Harapan Naga Ada Band Soal Revisi UU Hak Cipta di Industri Musik, Sorot Sosialisasi dan Transparasi

Vokalis Ada Band, Indra Sinaga atau Naga berharap revisi UU Hak Cipta jadi solusi terbaik untuk industri musik. Ia menyorot aspek sosialisasi dan transparansi.

oleh M Altaf JauharDiterbitkan 01 September 2025, 08:00 WIB
Vokalis Ada Band, Indra Sinaga atau Naga berharap revisi UU Hak Cipta jadi solusi terbaik untuk industri musik. Ia menyorot aspek sosialisasi dan transparansi.

Liputan6.com, Jakarta Indra Sinaga alias Naga Ada Band menaruh harap pada rancangan revisi Undang Undang atau UU Hak Cipta. Ia percaya seluruh pemangku kepentingan saat ini berupaya mencari solusi terbaik atas kisruh royalti dan hak cipta yang menjadi sorotan.

Naga berharap sosialisasi dan transparansi pemungutan royalti lagu oleh lembaga terkait bisa terlaksana dengan baik ke depannya. Ia optimistis revisi ini akan menghasilkan regulasi lebih baik dan komprehensif.

"Saat ini teman-teman DPR dan stakeholder semuanya, teman-teman musisi, teman-teman pengusaha yang gunakan musik di bisnisnya, sedang berdiskusi untuk revisi UU Hak Cipta," ujar Naga di Kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (28/8/2025).

"Pasti baguslah, bukan hanya pencipta lagu, tapi untuk menulis skenario, fotografer atau yang mendaftarkan karya ciptanya, menjadi hak cipta, itu dilindungi UU. Itu hal yang normal," Naga menyambung.

 


Sosialisasi dan Transparansi

Vokalis Ada Band, Indra Sinaga atau Naga berharap revisi UU Hak Cipta jadi solusi terbaik untuk industri musik. Ia menyorot aspek sosialisasi dan transparansi.

Melalui revisi ini, Naga berharap UU Hak Cipta nantinya dapat memberi kejelasan hukum dan keadilan bagi para pihak di industri musik, sekaligus pelaku bisnis yang menggunakan musik. Sebab jika bisnis tidak berjalan, tidak akan ada royalti yang bisa dibayarkan.

"Masalah sosialisasi dan masalah transparansi. Semoga harapannya revisi Undang Undang Hak Cipta hasilnya baik untuk para pencipta lagu, penyanyi dan berpihak kepada pelaku bisnis. Karena kalau bisnisnya enggak jalan apa yang mau dibayar royaltinya. Jadi sama-sama," jelasnya.

 


Semoga Ada Aplikasi Khusus

Transparansi Lembaga Manajemen Kolektif kepada para anggotanya juga jadi hal yang disoroti Naga. Ia berharap ada mekanisme yang jelas, akuntabel, dan bisa diaudit terkait pembayaran royalti.

"Semoga ada aplikasi khusus yang digunakan untuk semua pelaku industri bisnis yang menggunakan musik, jadi transparansinya kelihatan. Itu kan jadi isu yang dibahas di mana-mana, kan diputar lagu apa-apa kita kan enggak tahulah," Naga menyambung. 


Bergerak Maju Soal Royalti

Naga mengatakan, sistem royalti yang sudah matang di luar negeri menjadi contoh nyata bagaimana industri musik bisa berjalan harmonis. Di sana, daftar lagu yang dibawakan pengguna di ruang publik, sudah terdaftar dengan jelas.

"Yang jelas kita harus bergerak maju karena isu royalti itu sebenarnya di kita memang baru banget tapi di luar sudah jadi lah, sistemnya sudah jadi. Jadi aman, mau di restoran, bahkan pengamen yang main di ruang publik pun yang lagunya mereka bawakan, list-nya sudah terdaftar semua," ucap Naga.

Infografis Kronologi Kisruh Royalti Lagu Agnez Mo Vs Ari Bias. (Liputan.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya