Studi: Pariwisata ke Antartika Hasilkan Emisi Karbon Tinggi

Pesona Antartika memikat banyak turis, bahkan dikunjungi 100 ribu wisatawan tiap tahun. Namun, perjalanan panjang dengan pesawat dan kapal pesiar menyumbang emisi tinggi.

oleh Nadjwa Dwi YulianitaDiterbitkan 01 September 2025, 18:00 WIB
Gunung Vinson, Titik Tertinggi di Antartika. (Dok: IG @gracetseng_0821 https://www.instagram.com/p/C0Qadv4PePW/?igsh=aDY1N3ptYzd5bHIx)

Liputan6.com, Jakarta - Setiap tahun, lebih dari 100 ribu wisatawan internasional, termasuk hampir 10 ribu warga Australia, berkunjung ke Antartika untuk menikmati pemandangan menakjubkan dan satwa liar yang unik.

Namun, sebuah studi baru yang diterbitkan oleh Journal of Sustainable Tourism mengungkapkan besarnya emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari perjalanan menuju benua es tersebut.

"Kombinasi penerbangan jarak jauh dan perjalanan panjang dengan kapal pesiar membuat Antartika menjadi salah satu destinasi wisata paling boros energi,” tulis laporan tersebut, dilansir dari ABC Net Australia News pada Senin, (1/9/2025).

Untuk menuju lokasi, wisatawan biasanya terbang dari Amerika Serikat, Eropa, Asia, atau Australia, lalu melanjutkan perjalanan dengan kapal pesiar yang bisa berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Tim peneliti memperkirakan jejak karbon para wisatawan dengan menggunakan data satelit, spesifikasi mesin kapal, dan catatan emisi pesawat.

Hasilnya, perjalanan selama musim turis 2022–2023 menghasilkan total 674.696 ton emisi karbon dioksida ekuivalen (CO2-eq). Rata-rata, setiap wisatawan menyumbang 6,41 ton emisi, terdiri dari 2,26 ton dari penerbangan dan 4,15 ton dari kapal pesiar.

Sebagai perbandingan, laporan menyatakan rata-rata warga Eropa membutuhkan waktu setahun penuh untuk menghasilkan tingkat emisi serupa.

“Jejak karbon besar dari pariwisata Antartika menjadi tantangan di tengah krisis iklim global,” bunyi laporan tersebut.

Jenis Perjalanan Tentukan Besaran Emisi

Es di Benua Antartika (liputan6/pixabay)

Emisi yang dihasilkan setiap turis bervariasi, tergantung titik keberangkatan dan jenis perjalanan:

  • Cruise-only (melibatkan kapal besar tanpa mendarat di lokasi wisata), rata-rata 11 hari menyumbang 3,11 ton CO2-eq per orang.
  • Air-cruise (menggantikan pelayaran Drake Passage dengan penerbangan ke King George Island dilanjutkan kapal ke sekitar semenanjung), rata-rata 8 hari menghasilkan 3,12 ton.
  • Seaborne voyage ke Semenanjung Antartika yang berangkat dari ujung selatan Amerika Selatan dan termasuk pendaratan di situs pengunjung. Rata-rata 12 hari menghasilkan 4,6 ton.
  • Ross Sea & Antartika daratan, rata-rata 35 hari, menghasilkan 16,5 ton per turis.Jenis wisata lain, seperti ekspedisi deep-field, kapal pesiar kecil (yacht), atau penerbangan di atas benua, tidak termasuk dalam penelitian ini.

Meski emisi per wisatawan tinggi, secara total kontribusi pariwisata Antartika terhadap emisi industri global masih kecil.

“Meskipun Antartika terus menjadi tujuan tertinggi dalam hal emisi per individu, penting untuk dicatat bahwa totalnya masih di bawah 2 persen dari kontribusi industri pelayaran dunia,” kata penulis utama studi, Daniela Cajiao, dari Wageningen University kepada ABC News.

 

IAATO Tegaskan Komitmen Kurangi Emisi

Gletser Thwaites di Antartika Barat, jika runtuh, permukaan laut bisa naik. (NASA/James Yungel)

Asosiasi Internasional Operator Tur Antartika (IAATO) menegaskan komitmen anggotanya untuk mengurangi emisi.

"Sebagai organisasi yang mengusung misi perjalanan aman dan bertanggung jawab, pengurangan emisi menjadi bagian penting dari pekerjaan kami,” ujar Penasihat senior lingkungan IAATO, Amanda Lynnes.

Lynnes mengatakan banyak kapal wisata kini menggunakan bahan bakar lebih ramah lingkungan. Anggota IAATO juga menargetkan net zero sebelum 2050. Beberapa perusahaan bahkan lebih ambisius, seperti HX (Hurtigruten Expeditions) yang menargetkan karbon netral pada 2040.

HX juga mengoperasikan kapal hybrid-electric yang mampu menekan emisi hingga 20 persen. Dia mengatakan perusahaan juga mengungkapkan emisi tahunannya di situs webnya.  

“Industri ekspedisi kapal pesiar punya peluang besar menjadi contoh pariwisata ramah lingkungan,” kata Tudor Morgan, duta Antartika HX.

 

 

Jejak Karbon Wisata Antartika Jadi Sorotan

Seekor penguin memutuskan untuk menguntit tim peneliti. Hewan Antartika ini melompat keluar dari dalam air dan langsung melompat ke perahu karet mereka. (Matt McKay/Australian Antarctic Division)

Laporan itu juga menyebut jejak karbon industri pariwisata tidak sejalan dengan konsep bahwa wisatawan ke kawasan kutub menjadi advokat/pembela untuk perlindungan Antartika.

Meski teknologi semakin efisien, laporan menyebut pertumbuhan pesat pariwisata Antartika dalam satu dekade terakhir justru membuat emisi total meningkat. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah klaim wisatawan sebagai “duta Antartika” sejalan dengan jejak karbon besar yang mereka hasilkan.

“Hasil ini memunculkan pertanyaan, apakah tingginya emisi gas rumah kaca per orang sejalan dengan upaya industri pariwisata yang menggambarkan wisatawan Antartika sebagai duta bagi benua tersebut,” tulis laporan itu.

Namun, Lynnes menegaskan konsep ambassadorship bukan soal pembenaran perjalanan.

“Ini lebih kepada bagaimana memanfaatkan kesempatan saat berada di Antartika. Bagi banyak orang, perjalanan ini tetap menjadi pengalaman seumur hidup, dan penting untuk benar-benar dimaknai,” ujarnya.

Sementara itu, para pihak dalam perjanjian Antartika telah sepakat menyusun kerangka regulasi untuk mengatur perkembangan pariwisata di kawasan tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya