Liputan6.com, London - Lebih dari 100 polisi dilarikan ke rumah sakit setelah bentrokan pecah di Karnaval Notting Hill, London Barat, Inggris. Sebagian besar diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan, namun setidaknya 26 orang harus dirawat inap. Sekitar 60 pengunjung karnaval juga terluka, sementara polisi menangkap sedikitnya 66 orang.
Kerusuhan diduga dipicu oleh upaya polisi menangkap seorang pencopet di dekat Portobello Road, jalur utama karnaval. Sejumlah pemuda kulit hitam berusaha membela si pencopet, dan dalam hitungan menit, situasi berubah jadi kerusuhan, dilansir dari BBC, Sabtu (30/8/2025).
Advertisement
Polisi diserang dengan batu dan benda-benda lain, hingga akhirnya mereka membalas dengan peralatan seadanya, mulai dari tutup tong sampah, peti susu, hingga pagar kawat untuk menghadapi massa.
Seorang saksi mata, Raymond Hunter, menceritakan bagaimana kerusuhan makin brutal.
“Dua polisi berhasil keluar dari mobil van dan kabur. Lalu geng itu membalikkan van dan membakarnya,” kata Hunter yang tinggal di Westbourne Park Road.
Tak hanya itu, kelompok pemuda kulit hitam terlihat memecahkan kaca di sepanjang jalan, sementara geng pemuda kulit putih juga dilaporkan ikut terlibat dalam kekerasan. Polisi pun menutup jalan, menutup pub, hingga menghentikan operasional stasiun Ladbroke Grove demi mencegah situasi makin meluas.
Karnaval Budaya Jadi Ajang Kekerasan
Padahal, karnaval yang sudah memasuki tahun ke-10 ini awalnya digelar untuk merayakan budaya Karibia di London. Di hari pertama, suasana masih kondusif sehingga panitia optimis acara akan berjalan damai.
Anggota Komite Karnaval, Selwyn Baptiste, mengungkapkan kekecewaannya.
"Ini seharusnya tentang kesenangan dan cinta – bukan kekerasan," ujarnya.
Namun kerusuhan justru mengakhiri perayaan tahun itu dengan catatan kelam.
Konteks Sejarah
Notting Hill memang punya sejarah panjang terkait ketegangan rasial. Pada 1958, kawasan ini pernah menjadi lokasi kerusuhan rasial yang dipicu kelompok fasis "Teddy Boys" dari British Union yang bentrok dengan komunitas kulit hitam. Hubungan warga kulit hitam dengan polisi juga kerap bermasalah.
Pasca kerusuhan 1976, 17 pemuda kulit hitam sempat diadili dengan 79 dakwaan, tapi hanya dua yang akhirnya terbukti bersalah. Proses pengadilan ini disebut sebagai salah satu yang paling mahal, dengan biaya mencapai £250.000.
Meski begitu, Karnaval Notting Hill tetap berlanjut dan dikenal sebagai festival jalanan terbesar di Eropa. Meski sempat diwarnai kekerasan sporadis di tahun-tahun berikutnya, era 1990-an relatif lebih damai. Namun pada tahun 2000, tragedi kembali mencoreng perayaan dengan dua kasus pembunuhan.