Liputan6.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer alias Noel.
Jauh sebelum OTT KPK, sejumlah pernyataan kontroversial Immanuel Ebenezer alias Noel sempat disorot. Salah satunya terkait pemecatan buruh PT Sritex, Maret 2025. Ia menyebut rela kehilangan jabatan daripada melihat buruh PT Sritex dipecat.
Advertisement
Ucapan tersebut dilontarkan ketika Noel menghadiri acara Istighosah Akbar bertajuk Keselamatan, Kebangkitan & Kejayaan Sritex di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Jumat 15 November 2024.
"Saya lebih baik kehilangan jabatan saya daripada saya harus melihat kawan-kawan buruh harus dipecat," kata Immanuel Ebenezer.
Saat itu, kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh PT Sritex tengah hangat diperbincangkan.
Dia juga sempat menyebut jika menyelesaikan persoalan PT Sritex itu mumet. Meski akhirnya dia menjelaskan maksud arti kata mumet yang dilontarkannya.
"Saya jawab dengan jujur. Saya bilang, ‘Wah, saya mumet nih soal itu.’ Eh, ternyata itu dikutip oleh kawan-kawan media. Tapi enggak apa-apa. Saya bertanggung jawab terhadap pernyataan itu," ujar Noel, Senin 23 Desember 2024.
Selain itu, kontroversi Noel juga sempat dibuat meradang oleh pengelola Sanel and Travel di Pekanbaru. Perusahaan dimaksud sebelumnya dilaporkan tahan ijazah mantan karyawannya.
Petinggi perusahaan masih cuek dan tak menghiraukan kedatangan Immanuel Ebenezer, Rabu siang, 14 Mei 2025. Padahal dia datang bersama Gubernur Riau Abdul Wahid, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Ade Kuncoro serta pejabat lainnya.
Wamenaker Immanuel Ebenezer akhirnya memerintahkan perusahaan dimaksud ditutup karena dinilai berbuat zalim terhadap mantan karyawan.
"Saya perintahkan tutup, saya sudah dua kali datang ke sini, tapi pemilik tidak ada, ini sangat tidak menghargai negara," tegas Immanuel.
Berikut sederet aksi dan kontroversi Wamenaker Immanuel Ebenezer dihimpun Tim News Liputan6.com:
1. Mumet soal Sritex
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer memberikan klarifikasi terkait pernyataan sebelumnya yang menyebut dirinya "mumet" saat menanggapi masalah PT Sri Rezeki Isman Tbk (Sritex).
Kasus hukum yang dihadapi perusahaan tekstil tersebut hingga kini belum mencapai penyelesaian.
Pernyataan "mumet" tersebut disampaikan Noel—sapaan akrab Immanuel Ebenezer—usai menghadiri rapat bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada Kamis 19 Desember 2024.
Dalam keterangannya, Noel mengaku belum mengetahui putusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak permohonan kasasi Sritex terkait status pailit yang sebelumnya ditetapkan oleh Pengadilan Niaga Semarang.
"Saya sedikit menjelaskan soal pernyataan 'mumet'. Kemarin saya tidak tahu bahwa ternyata setelah rapat dengan Pak Menko (Airlangga), saya ditanya oleh kawan-kawan (media) soal Sritex yang dipailitkan. Saya memang tidak tahu," jelas Immanuel saat ditemui di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Senin 23 Desember 2024.
Noel menjelaskan bahwa ungkapan 'mumet' adalah respons jujur atas ketidaktahuannya terhadap putusan MA saat ditanya media. Ia juga mengaku tidak keberatan jika pernyataannya menimbulkan persepsi di masyarakat dan siap bertanggung jawab atas ucapannya tersebut.
"Saya jawab dengan jujur. Saya bilang, 'Wah, saya mumet nih soal itu'. Eh, ternyata itu dikutip oleh kawan-kawan media. Tapi enggak apa-apa. Saya bertanggung jawab terhadap pernyataan itu," ujar Wamenaker.
2. Siap Kehilangan Jabatan Jika PHK Sritex Terjadi
Penyataan Wamenaker Immanuel Ebenezer alias Noel pernah viral hingga disorot publik yakni terkait pemecatan buruh PT Sritex, Maret 2025. Ia menyebut rela kehilangan jabatan daripada melihat buruh PT Sritex dipecat.
"Saya lebih baik kehilangan jabatan saya daripada saya harus melihat kawan-kawan buruh harus dipecat," kata Noel.
Saat itu, kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh PT Sritex tengah hangat diperbincangkan.
3. Persilakan Masyarakat Indonesia Kabur
Selain itu, Wamenaker Immanuel Ebenezer juga sempat menjadi sorotan publik setelah memberikan respons soal tagar #KaburAjaDulu yang sedang viral di media sosial.
#KaburAjaDulu merupakan tagar yang mendorong warga negara Indonesia (WNI) untuk meninggalkan Tanah Air dan bekerja di luar negeri.
Hal tersebut viral karena banyak yang mengeluhkan kualitas hidup sebagai tenaga kerja di Indonesia, sehingga bekerja di negeri orang dinilai sebagai salah satu solusi.
Alih-alih menanggapi dengan serius keluh kesah masyarakat, Immanuel Ebenezer justru mempersilakan WNI yang ingin berkarier di luar negeri untuk tidak perlu kembali ke Indonesia.
"Mau kabur, kabur sajalah. Kalau perlu jangan balik lagi, hi-hi-hi," ungkap Immanuel di Kantor Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Jakarta, Senin 17 Februari 2025.
4. Sempat Dicuekin Perusahaan dan Berdebat
Wakil Menteri Tenaga Kerja (Wamenaker) Immanuel Ebenezer Gerungan kembali meradang dibuat pengelola Sanel and Travel di Pekanbaru. Perusahaan dimaksud sebelumnya dilaporkan tahan ijazah mantan karyawannya.
Petinggi perusahaan masih cuek dan tak menghiraukan kedatangan Immanuel Ebenezer, Rabu siang, 14 Mei 2025. Padahal dia datang bersama Gubernur Riau Abdul Wahid, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Ade Kuncoro serta pejabat lainnya.
Immanuel Ebenezer akhirnya memerintahkan perusahaan dimaksud ditutup karena dinilai berbuat zalim terhadap mantan karyawan.
"Saya perintahkan tutup, saya sudah dua kali datang ke sini, tapi pemilik tidak ada, ini sangat tidak menghargai negara," tegas Immanuel.
Sebelumnya, Immanuel mendapat kabar pemilik perusahaan, Santi, berada di Kuala Lumpur, Malaysia. Belakangan didapat informasi pemilik telah berada di Pekanbaru dan berjanji menemui Immanuel.
Sejam menunggu di perusahaan, Santi tak kunjung datang. Immanuel terlihat kesal karena kedatanganya sudah 2 kali tapi tidak mendapatkan hasil serta kejelasan terkait penahanan ijazah.
Kantor perusahaan akhirnya disegel oleh Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kota Pekanbaru dan Dinas Tenaga Kerja setempat. Penutupan sementara disaksikan karyawan dan sekuriti perusahaan.
Sebelum dilakukan penyegelan, petugas terlebih dahulu melakukan pendataan terhadap karyawan yang aktif. Petugas juga menjelaskan persoalan yang sedang terjadi.
Para karyawan ini sebagiannya punya KTP dari luar Pekanbaru sehingga petugas meminta mereka agar memindahkan data domisili di Pekanbaru. Selanjutnya, petugas meminta para karyawan berkemas dan mengosongkan kantor dari aktivitas.
Kepala Satpol PP Pekanbaru Zulfahmi menjelaskan, pintu kantor tidak dikunci karena merupakan akses masuk. Di dalam juga banyak barang-barang sehingga dikhawatirkan hal tak diinginkan terjadi
"Takutnya nanti ada api atau hal yang tidak diinginkan," kata Zulfahmi.
Meski demikian, Zulfahmi menyatakan tidak boleh ada aktivitas di kantor hingga pemilik perusahaan mendatangi Pemerintah Kota Pekanbaru.
Sebelumnya, ada 47 mantan karyawan yang ijazahnya ditahan. Kasus sudah dilaporkan ke dinas tenaga kerja tapi belum tuntas.
5. Minta HRD yang Sebut Job Fair Formalitas Dipecat
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Republik Indonesia, Immanuel Ebenezer menanggapi pernyataan seorang HRD yang menyatakan 90 persen job fair hanya formalitas dan bukan benar-benar untuk mencari karyawan.
Saat diwawancarai oleh media, Wamenaker menilai pernyataan HRD tersebut sangat tidak bertanggung jawab dan tidak bisa dibiarkan.
"Nah itu pernyataan yang gak bertanggung jawab, formalitas. Saya minta HRD-nya untuk segera dipecat itu," ujar Immanuel dikutip kutip dari video di akun X @randomable_ pada Minggu 1 Juni 2025.
Alumni Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) ini mempertanyakan niat baik dari penyelenggaraan bura kerja jika benar yang disampaikan oleh pihak HRD tersebut.
Ia mengecam apabila ada pihak perusahaan yang mengikuti job fair hanya untuk memenuhi syarat administratif.
"Kok pernyataannya kurang ajar segitu? Formalitas. Jangan bikin job fair kalau begitu. Berarti dia ngada-ngada itu. Saya mau tahu nama perusahaannya, HRD-nya siapa?," kata Immanuel.
Immanuel janji melakukukan investigas mengenai klaim tersebut. Ia menegaskan, pernyataan tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja karena dianggap sebagai penyebaran informasi palsu yang mencederai kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah.
"Berarti kurang ajar itu. Ya kalau seandainya butuh investigasi, kita investigasi. Makanya maksud saya, HRD-nya siapa? Jangan bikin hoaks saya," tambah dia.
Seperti diketahui, seorang yang mengaku sebagai HRD menyebut 90 persen job fair yang digelar hanya bentuk formalitas saja.
"Aku salah satu staf HRD dan 90% job fair seperti ini itu hanya FORMALITAS karena perusahaan dipaksa oleh pemerintah untuk mengikuti kegiatan ini, padahal kita lagi nggak cari pekerja," tulisnya.
"Pihak perusahaan juga nggak bisa berbuat apa-apa daripada harus bayar denda. Saran aku kalau kalian cari loker paling akurat itu di JobStreet dan aplikasi sejenis, tambah relasi juga karena pihak perusahaan kebanyakan menanyakan ‘REKOMENDASI’ pada karyawannya. Pelamar rekomendasi itu kemungkinan diterimanya lebih tinggi," tulisnya.