Liputan6.com, Boyolali: Bencana kekeringan belum juga berakhir melanda sejumlah wilayah di Tanah Air. Ironisnya, debit air Waduk Kedungombo di Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah malah terus menyusut drastis di musim kemarau ini. Padahal, selain untuk irigasi ke sejumlah wilayah dan lahan peternakan ikan, air Waduk Kedungombo pun digunakan sebagai bagian dari pemasok listrik Jawa dan Bali. Berdasarkan pemantauan SCTV baru-baru ini, debit air Waduk Kedungombo pada musim kering sudah mencapai di bawah 60 meter. Padahal, pada musim kemarau tahun-tahun silam, tingkat penurunan debit air tidak lebih dari 70 hingga 75 meter.
Dampak yang dirasakan warga setempat tentu amat menyayat hati. Mereka tak bisa lagi memelihara atau mencari ikan di sana. Bahkan, perahu yang biasa digunakan mencari ikan kandas. Bagi warga pemilik keramba apung untuk pembibitan ikan, kondisi tersebut membuat usaha mereka tak berfungsi optimal. Selain itu, bekas genangan air waduk yang ditanami padi pun tidak berhasil dengan baik karena tak ada hujan.
Kini, bekas bangunan seperti pagar rumah, jembatan, dan bekas potongan pohon yang sebelumnya merupakan perkampungan yang dijadikan waduk, kembali terlihat. Tak hanya itu, sisi kiri dan kanan waduk sekarang dapat digunakan sebagai jalan dan menjadi lokasi alternatif bermain untuk bocah-bocah setempat.
Kondisi tadi sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya. Empat dari total 37 waduk di Jateng dilaporkan mulai mengering pada akhir Juni lampau [baca: Air Sejumlah Waduk di Jateng Menyusut[. Di antaranya adalah Waduk Kedungombo dengan ketinggian elevasi permukaan air sekitar 80,14 meter. Dalam keadaan normal, elevasi permukaan air Waduk Kedungombo mencapai 90 meter. Waduk lain yang juga menyusut adalah Waduk Gajahmungkur, Wonogiri, Waduk Sempor, Kebumen, dan Waduk Merica, Banjarnegara.
Menurut Balai Sumber Daya Air Provinsi Jateng di Semarang, enam dari 13 waduk kecil di Jateng juga tak dapat menyalurkan air ke daerah sekitar. Fasilitas yang diproyeksikan sebagai lokasi penyedia air itu adalah Waduk Lodanwetan, Rembang, Waduk Pumbon, dan Waduk Nawangan, Wonogiri, Waduk Gebyar, Sragen, Waduk Cengklik, serta Waduk Bade, Boyolali.
Selain berbuntut krisis kebutuhan air bagi warga dan segala kegiatannya, kapasitas listrik yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga air pun ikut melorot. Buntutnya, setrum untuk kebutuhan Jawa dan Bali bakal terkena pemadaman secara bergantian [baca: Kemarau Berkepanjangan, Listrik Dipadamkan Bergilir]. Maklum, kekeringan di sejumlah waduk PLTA telah mengurangi daya listrik sebesar 800-900 megawatt. Sisa daya listrik sebesar 700 MW hanya bisa digunakan selama tiga jam pada malam hari.
Sejauh ini, kapasitas listrik yang menurun berusaha diatasi dengan mengaktifkan pembangkit listrik tenaga termal atau panas bumi. Bahkan pemerintah berencana menyalurkan dana sebanyak Rp 36 miliar buat program padat karya penanggulangan dampak kekeringan di berbagai wilayah di Indonesia [baca: Pemerintah Menyiapkan Dana Program Padat Karya]. Pemerintah juga berjanji membangun sejumlah bendungan, termasuk Bendungan Jatigede untuk mengatasi kekeringan di Indramayu dan Cirebon, Jawa Barat.
Bencana kekeringan memang tak hanya melanda Pulau Jawa. Merujuk pemantauan dari waktu ke waktu di Provinsi Lampung, kini sebagian warga setempat sudah tak punya pilihan selain mengkonsumsi tepung jagung. Pasalnya, selain tak mampu membeli beras, areal sawah yang ditanami padi dilaporkan gagal panen, lantaran tak mendapat pasokan air. Di Sidorejo, Lampung Timur dan Natar serta Tanjungbintang di Lampung Selatan, misalnya.
Penduduk di tiga wilayah tadi adalah kelompok yang sama sekali tak tersentuh bantuan beras cuma-cuma dari pemerintah. Tak pelak lagi, sebagian dari mereka terpaksa memakan jagung hasil panen enam bulan lampau. Sementara warga yang masih tergolong beruntung, memilih membeli beras dengan harga Rp 2.500 per kilogram, untuk ukuran beras yang paling murah.
Warga berupaya beradaptasi dengan keadaan tak mengenakkan itu. Menurut warga pengkonsumsi tepung jagung, rasa makanan pengganti nasi itu jauh lebih enak ketimbang mesti memakan tiwul yang terbuat dari singkong, seperti yang sebelumnya terpaksa dimakan warga di Natar [baca: Gagal Panen, Warga di Lampung Makan Tiwul]. Namun untuk menyantapnya, mereka membutuhkan waktu sekitar dua hari dan mesti memeras keringat ekstra kuat untuk menumbuknya menjadi tepung.
Sebelum ditumbuk, jagung direndam selama sehari semalam. Setelah berbentuk tepung dan dicampur air secukupnya, makanan itu dikukus hingga siap disantap. Beberapa warga yang masih memiliki sisa beras memilih mencampur tepung jagung dengan nasi, supaya rasanya lebih enak.
Ihwal beras gratis buat korban bencana kekeringan yang belum sampai bukan cerita baru. Buktinya, dari 1.051 desa pada 29 kabupaten dan kota se-Jateng yang dilanda kekeringan, hanya enam kabupaten saja yang akan mendapatkan alokasi beras bantuan pemerintah [baca: Bantuan Beras untuk Desa Kekeringan Belum Merata]. Beras bantuan itu pun belum disalurkan, karena pemerintah kabupaten masih mendata calon penerima. Padahal, tiga menteri terkait yang mengunjungi daerah kekeringan di Rembang, Jateng, sudah menerima laporan jumlah desa yang dilanda kekeringan.
Soal harga beras yang melonjak di Lampung bukanlah isapan jempol. Berdasarkan pemantauan SCTV, harga di Pasar Smep, Pasar Tugu, dan Pasar Kangkung terus merambat naik. Kenaikan ini telah berlangsung sejak sebulan silam dengan peningkatan harga rata-rata Rp 500 per kg. Di tiga pasar tersebut, beras kualitas sedang naik menjadi Rp 2.600 dari Rp 2.300 per kg. Sedangkan beras kualitas sedang pun naik Rp 400 dari harga semula Rp 2.300 per kg. Kenaikan serupa juga terjadi pada beras kualitas rendah dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.400 per kg.(BMI/Teguh Hadi Prayitno, Kukuh Ariwibowo, dan Bisrie Merduani)
Dampak yang dirasakan warga setempat tentu amat menyayat hati. Mereka tak bisa lagi memelihara atau mencari ikan di sana. Bahkan, perahu yang biasa digunakan mencari ikan kandas. Bagi warga pemilik keramba apung untuk pembibitan ikan, kondisi tersebut membuat usaha mereka tak berfungsi optimal. Selain itu, bekas genangan air waduk yang ditanami padi pun tidak berhasil dengan baik karena tak ada hujan.
Kini, bekas bangunan seperti pagar rumah, jembatan, dan bekas potongan pohon yang sebelumnya merupakan perkampungan yang dijadikan waduk, kembali terlihat. Tak hanya itu, sisi kiri dan kanan waduk sekarang dapat digunakan sebagai jalan dan menjadi lokasi alternatif bermain untuk bocah-bocah setempat.
Kondisi tadi sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya. Empat dari total 37 waduk di Jateng dilaporkan mulai mengering pada akhir Juni lampau [baca: Air Sejumlah Waduk di Jateng Menyusut[. Di antaranya adalah Waduk Kedungombo dengan ketinggian elevasi permukaan air sekitar 80,14 meter. Dalam keadaan normal, elevasi permukaan air Waduk Kedungombo mencapai 90 meter. Waduk lain yang juga menyusut adalah Waduk Gajahmungkur, Wonogiri, Waduk Sempor, Kebumen, dan Waduk Merica, Banjarnegara.
Menurut Balai Sumber Daya Air Provinsi Jateng di Semarang, enam dari 13 waduk kecil di Jateng juga tak dapat menyalurkan air ke daerah sekitar. Fasilitas yang diproyeksikan sebagai lokasi penyedia air itu adalah Waduk Lodanwetan, Rembang, Waduk Pumbon, dan Waduk Nawangan, Wonogiri, Waduk Gebyar, Sragen, Waduk Cengklik, serta Waduk Bade, Boyolali.
Selain berbuntut krisis kebutuhan air bagi warga dan segala kegiatannya, kapasitas listrik yang dihasilkan pembangkit listrik tenaga air pun ikut melorot. Buntutnya, setrum untuk kebutuhan Jawa dan Bali bakal terkena pemadaman secara bergantian [baca: Kemarau Berkepanjangan, Listrik Dipadamkan Bergilir]. Maklum, kekeringan di sejumlah waduk PLTA telah mengurangi daya listrik sebesar 800-900 megawatt. Sisa daya listrik sebesar 700 MW hanya bisa digunakan selama tiga jam pada malam hari.
Sejauh ini, kapasitas listrik yang menurun berusaha diatasi dengan mengaktifkan pembangkit listrik tenaga termal atau panas bumi. Bahkan pemerintah berencana menyalurkan dana sebanyak Rp 36 miliar buat program padat karya penanggulangan dampak kekeringan di berbagai wilayah di Indonesia [baca: Pemerintah Menyiapkan Dana Program Padat Karya]. Pemerintah juga berjanji membangun sejumlah bendungan, termasuk Bendungan Jatigede untuk mengatasi kekeringan di Indramayu dan Cirebon, Jawa Barat.
Bencana kekeringan memang tak hanya melanda Pulau Jawa. Merujuk pemantauan dari waktu ke waktu di Provinsi Lampung, kini sebagian warga setempat sudah tak punya pilihan selain mengkonsumsi tepung jagung. Pasalnya, selain tak mampu membeli beras, areal sawah yang ditanami padi dilaporkan gagal panen, lantaran tak mendapat pasokan air. Di Sidorejo, Lampung Timur dan Natar serta Tanjungbintang di Lampung Selatan, misalnya.
Penduduk di tiga wilayah tadi adalah kelompok yang sama sekali tak tersentuh bantuan beras cuma-cuma dari pemerintah. Tak pelak lagi, sebagian dari mereka terpaksa memakan jagung hasil panen enam bulan lampau. Sementara warga yang masih tergolong beruntung, memilih membeli beras dengan harga Rp 2.500 per kilogram, untuk ukuran beras yang paling murah.
Warga berupaya beradaptasi dengan keadaan tak mengenakkan itu. Menurut warga pengkonsumsi tepung jagung, rasa makanan pengganti nasi itu jauh lebih enak ketimbang mesti memakan tiwul yang terbuat dari singkong, seperti yang sebelumnya terpaksa dimakan warga di Natar [baca: Gagal Panen, Warga di Lampung Makan Tiwul]. Namun untuk menyantapnya, mereka membutuhkan waktu sekitar dua hari dan mesti memeras keringat ekstra kuat untuk menumbuknya menjadi tepung.
Sebelum ditumbuk, jagung direndam selama sehari semalam. Setelah berbentuk tepung dan dicampur air secukupnya, makanan itu dikukus hingga siap disantap. Beberapa warga yang masih memiliki sisa beras memilih mencampur tepung jagung dengan nasi, supaya rasanya lebih enak.
Ihwal beras gratis buat korban bencana kekeringan yang belum sampai bukan cerita baru. Buktinya, dari 1.051 desa pada 29 kabupaten dan kota se-Jateng yang dilanda kekeringan, hanya enam kabupaten saja yang akan mendapatkan alokasi beras bantuan pemerintah [baca: Bantuan Beras untuk Desa Kekeringan Belum Merata]. Beras bantuan itu pun belum disalurkan, karena pemerintah kabupaten masih mendata calon penerima. Padahal, tiga menteri terkait yang mengunjungi daerah kekeringan di Rembang, Jateng, sudah menerima laporan jumlah desa yang dilanda kekeringan.
Soal harga beras yang melonjak di Lampung bukanlah isapan jempol. Berdasarkan pemantauan SCTV, harga di Pasar Smep, Pasar Tugu, dan Pasar Kangkung terus merambat naik. Kenaikan ini telah berlangsung sejak sebulan silam dengan peningkatan harga rata-rata Rp 500 per kg. Di tiga pasar tersebut, beras kualitas sedang naik menjadi Rp 2.600 dari Rp 2.300 per kg. Sedangkan beras kualitas sedang pun naik Rp 400 dari harga semula Rp 2.300 per kg. Kenaikan serupa juga terjadi pada beras kualitas rendah dari Rp 2.000 menjadi Rp 2.400 per kg.(BMI/Teguh Hadi Prayitno, Kukuh Ariwibowo, dan Bisrie Merduani)