Formula Sukses ala Profesor Harvard: Risk-Taking dan Entrepreneur Mindset

Profesor Harvard mengungkap rahasia untuk mencapai hidup yang lebih bahagia dan sukses. Berpikir layaknya seorang wirausaha (entrepreneur) dan memperlakukan hidup seperti perusahaan yang sedang berkembang adalah kuncinya.

oleh Sekar FebrianiDiterbitkan 06 September 2025, 06:00 WIB
apa itu entrepreneur ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta - Kunci kesuksesan dan kebahagiaan masa depanmu mungkin bergantung pada keberanian dalam mengambil risiko. Risiko yang dimaksud di sini adalah risiko yang telah diperhitungkan dan dipertimbangkan dengan matang.

Hal ini diungkap oleh pakar sosial sekaligus profesor Universitas Harvard, Arthur Brooks.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (6/9/2025), bagi kamu yang cenderung menghindari risiko, tidak perlu khawatir. Kemampuan untuk mengambil lompatan besar ini bisa diasah dan dikembangkan melalui riset mendalam dan perenungan diri.

Pandangan ini dituangkan oleh Brooks dalam karya terbarunya yang berjudul "The Happiness Files" yang diluncurkan bulan Agustus lalu.

Brooks mengungkap rahasia untuk mencapai hidup yang lebih bahagia dan sukses. Menurutnya, berpikir layaknya seorang wirausaha (entrepreneur) dan memperlakukan hidup seperti perusahaan yang sedang berkembang adalah kuncinya.

“Jika kamu memperlakukan hidup seperti cara seorang entrepreneur hebat mengelola startup-nya dengan menarik, maka hidup Anda akan terasa lebih bahagia, bermakna, dan sukses ketimbang sebelumnya,” ungkap sang profesor pengampu mata kuliah kebahagiaan di Harvard itu.

 

Ambil Risiko

arti entrepreneur ©Ilustrasi dibuat AI

Memulai suatu bisnis baru memang identik dengan tingkat kegagalan yang tinggi dan ketidakpastian yang besar. Namun, Brooks menekankan bahwa mental dan keberanian untuk terjun serta menghadapi risiko itu akan memberikan return atau imbalan.

Imbalan ini bisa berupa keuntungan materi, kendali karier yang lebih optimal, dan rasa puas apabila bisnis yang dijalankan berhasil.

Prinsip ini tidak terbatas pada dunia bisnis saja. Brooks mengungkapkan dalam bukunya, setiap orang harus “berani mengambil dan mengelola risiko dengan tepat dalam upaya membangun kehidupan dengan hasil yang optimal.”

Brooks merekomendasikan untuk menganalisis dan melakukan latihan mental terhadap semua kemungkinan dari dampak keputusan berisiko yang akan diambil, baik dampak positif maupun dampak negatif.

Proses ini mirip dengan riset yang dilakukan oleh calon entrepreneur yang meneliti pasar dan tren konsumen. Lalu, bandingkan potensi keuntungan dengan risiko kerugian. Jika analisis menunjukkan risk-reward ratio yang menguntungkan, latihan mental ini efektif mengurangi kecemasan.

 

Keluar dari Zona Nyaman

Ilustrasi menjadi seorang entrepreneur. Credit: pexels.com/pixabay

Dalam bukunya, Brooks memperingatkan bahwa tidak semua risiko layak untuk diambil. “Dalam beberapa kasus, peluang kegagalan begitu tinggi dan dampak negatifnya begitu parah. Sehingga, suatu hal yang ceroboh apabila tetap mengambil risiko tersebut.”

Ia menambahkan bahwa indikator risiko yang bisa diambil adalah ketika risiko tersebut terasa ‘memungkinkan dan menakutkan’ di waktu yang bersamaan.

Pindah kerja dan mengganti karier adalah hal yang menegangkan. Tetapi, hal itu akan membantu Anda untuk keluar dari zona nyaman dan bisa jadi membawa kesuksesan yang lebih besar di masa mendatang.

Mengambil KPR untuk membeli rumah adalah sebuah risiko, namun bisa menjadi aset berharga selama kamu bisa mengatur anggaran dengan tepat.

Bila tidak berjalan dengan baik, berkomitmen pada hubungan romantis akan memberi risiko kekecewaan. Namun, bila berjalan dengan baik dan serius, berpotensi memberi kebahagiaan jangka panjang.

Menurut Brooks, hambatan utama yang biasanya menghalangi kita untuk mengambil risiko adalah “ketakutan akan penyesalan di masa depan.”

Brooks menjelaskan fenomena psikologi unik manusia dalam bukunya, “Manusia seperti memiliki kemampuan untuk melakukan time-travel secara mental,” tulisnya.

“Kita mampu untuk membayangkan bagaimana diri kita menyesal di masa depan atas keputusan yang kita ambil saat ini.”

 

Ambil Micro-Risk

Studi menunjukkan bahwa anticipatory regret atau antisipasi terhadap penyesalan menciptakan pola “penghindaran risiko” (risk avoidance) yang kontraproduktif. Hal ini terkadang menghalangi seseorang untuk mengambil langkah yang sebenarnya bermanfaat.

Jika kamu adalah seseorang yang kesulitan memotivasi diri untuk mengambil lebih banyak risiko, beberapa ahli memiliki saran yang mungkin dapat membantu. Mulailah dengan mengambil satu “risiko mikro” (micro-risk) per hari untuk membangun kepercayaan diri.

Henna Pryor, seorang pelatih kinerja di tempat kerja (workplace performance coach), mengungkapkan bahwa contoh dari micro-risk ini bisa sesederhana mengabaikan rasa canggung untuk menyapa dan mengobrol ringan dengan seseorang yang baru ditemui. Langkah kecil ini efektif membangun rasa percaya diri secara gradual.

 

Rasa Puas

Brooks menegaskan bahwa proses pertimbangan yang matang sebelum bertindak sudah cukup untuk meningkatkan kepercayaan diri dan rasa bahagia. Rasa puas juga akan muncul dari keberanian untuk menghadapi hal-hal baru yang menantang, terlepas dari hasil akhirnya.

“Meningkatkan kebahagian melalui pengambilan risiko perlu dilakukan dengan cara yang tepat. Bukan hanya dari keputusan mendadak tanpa pertimbangan yang matang,” ungkap Brooks.

Ia juga menambahkan bahwa tahap perencanaan untuk mengambil risiko memberikan kita kesempatan untuk “merasakan” perubahan diri yang diinginkan.

“Kamu bisa membayangkan menjadi sosok ideal yang diinginkan.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya