Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah sempat tertekan akibat eskalasi demonstrasi beberapa hari terakhir. Sejalan dengan meredanya ketegangan sosial-politik, investor kembali masuk ke pasar.
Analis sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, mengatakan momentum ini menjadi indikasi bahwa potensi reli penguatan masih terbuka, meski sentimen kehati-hatian tetap membayangi.
Advertisement
“Faktor utama yang bisa menopang reli IHSG ke depan adalah stabilisasi situasi politik dalam negeri, dukungan dari pasar regional yang cenderung positif, serta fundamental emiten yang relatif solid,” ujarnya dalam catatannya, dikutip Kamis (4/9/2025).
Hendra menambahkan, kinerja keuangan sejumlah perusahaan besar yang masih mencatatkan pertumbuhan, ditambah dengan tren harga komoditas global yang kembali menguat, berpotensi menjadi katalis penting bagi penguatan indeks.
Selain itu, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global juga bisa mendorong masuknya aliran dana asing ke emerging market, termasuk Indonesia.
Sentimen Negatif Masih Perlu Diwaspadai
Meski demikian, sentimen negatif masih perlu diwaspadai. Ketidakpastian politik domestik pasca demonstrasi tetap menjadi faktor sensitif bagi pasar. Di sisi lain, rupiah yang berada di kisaran Rp 16.395 per dolar AS juga memberi tekanan tambahan.
Hendra menilai fenomena rupiah yang cenderung melemah saat IHSG reli mencerminkan adanya arus keluar dana asing ke aset berbasis dolar AS, sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed dan ketidakpastian geopolitik global.
Secara teknikal, level psikologis IHSG di 7.800 menjadi area kunci. Apabila mampu bertahan, peluang penguatan menuju 7.900–8.000 cukup terbuka, terutama jika stabilitas politik semakin kondusif. Dengan fundamental ekonomi domestik yang masih resilien, tidak menutup kemungkinan IHSG bisa menutup tahun 2025 di kisaran 8.000, asalkan faktor eksternal seperti nilai tukar dan kondisi global tidak terlalu menekan.
Saham Pilihan
Dari sisi saham pilihan, Hendra menuturkan ada beberapa emiten yang dinilai berpotensi memberikan cuan menarik bagi investor. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) direkomendasikan buy dengan target harga Rp 1.890, seiring prospek sektor energi dan pemulihan permintaan gas industri.
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) juga menarik dicermati dengan target harga Rp 1.430, didorong diversifikasi bisnis di sektor digital. Untuk sektor media, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) berpotensi menguat dengan target harga Rp 370.
Sementara itu, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) direkomendasikan buy dengan target harga Rp 470, sejalan dengan tren kendaraan listrik yang mendorong kebutuhan nikel dan bahan baku baterai.
Dengan kombinasi faktor domestik yang mulai stabil serta katalis eksternal yang mendukung, prospek IHSG pasca demonstrasi terlihat lebih optimistis. Namun, investor tetap perlu selektif dan fokus pada saham-saham berfundamental kuat, sambil mencermati pergerakan rupiah yang masih berpotensi menjadi batu sandungan dalam perjalanan reli indeks menuju level 8.000.