Liputan6.com, Jakarta - Di berbagai penjuru Tiongkok, baik di pedesaan maupun perkotaan, komunitas khusus perempuan semakin banyak bermunculan. Kehadirannya jadi jawaban atas kebutuhan ruang aman yang bebas dari tekanan sosial maupun penilaian laki-laki.
Di sebuah pondok pedesaan di Provinsi Zhejiang, suasana riuh penuh tawa terdengar ketika para perempuan berkumpul, bermain permainan papan, dan menyeruput kopi bersama. Momen hangat ini mencerminkan tren baru yang semakin digemari perempuan dari berbagai latar belakang.
Advertisement
Bagi mereka, keberadaan ruang aman perempuan bukan sekadar tempat singgah, melainkan wadah untuk saling memberi dukungan emosional, berbagi pengalaman pribadi, serta melepaskan beban dari kehidupan sehari-hari.
Salah satu peserta, Zhang Wenjing (43), berkata, “Lingkungan yang seluruhnya perempuan membuat saya merasa aman. Di antara sesama perempuan, kami bisa lebih mudah berbicara tentang hal-hal tertentu," ujarnya pada AFP, seperti dikutip dari Japan Today,24 Agustus 2025. Peserta lain, Chen Fangyan (28), menambahkan, "Tidak dipaksa memakai bra saja sudah jadi semacam kebebasan."
Latar Belakang Berdirinya Ruang Perempuan
Salah satu ruang aman perempuan adalah Keke's Imaginative Space yang didirikan Chen Yani atau akrab disapa Keke. Ia berkata, "Saya mengalami berbagai tingkat pelecehan dari laki-laki, sampai pada titik di mana saya sering merasa tidak bisa bekerja secara normal. Saya mulai berpikir tentang seperti apa lingkungan kerja yang aman dan santai. Tempat di mana saya tidak merasa was-was."
Untuk mewujudkan idenya, Chen merenovasi sebuah rumah di Lin'an, pinggiran Hangzhou, sekitar 200 kilometer dari Shanghai. Ia mempromosikan inisiatif ini melalui Xiaohongshu (aplikasi media sosial Tiongkok) dan berhasil mengumpulkan dua belas perempuan pada acara perdana saat Tahun Baru Imlek.
Peserta datang dengan beragam alasan. Ada yang ingin suasana baru, ada pula yang ingin menghindari pertanyaan keluarga.
Variasi Ruang dan Peran Media Sosial
Chen menjelaskan, "Dalam keluarga, perempuan sering harus mengurus kakek-nenek, anak-anak, dan pekerjaan rumah tangga. Belum lagi tanggung jawab pekerjaan. Mereka butuh tempat di mana tidak harus memainkan peran apapun dan bisa menjadi diri mereka sendiri."
Fenomena ruang khusus perempuan juga berkembang di daerah lain di Tiongkok. Di Xiuxi, sebuah desa di Zhejiang, seorang perempuan bernama Yang Yun membuka Her Space. Ruang ini didesain dengan suasana sederhana: perabot kayu bernuansa tradisional dan kaligrafi di dinding.
Yang mengatakan, "Jika seorang perempuan kehilangan pekerjaan, orangtua, bertengkar dengan suami, atau merasa lelah dengan kehidupan kota, dia tahu bisa datang ke sini dan menemukan kehangatan." Hingga kini, tercatat 120 perempuan telah bergabung sebagai anggota dengan membayar biaya keanggotaan.
Ruang Aman dan Harapan Jangka Panjang
Menurut Yang, tujuan utamanya bukan seberapa sering para anggota hadir, melainkan memastikan keberadaan ruang itu sendiri. Ia menuturkan, "Apakah mereka datang atau tidak tidaklah penting. Yang penting adalah tempat ini ada. Itu memberi mereka kekuatan mental."
Selain itu, media sosial juga jadi sarana penting dalam menyebarkan informasi tentang komunitas semacam ini, sehingga perempuan lebih mudah menemukan pilihan gaya hidup alternatif dan membangun jejaring baru sesuai kebutuhan.
Keberadaan komunitas khusus perempuan tidak lepas dari kritik. Sebagian pihak menilai ruang semacam ini bisa memicu jarak antara laki-laki dan perempuan. Namun, Chen membantah pandangan tersebut.
Ia menegaskan, "Perempuan merupakan kelompok sosial dengan lintasan hidup dan masalah yang serupa. Sering kali mereka lebih mudah saling memahami dan berempati."