Pacu Jalur, Simbol Persatuan dan Kebersamaan Berbalut Penghormatan Terhadap Tradisi

oleh Helmi FithriansyahDiterbitkan 24 Agustus 2025, 13:05 WIB
Pacu Jalur, Simbol Persatuan dan Kebersamaan Berbalut Penghormatan Terhadap Tradisi

Pacu Jalur merupakan lomba dayung tradisional khas daerah Kuantan Singingi (Kuansing) yang hingga sekarang masih ada dan berkembang serta menjadi tren di Provinsi Riau. Lomba dayung ini menggunakan perahu yang terbuat dari kayu gelondongan yang oleh masyarakat sekitar juga sering disebut jalur.

Dalam cerita masyarakat sekitar, Pacu Jalur merupakan lomba balap perahu atau sampan yang telah dilakukan ratusan tahun. Dengan dayung dan perahu berwarna-warni, para pendayung memadati perahu-perahu panjang. Mereka mendayung dengan penuh semangat di hadapan penonton yang membludak menyaksikan lomba dayung tradisional khas daerah Kuantan Singingi.

Ajang ini sempat mendunia setelah tarian Rayyan Arkan Dikha di bagian depan perahu tradisional viral di media sosial. Untuk diketahui, dalam kepercayaan masyarakat setempat, pacu jalur merupakan puncak dari seluruh kegiatan, upaya, dan keringat warga selama setahun.

Sebelum masa penjajahan Belanda, pacu jalur kerap digelar setiap merayakan hari besar umat Islam seperti Maulid Nabi Muhammad, Idul Fitri dan Tahun Baru Islam.

Tradisi tahunan ini tidak hanya menghadirkan perlombaan dayung yang menegangkan, tetapi juga memperlihatkan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing) yang diwariskan turun-temurun.

Seorang anak laki-laki menari di bagian depan perahu tradisional selama festival balap perahu Pacu Jalur di Sungai Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, pada 21 Agustus 2025. (Wahyudi/AFP)
Pacu Jalur merupakan lomba dayung tradisional khas daerah Kuantan Singingi (Kuansing) yang hingga sekarang masih ada dan berkembang serta menjadi tren di Provinsi Riau. (Wahyudi/AFP)
Lomba dayung ini menggunakan perahu yang terbuat dari kayu gelondongan yang oleh masyarakat sekitar juga sering disebut jalur. (Wahyudi/AFP)
Dalam cerita masyarakat sekitar, Pacu Jalur merupakan lomba balap perahu atau sampan yang telah dilakukan ratusan tahun. (Wahyudi/AFP)
Dengan dayung dan perahu berwarna-warni, para pendayung memadati perahu-perahu panjang. (Wahyudi/AFP)
Mereka mendayung dengan penuh semangat di hadapan penonton yang membludak menyaksikan lomba dayung tradisional khas daerah Kuantan Singingi. (Wahyudi/AFP)
Ajang ini sempat mendunia setelah tarian Rayyan Arkan Dikha di bagian depan perahu tradisional viral di media sosial. (Wahyudi/AFP)
Untuk diketahui, dalam kepercayaan masyarakat setempat, pacu jalur merupakan puncak dari seluruh kegiatan, upaya, dan keringat warga selama setahun. (Wahyudi/AFP)
Sebelum masa penjajahan Belanda, pacu jalur kerap digelar setiap merayakan hari besar umat Islam seperti Maulid Nabi Muhammad, Idul Fitri dan Tahun Baru Islam. (Wahyudi/AFP)
Tradisi tahunan ini tidak hanya menghadirkan perlombaan dayung yang menegangkan, tetapi juga memperlihatkan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing) yang diwariskan turun-temurun. (Wahyudi/AFP)
Sebelum perahu jalur diturunkan ke sungai, para peserta bersama tokoh adat terlebih dahulu melakukan berbagai prosesi adat yang diyakini membawa keberkahan dan keselamatan selama bertanding. (Wahyudi/AFP)
Rangkaian kegiatan ini menggambarkan betapa Pacu Jalur bukan sekadar olahraga, melainkan juga simbol persatuan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi. (Wahyudi/AFP)

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya