Wall Street Cetak Rekor, Bursa Saham Asia Bervariasi Imbas Sentimen The Fed

Berbeda dengan wall street, bursa saham Asia Pasifik cenderung bervariasi pada perdagangan Kamis, (14/8/2025).

oleh Agustina MelaniDiperbarui 14 Agustus 2025, 08:06 WIB
Seorang wanita berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Akibat peluncuran rudal Korea Utara yang mendarat di perairan Pasifik saham Asia menglami penurunan. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik dibuka bervariasi pada perdagangan Kamis, (14/8/2025). Pergerakan bursa saham Asia Pasifik yang beragam itu setelah wall street ditutup melesat.

Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 di Jepang melemah 0,31%, berbalik arah dari rekor penutupan tertinggi pada sesi sebelumnya.

Sementara itu, indeks Topix merosot 0,64% hingga pukul 08.05 waktu Singapura. Di Korea Selatan, indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,39%. Indeks Kosdaq cenderung stagnan. Sedangkan indeks ASX 200 di Australia menguat 0,49%.

Bursa saham Asia Pasifik diperdagangkan beragam pada Kamis karena investor berspekulasi pada penurunan suku bunga oleh Federal Reserve atau bank sentral AS  bulan depan. Investor juga menantikan serangkaian data ketenagakerjaan dari Australia yang akan dirilis hari ini.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Rabu waktu setempat. Kenaikan wall street melanjutkan momentum positifnya seiring harapan penurunan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) yang terus mendorong indeks utama ke level tertinggi sepanjang masa.

Mengutip CNBC, indeks Dow Jones menguat 463,66 poin atau 1,04% ke posisi 44.922,27. Indeks S&P 500 bertambah 0,32% menjadi 6.466,58. Indeks Nasdaq naik 0,14% menjadi 21.713,14. Dua indeks saham ditutup pada rekor tertinggi dalam dua hari berturut-turut.

Saham AMD melonjak 5,4%, dan memimpin kenaikan di sektor teknologi. Saham Apple juga bertambah 1,6% dan saham Paramount Skydance melonjak 36,7%.

 

Musim Laporan Keuangan

Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Pergerakan tersebut menyusul sesi perdagangan yang memecahkan rekor pada Selasa yang dipicu oleh laporan inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, yang memberi harapan kepada investor akan penurunan suku bunga The Fed pada September.

Para pedagang memperkirakan peluang penurunan suku bunga hampir 100% pada pertemuan The Fed September, berdasarkan data perdagangan dari FedWatch Tool CME.

Ahli strategi investasi di Baird, Ross Mayfield juga menunjukkan musim laporan keuangan kuartal kedua yang kuat sejauh ini sebagai katalis pasar lainnya. Meskipun laju laporan keuangan melambat beberapa hari terakhir, laporan tersebut akan kembali meningkat minggu depan dengan banyaknya perusahaan ritel besar yang akan dirilis.

"Ini merupakan musim laporan keuangan yang sangat mengesankan, yang menunjukkan ketahanan perusahaan dari semua hambatan yang kita lihat sepanjang musim panas,” ujarnya kepada CNBC.

"Anda juga memiliki keluasan yang sangat baik.”

Investor beralih dari saham-saham berkapitalisasi besar "Magnificent Seven" ke saham-saham yang lebih kecil, dengan Russell 2000 mengalami kenaikan 2% pada Rabu. Saham-saham berkapitalisasi kecil diuntungkan oleh suku bunga yang lebih rendah, karena mereka juga menurunkan biaya modal dan berpotensi meningkatkan belanja konsumen.

Penutupan Bursa Saham Asia 13 Agustus 2025

Ilustrasi bursa saham Asia (Foto by AI)

Sebelumnya bursa saham Asia Pasifik sebagian besar menguat pada perdagangan Rabu pekan ini. Indeks Nikkei 225 di Jepang bertambah 1,3% ke posisi 43.274,67. Indeks Topix naik 0,83% ke posisi 3.091,91.

Indeks Kospi di Korea Selatan melompat 1,08% ke posisi 3.224,37. Indeks Kosdaq melonjak 0,86% ke posisi 814,1. Indeks CSI 300 berakhir naik 0,795 ke posisi 4.176,58. Indeks ASX 200 di Australia melemah 0,6% ke posisi 8.827,1. Demikian mengutip dari CNBC.

Indeks Hang Seng Teknologi yang menelusuri beberapa perusahaan teknologi China yang tercatat di Hong Kong naik lebih dari 2% dan memimpin reli di antara bursa saham Asia Pasifik pada Rabu pekan ini.

Saham Tencent Music Entertainment melonjak lebih 14% hingga pukul 13.52 waktu setempat. Perusahaan dengan kinerja terbaik lainnya termasuk Sunny Optical Technology Group naik lebih dari 5%. Saham Bilibili melonjak 4,77%. Sedangkan saham Alibaba bertambah 4,46%.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya