Disebut Bom Waktu, Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Segera Direstrukturisasi

Menanggapi beban utang proyek KCIC, KAI dan Danantara sedang menjajaki restrukturisasi. Simak detail biaya proyek yang membengkak hingga strategi penyelesaiannya.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 Agustus 2025, 19:30 WIB
Kereta cepat Jakarta-Bandung yang diberi nama 'Whoosh' terlihat setelah peresmiannya di stasiun Halim, Jakarta, 2 Oktober 2023. (Yasuyoshi CHIBA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Badan Pengelola Investasi Danantara kini tengah menjajaki kerja sama strategis untuk mencari solusi atas masalah finansial yang membelit proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Kereta Cepat Whoosh. Beban utang yang ditanggung oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menjadi fokus utama dari kolaborasi ini.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengonfirmasi bahwa proses penjajakan tersebut sedang berlangsung dan akan segera dirampungkan. Menurut Dony, penyelesaian proyek Whoosh merupakan agenda penting yang direncanakan akan dimasukkan ke dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Danantara tahun ini.

“Sedang kami lakukan penjajakan. Tentu akan kami bereskan proses itu sebagaimana kemarin kan juga Direktur Utama PT KAI juga sudah menyampaikan di DPR ya. Nanti akan kami selesaikan segera, nanti masuk di dalam RKAP kami tahun ini,” ujar Dony dikutip dari Antara, Jumat (22/8/2025).

Ia juga menegaskan bahwa pertemuan dengan pihak PT KAI sudah dilakukan, menandakan keseriusan kedua belah pihak dalam mencari solusi. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi jalan keluar bagi proyek strategis nasional (PSN) yang telah menjadi sorotan publik sejak awal digarap pada tahun 2016.

 

Usulan PT KAI

Kereta cepat Woosh bakal jadi sarana pendukung transportasi pada Piala Dunia U-17 2023. (dok. PSSI)

Langkah Danantara menjajaki penyelesaian masalah ini tidak terlepas dari pernyataan Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, Bobby secara terbuka mengusulkan restrukturisasi proyek Kereta Cepat Whoosh.

Ia bahkan menyebut proyek tersebut sebagai "bom waktu" bagi keuangan perusahaan. Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya beban finansial yang ditanggung PT KAI sebagai salah satu pemegang saham utama di KCIC.

"Kami dalami juga masalah KCIC, memang ini bom waktu. Kami akan koordinasi dengan Danantara untuk penyelesaian KCIC ini, selanjutnya untuk perbaikan dan restrukturisasi dari portofolio-portofolio yang ada,” ucap Bobby.

Keterlibatan Danantara sebagai badan pengelola investasi diharapkan dapat membawa perspektif baru dan solusi finansial yang komprehensif. Kolaborasi ini bertujuan untuk tidak hanya menyelesaikan masalah yang ada saat ini, tetapi juga untuk merestrukturisasi portofolio KAI secara keseluruhan agar lebih sehat dan berkelanjutan di masa depan.

 

Biaya Proyek Capai Rp 118,9 Triliun

Hingga pertengahan Oktober 2023, tiket Kereta Cepat Whoosh masih digratiskan untuk masyarakat. (BAY ISMOYO/AFP)

Beban utang yang kini ditangani Danantara dan KAI memang sangat signifikan. Total biaya proyek KCJB mencapai USD 7,27 miliar atau setara dengan sekitar Rp 118,9 triliun. Angka ini termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) yang mencapai 1,2 miliar dolar AS, menambah kompleksitas finansial proyek sejak awal pengerjaannya.

Tantangan finansial ini membuat perlunya peran aktif dari berbagai pihak, termasuk Danantara, untuk mencari solusi yang paling optimal. Penjajakan yang tengah dilakukan kedua belah pihak menunjukkan komitmen untuk mengatasi masalah finansial proyek tanpa mengorbankan operasional KAI sebagai salah satu BUMN transportasi strategis.

Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan langkah-langkah konkret untuk restrukturisasi dan perbaikan akan segera dirumuskan. Sinergi antara Danantara dan KAI menjadi kunci untuk memastikan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dapat berjalan dengan stabil dan tidak lagi menjadi beban bagi keuangan negara, serta memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya