kluivert juga melakukan eksperimen. Pria asal Belanda itu memainkan Calvin Verdonk di posisi yang tidak lazim yakni gelandang bertahan.

Verdonk memang bisa memainkan banyak peran berbeda. Dia bisa bermain sebagai bek dan wingback kiri. Bahkan, dalam formasi tiga bek sejajar, Verdonk juga bisa bermain sebagai bek tengah kiri.

Eksperimen ini berakhir dengan sukses. Verdonk tampil sangat bagus dan mampu mengatur ritme permainan dengan baik. Visi umpan Verdonk memang belum sebagus Thom Haye, akan tetapi kemampuan bertahannya jadi nilai lebih.


Inikah Versi Baru Filanesia?

Pemain Timnas Indonesia berfoto sesaat jelang melawa Lebanon pada laga FIFA Matchday yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (8/9/2025) malam WIB. (Bola.com/Abdul Aziz)

Indonesia bermain dengan formasi 4-2-3-1, seperti saat menang lawan Chinese Taipei. Kluivert seolah menegaskan bahwa inilah formasi yang memang dia inginkan, bukan tiga bek sejajar.

Bukan hanya tentang formasi, akan tetapi gaya bermain. Indonesia bermain agresif dan mendominasi penguasaan bola. Inilah gaya bermain yang memang diinginkan oleh Kluivert.

Gaya bermain tersebut akan mengingatkan publik pada Filanesia sebagai filosofi bermain Indonesia. Filanesia juga mengutamakan penguasaan bola dan permainan agresif. Bedanya, formasi yang diusung adalah 4-3-3.


Belum Temukan Pengganti Ole Romeny

Pemain Timnas Indonesia, Adrian Wibowo, saat melawan Timnas Lebanon dalam laga FIFA Matchday 2025 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (8/9/2025). (Bola.com/Abdul Aziz)

Kluivert mencoba beberapa kombinasi di lini depan. Pada sebagian besar laga, Mauro Zijlstra jadi andalan di lini depan. Namun, dia belum menemukan sentuhan yang tepat untuk mencetak gol.

Lanjut Baca:

Selain itu, Kluivert juga sempat memberi kesempatan pada Adrian Wibowo dan Ramadhan Sananta untuk bermain. Sananta punya satu peluang, akan tetapi belum mampu mencetak gol. Tiga penyerang di atas tidak bermain buruk, akan tetapi belum mampu menyamai catatan Ole Romeny di Timnas Indonesia. Kehadiran Romeny masih akan menjadi sesuatu yang sangat dirindukan oleh Skuad Garuda.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya