Liputan6.com, Jakarta - Mengingat banyak produsen mobil hanya memenuhi standar keamanan minimum yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Standar ini seringkali tidak cukup untuk melindungi penumpang secara maksimal.
Sebagai bentuk upaya preventif, kamu sebagai penumpang mungkin bisa mencari posisi tengah belakang. Posisi ini dianggap paling aman karena lokasinya yang paling jauh dari kedua sisi mobil.
Advertisement
Selain itu, jarak ini menciptakan zona penyangga alami yang sangat efektif, memberikan ruang aman atau crush zone yang lebih luas saat terjadi tabrakan samping. Energi benturan akan banyak terserap sebelum mencapai posisi penumpang tengah.
Sebuah studi yang menganalisis data kecelakaan fatal menemukan fakta yang sangat mendukung teori ini. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal keselamatan berkendara internasional.
Penumpang di kursi tengah belakang memiliki peluang bertahan hidup rata-rata 25 persen lebih tinggi. Angka ini didapat setelah membandingkannya dengan posisi duduk penumpang lainnya.
Mengutip Pop Science, Kamis (28/8/2025), meskipun demikian, beberapa upaya preventif lainnya turut disebutkan oleh Byron Bloch. Ia mengingatkan bahwa memilih mobil teraman adalah fondasi utama dari keselamatan berkendara, karena posisi duduk terbaik tidak akan banyak membantu di mobil yang rapuh.
Maka dari itu, sebagai pembeli cerdas, kamu harus proaktif menanyakan fitur keselamatan yang lebih canggih. Jangan hanya bergantung pada brosur atau klaim iklan dari produsen mobil.
Pastikan kantong udara tirai samping (side curtain airbag) dapat melindungi penumpang di semua baris. Fitur ini sangat penting untuk melindungi kepala dari benturan jendela samping.
Selain kekuatan dari sasis dan keamanan airbag, pilihlah kendaraan yang menggunakan kaca laminasi pada semua jendela, bukan hanya kaca depan. Kaca ini tidak mudah pecah sehingga mencegah penumpang terlempar keluar.
Terakhir, cobalah untuk mencari tahu/menanyakan rasio kekuatan atap terhadap berat mobil, carilah angka 4.0 atau lebih tinggi. Angka ini menunjukkan atap yang kuat dan tidak mudah remuk saat terguling.
Aturan Khusus untuk Keselamatan Penumpang Anak
Berbicara soal keamanan dan perlindungan, anak juga harus mendapatkan keselamatan maksimal, terutama ketika sekeluarga sedang mengendarai mobil. Fisik mereka yang masih berkembang sangat rentan terhadap cedera serius.
Beberapa fitur keamanan yang ada pada mobil dirancang khusus untuk orang dewasa, sehingga bisa berakibat fatal bagi fisik anak karena desain dan fungsinya kurang ramah untuk anak kecil.
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan anak di bawah 13 tahun duduk di belakang. Aturan ini dibuat berdasarkan banyak penelitian tentang risiko kantong udara.
Studi lain menunjukkan kursi tengah belakang mengurangi risiko cedera anak hingga 43 persen, persentase ini sangat signifikan untuk diabaikan oleh para orang tua.
Angka itu didapat jika dibandingkan dengan anak yang duduk di kursi samping baris belakang, hasilnya perbedaan risiko antara posisi tengah dan samping ternyata cukup besar.
Jangan pernah berkompromi dengan menempatkan car seat atau anak kecil di kursi penumpang depan. Kesalahan ini bisa menjadi penyesalan yang sangat mendalam bagi orang tua. Risiko dari pengembangan kantong udara depan terlalu besar untuk diabaikan oleh siapa pun.
Ganti Ban Mobil Sembarang juga Berbahaya!
Terkadang, mungkin kamu sering menemui mobil dengan kondisi ban kempes atau bocor hanya di satu sisi. Untuk menangani masalah tersebut, sering kali pemilik cuman mengganti sisi yang bermasalah.
Padahal kenyataannya, praktik penggantian seperti ini bisa menjadi sumber malapetaka, karena ban baru dan lama yang tingkat keausannya berbeda bisa membuat mobil kehilangan keseimbangan.
Berikut beberapa resiko dari kebiasaan mengganti ban mobil sebelah:
1. Mobil Tidak Stabil
Ketika hanya satu ban yang diganti, mobil cenderung terasa tidak seimbang. Ban baru dan lama punya daya cengkeram berbeda sehingga respon mobil terhadap kondisi jalan juga tidak sama. Akibatnya, kendaraan bisa sulit dikendalikan, terutama saat melewati jalan rusak atau tikungan tajam.
2. Suspensi dan Kaki-kaki Tertekan
Perbedaan tingkat keausan ban membuat sistem suspensi bekerja lebih berat. Tekanan yang tidak merata bisa merusak shockbreaker, ball joint, hingga komponen kaki-kaki lainnya. Jika dibiarkan, kerusakan ini bisa berujung pada biaya perbaikan yang lebih besar.
3. Efisiensi Berkendara Menurun
Ban yang tidak seimbang meningkatkan risiko aquaplaning, membuat mobil mudah menarik ke salah satu sisi, bahkan membuat konsumsi bahan bakar jadi lebih boros.
Hal ini karena tahanan gulir meningkat dan tenaga mesin terbuang untuk menjaga laju mobil tetap stabil.