Ibu Negara Turki Desak Istri Melania Trump Angkat Suara soal Gaza

Bagaimana seruan yang diberikan Emine Erdogan kepada istri Trump?

oleh Indra Cahya VanleonDiperbarui 24 Agustus 2025, 12:10 WIB
Emine Erdoğan (Emine Erdogan), ibu negara Turki, istri Presiden Recep Tayyip Erdoğan. (tccb.gov.tr)

Liputan6.com, Ankara - Ibu Negara Turki, Emine Erdogan, menulis surat kepada istri Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Melania Trump.

Dalam surat itu, ia mendesak Melania agar menghubungi Perdana Menteri Israel dan menyuarakan penderitaan anak-anak di Gaza, demikian keterangan pihak berwenang di Ankara, Sabtu (23/8/2025).

Dalam suratnya yang bertanggal Jumat dan dipublikasikan oleh kantor kepresidenan Turki, Emine Erdogan mengatakan dirinya tersentuh oleh surat Melania Trump baru-baru ini kepada Presiden Rusia Vladimir Putin soal anak-anak yang terdampak perang di Ukraina, dilansir dari Japan Today, Minggu (24/8).

"Saya yakin bahwa kepedulian besar yang telah Anda tunjukkan untuk 648 anak Ukraina ... juga akan Anda sampaikan untuk Gaza," tulis Emine Erdogan.

Seruan Untuk Gaza

Di sisi lain, dalam kurun waktu 24 jam terakhir, otoritas kesehatan di Jalur Gaza pada Senin 18 Agustus 2025 mencatat ada tujuh kematian akibat kelaparan. Dua orang korban di antaranya adalah anak-anak. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Emine Erdogan menyerukan kepada Melania Trump agar menggunakan pengaruhnya untuk meningkatkan kesadaran publik.

Ia menyebut langkah itu sebagai "tanggung jawab bersejarah terhadap rakyat Palestina," terutama saat ini ketika pengakuan dunia terhadap Palestina semakin meluas.

"Saat ini, ketika dunia mengalami kebangkitan bersama dan pengakuan atas Palestina telah menjadi kehendak global, saya percaya bahwa seruan Anda atas nama Gaza akan memenuhi tanggung jawab bersejarah bagi rakyat Palestina,' lanjut surat Emine Erdogan.

Pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait surat tersebut. 

Sebuah lembaga pemantau kelaparan global pada Jumat menetapkan Kota Gaza dan wilayah sekitarnya secara resmi mengalami kelaparan, dan kondisi itu diperkirakan akan meluas. Tekanan internasional terhadap Israel pun meningkat agar membuka akses bantuan lebih banyak ke wilayah Palestina tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak laporan itu dengan menyebutnya sebagai "kebohongan terang-terangan". Ia menegaskan Israel memiliki kebijakan untuk mencegah kelaparan, bukan menyebabkannya.

Perang di Gaza sendiri dipicu pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas menewaskan 1.200 orang di Israel selatan dan menyandera sekitar 250 orang, menurut catatan Israel. Sejak saat itu, kampanye militer Israel telah menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina, menurut otoritas kesehatan Gaza.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya