Manfaat Digitalisasi Pasar Tradisional: Copet Berkurang, Primanisme Menyusut

Digitalisasi turun mendorong pertumbuhan ekonomi serta menciptakan transaksi yang lebih cepat, aman, dan transparan.

oleh Septian DenyDiperbarui 26 Agustus 2025, 14:59 WIB
Ilustrasi QRIS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Pemprov DKI Jakarta bersama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bank Indonesia (BI) menggelar lomba Digitalisasi Pasar. Hal ini bertujuan untuk mendorong pasar tradisional beralih ke sistem pembayaran digital demi menciptakan transaksi yang lebih cepat, aman, dan transparan. 

Gubernur Jakarta Pramono Anung mengatakan, Jakarta memberikan kontribusi 16,61% terhadap GDP nasional dengan pertumbuhan 5,18%, lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,12%. Artinya Jakarta tumbuh lebih baik. Salah satu faktor pendorongnya adalah digitalisasi.

"Dengan digitalisasi, copet berkurang, primanisme menyusut, dan pasar Tanah Abang sebagai sentra pasar ASEAN bisa kembali hidup. Karena itu saya mengapresiasi perbankan, BI, OJK, serta Pasar Jaya yang sudah berkolaborasi. Hasilnya luar biasa, penggunaan QRIS di 20 pasar meningkat hampir 47%, NPWP pedagang juga naik signifikan, dan transaksi e-commerce melonjak lebih dari 40%," kata dia, dikutip Minggu (24/8/2025). 

Menurut dia, penggunaan QRIS, termasuk transaksi dalam transaksi pembayaran menunjukkan kemajuan yang luar biasa dalam hal digitalisasi keuangan.

"Karena saya berpikirnya sederhana begini, digitalisasi tidak bisa dihindarkan. Tetapi, kalau proses literasinya tidak dilombakan, para perbankannya tidak diadu, pasarnya tidak diamati, pasti tidak akan terjadi lompatan, lonjakan. Maka ketika pada pembukaan Lomba Digitalisasi Pasar, saya tidak membayangkan bahwa kenaikannya bisa sangat signifikan," tutur dia.

 

 

 

Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan

Gubernur Jakarta Pramono Anung dalam acara peluncuran rebranding "call name" dan logo baru PT Bank DKI di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (22/6/2025) (Istimewa)

Sementara itu, Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo menyampaikan, Bank Jakarta menjadikan Lomba Digitalisasi Pasar ini sebagai ajang untuk mendorong literasi dan inklusi keuangan.  

“Kami memandang digitalisasi pasar tradisional sebagai bagian dari transformasi ekosistem keuangan Jakarta. Upaya ini tidak hanya menghadirkan kemudahan transaksi melalui QRIS dan EDC, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi para pelaku UMKM untuk masuk dalam sistem keuangan formal. Bank Jakarta berkomitmen menjadikan digitalisasi sebagai fondasi pemberdayaan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan,” ujar Agus.

Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, menyampaikan bahwa Bank Jakarta akan terus meningkatkan kolaborasi dengan Pasar Jaya serta mendorong digitalisasi pasar ke depannya. Ia bahkan menyebut ajang ini menjadi momentum ke depan bagi Bank Jakarta untuk mendorong digitalisasi pasar-pasar di seluruh Jakarta.

Orang Indonesia Makin Senang Belanja Pakai QRIS, Ini Buktinya

Cara Daftar QRIS untuk Pedagang (sumber: qris.id)

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Juli 2025 tetap mencatatkan pertumbuhan yang signifikan.

Dari seluruh instrumen pembayaran digital, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi yang paling menonjol dengan lonjakan volume transaksi hingga 162,77 persen secara tahunan (yoy).

"Volume transaksi pembayaran digital melalui QRIS yang tumbuh tinggi 162,77% (yoy)," kata Perry dalam konferensi pers RDG BI Agustus 2025, Rabu (20/8/2025).

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin masifnya adopsi QRIS di masyarakat, baik dari sisi jumlah pengguna maupun merchant. Dengan ekosistem yang terus berkembang, QRIS berhasil menjadi tulang punggung transformasi pembayaran digital yang inklusif dan mudah diakses.

Selain QRIS, peningkatan juga terjadi pada aplikasi mobile banking dan internet banking, dengan kenaikan volume transaksi masing-masing 26,07 persen (yoy) dan 12,68 persen (yoy).

Secara keseluruhan, pembayaran digital sepanjang Juli 2025 naik 45,30 persen (yoy) hingga mencapai 4,44 miliar transaksi.

 

BI-FAST dan BI-RTGS

Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Perry menambahkan, keberhasilan sistem pembayaran digital juga ditopang oleh infrastruktur yang kuat. Layanan BI-FAST mencatat pertumbuhan volume transaksi ritel sebesar 37,56 persen (yoy), dengan total 414,62 juta transaksi senilai Rp1.016,48 triliun sepanjang Juli 2025.

Sementara itu, sistem BI-RTGS (Real Time Gross Settlement) yang menangani transaksi bernilai besar mencatatkan 959,32 ribu transaksi dengan nilai mencapai Rp19.791,94 triliun.

"Sementara dari sisi pengelolaan uang Rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 9,68% (yoy) menjadi Rp1.141,83 triliun pada Juli 2025," ujarnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya