Sektor Manufaktur Jadi Primadona, Paling Banyak Serap Tenaga Kerja

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todo Pasaribu mendorong masyarakat agar segera menyiapkan kompetensi, mengingat permintaan tenaga kerja ke depan akan semakin tinggi.

oleh Gilar RamdhaniDiterbitkan 28 Agustus 2025, 07:54 WIB
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu dalam diskusi publik Berani Bicara bertajuk “Akankah Realisasi Investasi 2025 Capai Target?” di Rumah Relawan Gatotkaca, Jalan Patimura, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (27/8/2025).

Liputan6.com, Jakarta Wamen Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menyebut sektor manufaktur saat ini menjadi motor utama penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu, Wamen Todo mendorong masyarakat agar segera menyiapkan kompetensi, mengingat permintaan tenaga kerja ke depan akan semakin tinggi.

“Sektor apa yang paling menyerap tenaga kerja? Sektor industri manufaktur. Kenapa? Karena masih menggunakan kekuatan labor (padat karya). Kalau sektor lain, misalnya industrialisasi pengolahan, concern utamanya adalah strategi teknologi,” kata Wamen Todo dalam diskusi publik Berani Bicara bertajuk “Akankah Realisasi Investasi 2025 Capai Target?” di Rumah Relawan Gatotkaca, Jalan Patimura, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (27/8).

Berdasarkan data Kementerian Investasi, subsektor manufaktur yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT), industri alas kaki dan kulit, industri makanan dan minuman (Mamin), industri elektronik dan komponen, serta industri otomotif.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu dalam diskusi publik Berani Bicara bertajuk “Akankah Realisasi Investasi 2025 Capai Target?” di Rumah Relawan Gatotkaca, Jalan Patimura, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (27/8/2025).

Todo menekankan bahwa dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Pasalnya, Investasi memiliki pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap ekonomi.

Sebagai contoh, ia menyebut sektor industrialisasi smelter atau pengolahan nikel. Meski jumlah tenaga kerja yang terserap relatif lebih sedikit dibanding sektor manufaktur, namun industri ini mampu menciptakan ekosistem ekonomi bernilai besar.

“Mungkin jumlah tenaga kerja yang diserap jauh lebih kecil daripada pabrik sepatu,” ujarnya. Todo menegaskan, investasi memiliki korelasi erat dengan terbentuknya ekosistem ekonomi baru.

Sektor Manufaktur Paling Banyak Ciptakan Lapangan Kerja

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu dalam diskusi publik Berani Bicara bertajuk “Akankah Realisasi Investasi 2025 Capai Target?” di Rumah Relawan Gatotkaca, Jalan Patimura, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (27/8/2025).

Senada dengan Wamen Todo, Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Fithra Faisal, mengatakan sektor manufaktur memiliki dampak paling besar terhadap penyerapan tenaga kerja.

“Performa sektor manufaktur atau kontribusinya terhadap keseluruhan perekonomian itu sebesar 19 persen,” jelas Fithra.

Ia meyakini, investasi akan membangkitkan sektor industri sekaligus memacu peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Sehingga ketika investasi masuk dan industri bertumbuh, kualitas SDM juga harus ikut menjadi bagian dari proses industrialisasi.

“Yang paling penting adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia, sehingga ketika investasi masuk, masyarakat juga bisa berpartisipasi,” ujarnya.

Secara umum, Fithra menyebutkan bahwa investasi telah menciptakan sekitar 1,2 juta lapangan kerja baru pada semester I tahun 2025. Pada semester II, ekspektasinya bisa mencapai lebih dari 3 juta lapangan kerja baru.

“Total bisa menyerap antara 3,5 hingga 3,6 juta tenaga kerja,” tegasnya.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya