Neraca Pembayaran Indonesia Defisit USD 6,7 Miliar pada Kuartal II 2025

Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan tercatat rendah di tengah perlambatan ekonomi global dan harga komoditas.

oleh Agustina MelaniDiperbarui 21 Agustus 2025, 12:27 WIB
Karyawan menghitung uang kertas rupiah yang rusak di tempat penukaran uang rusak di Gedung Bank Indonessia, Jakarta (4/4). Selain itu BI juga meminta masyarakat agar menukarkan uang yang sudah tidak layar edar. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II tetap terjaga.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan menuturkan, defisit transaksi berjalan tercatat rendah di tengah perlambatan ekonomi global dan harga komoditas.

Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat defisit yang terkendali di tengah ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi.

“Dengan perkembangan tersebut, NPI pada triwulan II 2025 mencatat defisit USD 6,7 miliar dan posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2025 tetap tinggi sebesar USD 152,6 miliar, atau setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” ujar Junanto seperti dikutip dari laman BI.go.id, Kamis (21/8/2025).

Ia menuturkan, posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Selain  itu, transaksi berjalan mencatat defisit yang rendah. Pada kuartal II 2025, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar USD 3,0 miliar atau 0,8% dari PDB, lebih tinggi dibandingkan dengan defisit USD 0,2 miliar atau 0,1% dari PDB pada kuartal I 2025.

“Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus, meski lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan harga komoditas,” kata dia.

 

Kenaikan Pembayaran Dividen

Ilustrasi Bank Indonesia.

Junanto menuturkan, di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas menurun sejalan dengan harga minyak global yang lebih rendah. Sementara itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, seiring dengan kenaikan pembayaran dividen dan bunga/kupon sesuai pola triwulanan.

"Surplus neraca pendapatan sekunder meningkat dipengaruhi kenaikan hibah dan remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri,” ujar dia.

Kinerja transaksi modal dan finansial tetap terkendali di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. 

Junanto menuturkan, investasi langsung membukukan peningkatan surplus dibandingkan kuartal I 2025 sebagai cerminan dari terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik. Investasi portofolio mencatat defisit terutama didorong oleh aliran keluar modal asing dalam bentuk surat utang domestik.

“Sementara itu, investasi lainnya mencatat surplus dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri sektor swasta,” kata dia.

Transaksi Modal dan Finansial

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam keterangan pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/4/2025), menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi masih diperkirakan berada di kisaran 4,7% hingga 5,5%, dengan titik tengah 5,1. (Liputan6.com/Angga Yuniar).

 Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial pada kuartal II 2025 mencatat defisit sebesar USD 5,2 miliar.

“Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait, guna memperkuat ketahanan sektor eksternal,” kata dia.

Kinerja NPI 2025

Teller menghitung mata uang Rupiah di Jakarta, Kamis (16/7/2020). Penguatan Rupiah dipengaruhi aliran masuk modal asing yang cukup besar pada Mei dan Juni 2020. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Junanto menambahkan, kinerja NPI 2025 diprediksi tetap sehat ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial serta defisit transaksi berjalan yang rendah dalam kisaran defisit 0,5% sampai dengan 1,3% dari PDB.

“Surplus transaksi modal dan finansial didukung oleh aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik yang tetap baik dan imbal hasil investasi yang menarik,” tutur dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya