Elang Pemburu Terjual Rp5 Miliar dalam Lelang di Arab Saudi

Apa yang membuat elang pemburu ini bernilai jual tinggi?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 26 Agustus 2025, 08:06 WIB
Ilustrasi elang putih. (Dok. AFP)

Liputan6.com, Riyadh - Seekor elang pemburu terjual seharga 1,2 juta Saudi Riyal atau sekitar Rp5 miliar pada Sabtu (23/8/2025), dalam acara International Falcon Breeders Auction di Malham, Arab Saudi.

Burung gyrfalcon muda berbulu putih murni dari peternakan RX di Amerika Serikat menjadi burung termahal yang terjual pada acara tahun ini, yang berakhir pada Senin (25/8).

Kelangkaan bulu putih murni menjadikan gyrfalcon ini salah satu jenis paling prestisius dalam tradisi falconry, sehingga harganya bisa melambung tinggi.

Selain itu, pada Sabtu juga terjual dua ekor elang muda hasil persilangan shaheen (peregrine) dan gyrfalcon: satu dari Border Falcons Farm di Inggris seharga 28.000 Saudi Riyal atau sekitar Rp121,3 juta dan satu lagi dari Falcon Mews Farm di Inggris seharga 48.000 Saudi Riyal sekitar Rp208 juta.

Pemilik elang, Mohammed Al-Blaidan, yang telah membeli beberapa burung dari lelang tersebut dalam beberapa tahun terakhir, mengatakan bahwa penyelenggara acara, Saudi Falcons Club, memainkan peran penting dalam mempertemukan para peternak dalam satu wadah.

"Menyatukan berbagai upaya di bawah naungan klub ini telah sangat mempermudah urusan logistik. Kini kami berurusan dengan satu entitas yang jelas dan dikenal luas, yang memberi kesan profesional dan terorganisasi pada seluruh sektor. Namun, menurut saya, penyediaan ruang pamer yang lebih besar dan lapang akan menjadi langkah penting untuk mengembangkan acara ini sekaligus membuatnya lebih menarik bagi peserta maupun pembeli dari seluruh dunia," tutur Al Blaidan seperti dilansir Arab News.

Warisan Budaya

Al-Blaidan menjelaskan bahwa upaya perusahaan lokal turut membantu meningkatkan sekaligus melestarikan warisan falconry untuk generasi mendatang. Tradisi falconry—seni melatih dan berburu dengan elang—telah menjadi bagian dari identitas budaya Arab selama berabad-abad, bahkan diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda Kemanusiaan.

"Falconry adalah bagian tak terpisahkan dari identitas kami dan mendukungnya berarti menjaga sebuah warisan yang hidup," kata Al-Blaidan.

Menurutnya, media sosial juga memainkan peran besar dalam mempopulerkan falconry di era modern.

"Peran platform media sosial dalam mengembangkan hobi ini dan menyebarkannya secara global tidak bisa diabaikan. Media sosial menjadi sarana efektif untuk berkomunikasi, bertukar pengalaman, serta menampilkan produk, sekaligus menarik minat generasi muda pada warisan autentik ini," ungkap Al-Blaidan.

Al-Blaidan menyatakan optimisme bahwa olahraga ini mampu menarik amatir, pakar, maupun wisatawan dari seluruh dunia, yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi langsung dalam memperkuat perekonomian nasional.

Sementara itu, juru bicara klub Walid Al-Tawil mengatakan kepada Arab News bahwa sektor falconry merupakan salah satu sektor dengan nilai pasar tinggi, baik di tingkat lokal maupun regional.

"Lelang ini meningkatkan nilai tersebut dengan mempertemukan produsen terkemuka di satu tempat, mendorong persaingan, serta menghasilkan keuntungan lebih besar bagi peternak dan investor," sebut Al-Tawil.

Menurut Al-Tawil, lelang ini juga membuka pintu bagi berbagai proyek baru, mulai dari pendirian peternakan khusus, layanan perawatan dan pelatihan elang tingkat lanjut, hingga program ekowisata yang terkait dengan falconry, sehingga menghadirkan peluang investasi yang beragam.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya