Liputan6.com, London Bayangkan hidup tanpa tidur selama dua tahun. Itulah penderitaan yang diklaim dialami oleh seorang pria asal Inggris bernama Oliver Alvis, yang menyebut dirinya terjebak dalam kondisi melek meski sudah mengonsumsi obat penenang dosis tinggi.
Beberapa tahun lalu, hidup Alvis berjalan normal. Ia bekerja sebagai kondektur kereta dan baru membeli apartemen dengan empat kamar, dikutip dari laman Oddity Central, Rabu (27/8/2025).
Advertisement
Namun, semuanya berubah sejak satu malam ketika ia tidak bisa tidur.
Awalnya ia mengira hanya mengalami insomnia sementara, tetapi kondisi itu terus berlanjut hingga kini dan hidupnya pun tak tenang.
"Saya bukan cuma kurang tidur; ini benar-benar tidak tidur sama sekali," kata Alvis kepada Mail Online.
"Saya tidak ngantuk sama sekai. Saya selalu dalam kondisi melek. Siang tanpa akhir berubah jadi malam tanpa akhir, dan itu benar-benar siksaan. Bukan cuma lelah, tapi juga menghancurkan jiwa," tambahnya.
Pengakuannya
Pria 32 tahun itu mengaku, dua tahun terakhir telah menghapus siapa dirinya yang dulu.
"Saya sudah kehilangan hampir segalanya. Diri saya yang dulu sudah hilang," ujarnya.
"Bagaimana bisa sesuatu yang begitu alami, begitu penting seperti tidur, benar-benar direnggut dari saya? Dulu saya bertanya-tanya, rasa sakit seperti apa yang bisa bikin orang ingin mati. Sekarang saya paham. Saya tidak ingin mati, tapi saya tidak bisa menahan siksaan ini lebih lama. Saya rela memberikan setiap uang yang sudah saya hasilkan hanya untuk bisa menutup mata dan tidur," tambahnya.
Gejala yang ia rasakan sangat parah. Otot dan tulangnya terus terasa sakit, tubuhnya seolah dibungkus besi, matanya seperti meleleh keluar dari tengkorak, dan tekanan di otaknya nyaris tak tertahankan.
Ia bahkan sudah kesulitan berjalan lurus, penglihatannya memburuk, dan sistem pencernaannya ikut terganggu akibat kurang tidur ekstrem.
Putus asa, Alvis menjual rumah barunya dan kembali tinggal bersama ibunya.
Ia kemudian berkeliling dunia untuk mencari jawaban, mulai dari India, Italia, Turki, hingga Kolombia. Berbagai terapi, obat, bahkan ramuan halusinogen sudah ia coba, namun tidak satu pun berhasil memberinya tidur yang ia dambakan.
"Saya sering berjalan sendirian di malam hari, iri melihat para tunawisma bisa tidur di emperan toko," kata Alvis.
"Saya bahkan rela bertukar tempat dengan mereka, hanya supaya bisa tidur, sesuatu yang rela saya tukar dengan semua harta saya," tambahnya.
Ia menambahkan bahwa bahkan obat penenang paling kuat yang diberikan dokter pun gagal membuatnya tidur. Kini, Alvis hanya bisa berharap ada ilmuwan atau dokter yang tahu apa yang sebenarnya ia alami.
Kisahnya sempat viral di media sosial dan memicu perdebatan.
Ada yang percaya dengan klaimnya, namun banyak juga yang meragukan, karena secara biologis mustahil manusia bisa bertahan tanpa tidur selama dua tahun.
Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa anjing yang terus dipaksa melek akan mati dalam 17 hari, sementara tikus hanya bertahan 32 hari.
Beberapa dokter menduga Alvis mungkin menderita paradoxical insomnia, kondisi ketika pasien merasa terjaga padahal otaknya sebenarnya tetap masuk tahap tidur ringan. Namun, sekalipun diagnosis ini benar, penderitaan Alvis tetap nyata: ia merasa sudah dua tahun hidup tanpa tidur.