Liputan6.com, Jakarta Hubungan antara Ruben Amorim dan Kobbie Mainoo tengah menjadi sorotan besar di Manchester United. Sang gelandang muda yang musim lalu bersinar kini justru terpinggirkan di bawah manajer asal Portugal itu.
Mainoo, yang baru berusia 20 tahun, belum sekalipun turun di Premier League musim ini. Situasi ini memunculkan kabar bahwa dirinya mulai mempertimbangkan opsi hengkang jika kondisi tidak berubah.
Advertisement
Ketegangan tersebut bukan hanya soal menit bermain, melainkan juga menyangkut arah karier Mainoo di United dan gaya kepelatihan Amorim yang menuntut standar berbeda.
Latar Belakang Isu Amorim dan Mainoo
Ruben Amorim datang ke Old Trafford dengan reputasi besar setelah sukses bersama Sporting. Ia dikenal sebagai pelatih yang menuntut intensitas tinggi, disiplin, dan tempo cepat dalam permainan.
Di sisi lain, Kobbie Mainoo adalah produk akademi United yang musim lalu tampil menawan. Performanya bahkan membuat publik menjulukinya sebagai calon "Zidane baru" untuk Inggris.
Namun, musim ini jalan mereka bertemu di titik rumit. Amorim memiliki visi taktik sendiri, sementara Mainoo berusaha mempertahankan tempat di tengah persaingan dengan nama-nama besar di lini tengah United.
Kronologi Ketegangan yang Muncul
Awal musim menjadi titik balik pertama. Mainoo hanya duduk di bangku cadangan dalam dua laga Premier League, kalah bersaing dengan Bruno Fernandes, Mason Mount, dan Casemiro.
Ketidakpastian semakin memanas ketika laporan menyebut Mainoo meminta kenaikan gaji signifikan. Negosiasi yang tersendat menambah jarak antara pemain dan klub.
Puncaknya, media Inggris melaporkan bahwa Mainoo mulai mempertimbangkan opsi hengkang jika situasi tak kunjung berubah hingga akhir bursa transfer.
Apa Kata Amorim soal Mainoo
Dalam konferensi pers, Amorim menegaskan keputusannya murni alasan taktis. Ia menyebut Mainoo masih bersaing ketat dengan Bruno Fernandes untuk posisi inti di lini tengah.
Amorim juga menekankan bahwa pemain muda itu akan diberi kesempatan jika siap memenuhi standar intensitas permainan yang ia terapkan. Namun, ucapannya dianggap sebagian pihak sebagai sinyal kurang percaya terhadap sang gelandang.
Media seperti The Guardian bahkan menyebut Amorim menilai Mainoo belum cukup bugar untuk sistem pressing cepat yang ia andalkan. Hal ini mempertegas mengapa kesempatan bermain sulit didapatkan sang pemain.
Secara taktis, sistem Amorim menuntut gelandang yang agresif, cepat, dan konsisten dalam pressing. Mainoo memang punya visi dan kontrol bola, tapi dianggap belum cukup kuat dalam sisi fisik.