Terungkap Penyebab Cuaca Ekstrem di Jabodetabek hingga 22 Agustus 2025

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan potensi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan mengguyur wilayah Jabodetabek hingga 22 Agustus 2025.

oleh Winda NelfiraDiperbarui 19 Agustus 2025, 13:41 WIB
Pejalan kaki menggunakan payung saat hujan deras di kawasan Thamrin, Jakarta, Rabu (23/11/2022). Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Isnawa Adji mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah apabila Jakarta mengalami cuaca ekstrem. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan potensi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan mengguyur wilayah Jabodetabek hingga 22 Agustus 2025.

“Peningkatan curah hujan ini diprediksi akan berlangsung hingga 22 Agustus 2025, sehingga masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca signifikan,” kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani kepada Liputan6.com, Selasa (19/8/2025).

Faktor Cuaca Tak Stabil

Menurut Andri, ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab hujan konsisten melanda wilayah Jabodetabek akhir-akhir ini, termasuk pada Selasa (19/8/2025) sejak dini hari hingga pagi hari ini. Andri menyebut, kondisi ini dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor dinamika atmosfer.

Rinciannya, fase Indian Ocean Dipole (IOD) atau fenomena iklim yang terjadi di Samudra Hindia, mirip dengan El Niño–La Niña di Samudra Hindia. Fase IOD negatif ini mendukung peningkatan pasokan uap air ke wilayah Indonesia barat.

“Kondisi tersebut diperkuat dengan suhu muka laut yang hangat, berkisar antara 28-30 °C, sehingga menyediakan energi tambahan bagi pertumbuhan awan hujan,” ucap Andri.

Kondisi cuaca yang tidak menentu ini juga disebabkan oleh fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada Kuadran 3 (Samudra Hindia). Fenomena ini turut memperkuat aktivitas konvektif dan distribusi kelembapan di sekitar Jabodetabek

Cuaca Ekstrem di Jabodetabek

Selain itu, kondisi cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek saat ini juga dikarenakan oleh aktivitas gelombang ekuator, khususnya Mixed Rossby Gravity (MRG) dan Low Frequency. Andri menyatakan, aktivitas sejumlah gelombang ekuator ini terpantau cukup aktif dan semakin meningkatkan potensi pembentukan awan hujan.

“Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat atmosfer berada dalam kondisi labil dan mendukung terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa wilayah,” katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya