Parlemen Australia Batalkan Acara Musik Kedubes China, Apa Alasannya?

Acara musik ini memperingati 80 tahun kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiperbarui 07 September 2025, 08:18 WIB
Kendaraan militer melintas membawa senjata canggih saat parade HUT ke-70 RRC di Beijing, China, Selasa (1/10/2019). Persenjataan yang dipamerkan dalam HUT ke-70 RRC ini termasuk rudal bersenjata nuklir yang bisa mencapai AS dalam 30 menit. (AP Photo/Ng Han Guan)

Liputan6.com, Canberra - Pemerintah Australia membatalkan rencana Kedutaan Besar Tiongkok untuk menggelar acara di Aula Utama Gedung Parlemen Canberra.

Acara tersebut sedianya digelar pada 30 Agustus untuk memperingati 80 tahun kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, namun pencabutan izin mendadak itu memicu silang pendapat diplomatik.

Acara musik yang rencananya menampilkan seniman dari Konservatorium Musik Shenyang itu awalnya disetujui oleh Departemen Layanan Parlemen (DPS). Namun, hanya beberapa hari sebelum acara, izin dicabut dan penyelenggara dipaksa memindahkan lokasi ke kompleks Kedutaan China di Yarralumla, dikutip dari laman ABC News, Sabtu (6/9/2025).

Meski batal digelar di parlemen, acara tetap berlangsung pada Sabtu (6/9) malam lalu dengan dihadiri hampir 400 tamu, termasuk pejabat tinggi dari berbagai sektor, perwakilan diplomatik, komunitas Tiongkok, dan mahasiswa internasional.

Kedutaan menyebut konser tersebut bertujuan mempromosikan perdamaian dan melestarikan ingatan sejarah melalui pertukaran budaya.

DPS tidak menjelaskan secara detail alasan pencabutan izin. Namun, sumber pemerintah federal menyebut penyelenggaraan acara semacam itu di jantung parlemen Australia dinilai “tidak pantas” mengingat sensitivitas hubungan dengan Jepang, serta kekhawatiran Canberra bahwa Beijing menggunakan peringatan tersebut untuk memperlihatkan kekuatan militernya.

Selain itu, hubungan erat Tiongkok dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un juga menambah pertimbangan.

Juru bicara DPS menegaskan keputusan pembatalan diambil sesuai kebijakan pemesanan Gedung Parlemen: “Jika keadaan atau informasi tentang acara berubah, maka acara bisa dibatalkan berdasarkan ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

 

Kritik dan Respons Politik

Sejumlah pemimpin negara menghadiri parade militer memperingati 80 tahun kemenangan dalam Perang Rakyat China Melawan Agresi Jepang dan Perang Dunia Anti-Fasis, termasuk Presiden Prabowo Subianto (Dok. AFP/Sergey Bobylev).

Keputusan itu menuai reaksi beragam. Juru bicara Partai Hijau untuk urusan luar negeri, Senator David Shoebridge menjadi satu-satunya anggota parlemen federal yang tercatat hadir dalam undangan -- menilai langkah pembatalan tidak tepat.

“Acara musik yang merayakan kekalahan fasisme bukanlah hal paling kontroversial di Canberra tahun ini. Parlemen seharusnya bisa tetap menyelenggarakannya,” katanya.

Sementara itu, Duta Besar Tiongkok untuk Australia, Xiao Qian, dalam pernyataannya menyebut konser tersebut sebagai simbol persahabatan kedua bangsa yang pernah berjuang bersama melawan fasisme di Perang Dunia II. Ia menekankan pentingnya mempererat hubungan bilateral demi menjaga multilateralisme.

Namun, seorang sumber diplomatik mengatakan Beijing secara pribadi menuding Jepang berada di balik pembatalan acara di parlemen. Tuduhan ini dibantah keras oleh pejabat Australia, yang menegaskan keputusan sepenuhnya dibuat oleh Canberra sesuai kebijakan internal.

 

Konteks Hubungan Australia-Jepang

Ilustrasi bendera Jepang (AFP/Toru Yamanaka)

Kontroversi ini muncul menjelang pertemuan tahunan “2+2” antara Menlu Penny Wong dan Menhan Richard Marles dengan mitra Jepang mereka di Tokyo, Jumat mendatang.

Hubungan kedua negara belakangan semakin erat, terlebih setelah Australia memilih perusahaan Jepang Mitsubishi Heavy Industries untuk membangun armada kapal perang baru Angkatan Laut Australia.

“Jepang adalah mitra yang sangat diperlukan bagi Australia,” kata Marles.

“Kerja sama pertahanan kami didukung keselarasan strategis yang kian erat dan rasa saling percaya yang mendalam.” Hal senada disampaikan Wong yang menyebut hubungan kedua negara “semakin kuat”.

Infografis Amerika Serikat dan China Terancam Perang Dingin? (Liputan6.com/Trieyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya