Liputan6.com, Jakarta Setiap tahun ribuan ayah di Nusa Tenggara Barat (NTB) meninggalkan anak istri untuk merantau demi masa depan yang lebih baik. Sayangnya, di balik misi pemenuhan ekonomi keluarga ada harga sosial yang dibayar mahal.
Ayah yang pergi merantau membuat anak-anak tumbuh tanpa sosok bapak, keluarga rentan retak, dan cinta dalam rumah tangga terancam renggang oleh jarak. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya angka perceraian di NTB.
Advertisement
Badan Pusat Statistik (BPS NTB) melaporkan, sepanjang 2024 terdapat 6.946 kasus perceraian, dengan 4.980 di antaranya akibat pertengkaran terus-menerus.
Bahkan, hanya dalam dua bulan pertama 2025, Lombok Tengah sudah mencatat 204 perceraian, mayoritas cerai gugat. Fakta ini menjadi alarm serius bagi ketahanan keluarga di NTB. Terkait ini, Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) NTB, Lalu Makripuddin, M.Si, menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa dianggap sepele.
Perceraian yang meningkat tajam, ditambah ayah yang merantau, membuat banyak anak kehilangan figur ayah maupun ibu dalam masa tumbuh kembangnya.
“Migrasi boleh jauhkan raga, tapi jangan pernah menjauhkan cinta, perhatian, dan pengasuhan. Anak-anak tidak boleh menjadi korban kehilangan kasih sayang,” kata Lalu dalam Sosialisasi Mewujudkan Migrasi Aman dan Keharmonisan Keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang digelar di Aula Desa Batu Kuta, Lombok Barat, pada 26–27 Agustus 2025.
Menurut data Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI NTB) mencatat, hanya dalam enam bulan pertama tahun 2025, sebanyak 9.884 pekerja migran laki-laki dan 313 perempuan telah berangkat ke Malaysia, Arab Saudi, Brunei Darussalam, Singapura, dan Taiwan.
Peran Ayah Tetap Penting meski Lewat Gawai
Menurut Lalu, anak-anak tanpa pengasuhan ayah (fatherless) rentan menghadapi berbagai persoalan. Termasuk menurunnya kepercayaan diri, rapuh secara emosional, hingga mudah terjerumus dalam perilaku berisiko.
Untuk menjawab tantangan ini, BKKBN meluncurkan program GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia). GATI berperan mengingatkan bahwa ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga teladan moral, sahabat emosional, dan penopang jiwa anak.
“Jika ayah harus bekerja jauh, maka paman atau kakek bisa mengambil peran. Kehadiran ayah, bahkan lewat panggilan video, tetap mampu membangun karakter, keteguhan moral, dan rasa percaya diri anak. Tanpa itu, risiko fatherless effect bisa semakin nyata,” jelas Lalu.
Tugas Ayah Bukan Cuma Besarkan Fisik Anak tapi Juga Jiwanya
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menegaskan, keterlibatan ayah memberi manfaat besar bagi anak, termasuk dalam:
- Memberikan rasa aman dan koneksi emosional yang mendalam
- Menjadi sumber nilai moral dan teladan tanggung jawab
- Menjadi penopang psikologis dalam membentuk kepercayaan diri
- Mencegah perilaku berisiko seperti narkoba, kekerasan, atau seks bebas
- Ayah yang hadir bukan hanya membesarkan tubuh anak, tapi juga membesarkan jiwanya.
BP3MI NTB menegaskan, perlindungan PMI sudah dilakukan sejak pra-keberangkatan, saat bekerja, hingga kepulangan. Namun, dampak sosial seperti perceraian, stunting, hingga pernikahan anak tidak bisa hanya ditangani oleh pemerintah.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah. Akademisi, tokoh masyarakat, organisasi perempuan, hingga media harus ikut bergerak. Mari, pastikan anak-anak NTB tetap tumbuh sehat, cerdas, dan berkarakter meski orangtuanya bekerja jauh di negeri seberang,” pungkas Lalu.