Liputan6.com, London - Jutaan pasang mata di seluruh dunia menyaksikan perpisahan terakhir dengan Putri Diana, mantan istri Pangeran Charles dan dikenal dengan julukan Princess of Hearts, pada 6 September 1997.
Di Inggris sendiri, lebih dari satu juta orang memenuhi jalanan sepanjang rute prosesi menuju Westminster Abbey, sebelum jenazahnya dimakamkan di kediaman keluarga Spencer di Althorp, Northamptonshire. Diperkirakan total 2,5 miliar orang di seluruh dunia menonton prosesi pemakaman tersebut melalui siaran televisi, dilansir dari BBC, Sabtu (6/9/2025).
Advertisement
Upacara dimulai pukul 09.08 waktu setempat, ketika peti jenazah meninggalkan Istana Kensington dengan pengawalan meriam. Di atas peti tergeletak kartu bertuliskan "Mummy" dari salah satu putranya, menjadi pengingat menyayat hati bahwa sosok yang dicintai jutaan orang ini juga seorang ibu.
Dua pangeran muda, William dan Harry, yang saat itu baru berusia belasan tahun, berjalan di belakang peti bersama ayah mereka, Pangeran Charles (putra sulung Ratu Elizabeth II yang kini menjadi Raja Charles III), kakek mereka Pangeran Philip, serta Paman Diana, Charles Spencer atau Lord Spencer.
Dari gerbang Istana Buckingham, anggota keluarga kerajaan lain turut menyaksikan iring-iringan. Untuk pertama kalinya, bendera Union Jack di puncak istana diturunkan setengah tiang.
Suasana Semakin Duka
Suasana duka semakin terasa ketika kedua saudari Diana, Lady Sarah McCorquodale dan Lady Jane Fellowes, membacakan penghormatan. Penyanyi Elton John, sahabat dekat Diana, juga memainkan versi baru lagu Candle in the Wind.
Dalam pidatonya, Lord Spencer menyebut Diana sebagai "inti dari kasih sayang, kewajiban, gaya, dan kecantikan".
Ia juga menuding media telah berperan besar dalam kematian sang adik, menyebutnya sebagai "orang paling diburu di era modern".
"Pernyataan yang kadang kontroversial itu langsung disambut tepuk tangan spontan dari para hadirin," tulis media Inggris.
Hari penuh duka itu ditutup dengan upacara pribadi, ketika Diana akhirnya dimakamkan di sebuah pulau kecil di tengah tanah keluarga Spencer di Althorp.
Kematian Diana memicu gelombang kesedihan publik terbesar yang pernah terjadi di Inggris. Dalam waktu singkat, memorabilia tentang sang putri menjadi buruan di seluruh dunia.
Dua tahun kemudian, penyelidikan otoritas Prancis menyimpulkan sopir mobil, Henri Paul (wakil kepala keamanan Hotel Ritz Paris), berada dalam kondisi tiga kali di atas batas alkohol dan melaju melebihi kecepatan. Fotografer yang memburu mobilnya juga menuai kritik tajam, meski tak ada tuntutan pidana.
Di Inggris, penyelidikan resmi baru dibuka pada 2004, namun ditunda karena Kepolisian Metropolitan masih melakukan investigasi lebih lanjut terkait kecelakaan yang merenggut nyawa Putri Diana.