IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi Selasa, Waspada Tekanan di Bawah 7.800

Koreksi yang terjadi pada IHSG tidak akan berlangsung besar jika sentimen positif tetap terjaga, seperti stabilnya nilai tukar rupiah, net inflow dana asing, serta potensi window dressing.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 19 Agustus 2025, 10:55 WIB
Kinerja saham emiten bank jumbo seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kompak ambrol. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpotensi melanjutkan koreksi pada perdagangan Selasa (19/8), setelah pekan lalu ditutup melemah di level 7.898,37 atau turun 0,41%.

Analis sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai pelemahan indeks saham tersebut menjadi tanda bahwa euforia pasar mulai mereda pasca IHSG mencetak rekor tertinggi di level 8.017.

“IHSG kini berada di bawah range resistance kuat di 7.806–7.911. Jika tekanan jual berlanjut dan indeks gagal kembali menembus serta bertahan di atas 7.911 dalam dua hari ke depan, maka kemungkinan besar IHSG akan menguji support di kisaran 7.750 terlebih dahulu, dan bahkan terbuka peluang menuju MA20 di 7.580,” jelas Hendra dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (19/8/2025).

Menurutnya, koreksi ini lebih disebabkan oleh aksi ambil untung serta ketidakmerataan kontribusi saham terhadap penguatan indeks. Reli IHSG disebut terlalu bergantung pada saham-saham konglomerasi dan teknologi berkapitalisasi besar yang sudah dalam kondisi overvalued secara jangka pendek.

 

Potensi Window Dressing

Pekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Meski terjebak di zona merah, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di level 5.841. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski begitu, Hendra menekankan bahwa koreksi yang terjadi tidak akan berlangsung besar jika sentimen positif tetap terjaga, seperti stabilnya nilai tukar rupiah, net inflow dana asing, serta potensi window dressing lebih awal menjelang kuartal IV.

“Dalam situasi konsolidasi seperti ini, strategi terbaik bukan mengejar saham-saham yang sudah naik tinggi, tapi mulai mencermati sektor yang masih berada di fase akumulasi awal. Fokus bisa diarahkan ke sektor energi, basic materials, dan infrastruktur,” jelas Hendra.

Ia juga merekomendasikan beberapa saham untuk diperhatikan pekan ini, antara lain:

  • TKIM dengan target harga jangka menengah Rp 8.000
  • ADRO dengan target jangka pendek Rp 2.000
  • IMJS yang berpotensi menguat menuju Rp 324.

Mengenal Window Dressing

Untuk China, Donald Trump mengatakan akan menaikkan tarif impornya dari 104 persen menjadi 125 persen. (BAY ISMOYO/AFP)

Window dressing dalam saham adalah praktik yang dilakukan manajer investasi atau perusahaan sekuritas untuk mempercantik tampilan portofolio atau laporan keuangan menjelang akhir periode pelaporan.

Tujuannya adalah agar kinerja terlihat lebih baik daripada kenyataannya, sehingga menarik perhatian investor dan meningkatkan kepercayaan publik.

Caranya biasanya dengan menjual saham yang berkinerja buruk dan membeli saham unggulan atau blue-chip agar portofolio tampak sehat.

Meskipun strategi ini bisa membuat laporan kuartal terlihat positif, hal ini tidak mencerminkan kinerja jangka panjang yang sebenarnya dan bisa menyesatkan investor.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya