Standard Chartered Dongkrak Prediksi Harga Ethereum pada 2025

Selain itu, Standard Chartered menaikkan proyeksi akhir 2028 untuk ether menjadi USD 25.000.

oleh Agustina MelaniDiperbarui 13 Agustus 2025, 18:14 WIB
Ilustrasi aset kripto Ethereum. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Peningkatan keterlibatan industri dalam beberapa bulan terakhir dan kehadiran perusahaan treasury Ethereum menjadi sentimen positif untuk harga Ethereum (ETH).

Seiring hal itu, Standard Chartered menaikkan target akhir tahun untuk ether menjadi USD 7.500 atau Rp 121,22 juta (asumsi dolar Amerika Seriakt terhadap rupiah di kisaran 16.163) dari USD 4.000.

Mengutip Yahoo Finance, Rabu (13/4/2025), Standard Chartered menaikkan proyeksi akhir 2028 untuk ether menjadi USD 25.000 atau Rp 403,91 juta dari USD 7.500.

Kripto terbesar kedua di dunia ini terakhir diperdagangkan di posisi USD 4.679,47 atau Rp 75,57 juta, level yang terakhir terlihat pada November 2021.

“Kami sekarang memperkirakan ETH akan mencapai USD 7.500 pada akhir 2025 (sebelumnya USD 4.000) dan USD 25.000 pada akhir 2028 (USD 7.500),” tulis analis Standard Chartered.

Kepala Riset Aset Digital Standard Chartered, Geoffrey Kendrick memprediksi ETH akan melampaui rekor tertinggi sebelumnya di USD 4.866 pada akhir kuartal ketiga. Demikian mengutip dari laman the Block.

Katalis Ethereum

Dalam sebuah laporan yang dibagikan kepada the Block, Kendrick menuturkan, perusahaan treasury ETH dan ETF spot telah membeli sekitar 3,8% dari seluruh ether yang beredar sejak awal Juni. Itu hampir dua kali lipat laju tercepat yang tercatat pada bitcoin dari pembeli serupa.

Standard Chartered memperkirakan perusahaan treasury Ethereum saja seperti Bitmine Immersion dan SharpLink Gaming, mengakuisisi sekitar 2,3 juta ETH atau sekitar 1,9% dari pasokan, selama 2,5 bulan. "ETF menyumbang sisanya,” kata Kendrick.

Ia juga melihat Ether melanjutkan kinerja lebih baik dibandingkan bitcoin (BTC). ETH naik lebih dari 41% year to date dibandingkan kenaikan BTC sebesar 29% sejak Januari, menurut the Block.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Ethereum Bisa Jadi Senjata India Hadapi Tarif 50% dari Trump

Aset digital kripto Ethereum (ETH). (Foto by AI)

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu ketegangan perdagangan global dengan menaikkan tarif impor India menjadi 50% pada 6 Agustus 2025. Kebijakan ini diterapkan sebagai sanksi atas keputusan India membeli minyak dari Rusia, meski konflik di Ukraina masih berlangsung.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar kripto global. Namun, reaksi paling tajam datang dari komunitas kripto India sendiri.

Dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (8/8/2025), analis dan pakar kripto terkemuka di India Kashif Raza, melontarkan ide mengejutkan: menggunakan Ethereum sebagai senjata ekonomi untuk melawan kebijakan Trump.

Menurutnya, perusahaan-perusahaan teknologi informasi (TI) India akan menjadi korban terbesar dari kenaikan tarif ini. Ia menyebut dua perusahaan TI raksasa India memiliki total pendapatan sekitar USD 26 miliar per tahun dari pasar AS.

"India bisa mempertimbangkan staking Ethereum untuk menutupi potensi kerugian akibat tarif ini," kata Raza.

Taruhan pada Ethereum

Staking adalah proses mengunci aset kripto, seperti ETH, untuk mendukung jaringan blockchain berbasis proof-of-stake (PoS), dan sebagai imbalannya, pemilik aset mendapatkan bunga atau imbal hasil. Raza memperkirakan, dengan imbal hasil staking ETH sebesar 4% hingga 4,5% per tahun, India bisa mendapatkan USD 26 miliar jika memiliki ETH senilai sekitar USD 577 miliar.

 

Hanya Bitcoin?

Ilustrasi bitcoin dan ethereum (Foto: Unsplash/Thought Catalog)

Lalu Dari Mana India Dapatkan Ethereum?

Raza menyarankan pemerintah India untuk memanfaatkan cadangan emas negara yang saat ini mencapai USD 84,5 miliar. Jika dikonversikan ke Ethereum dengan harga saat ini sekitar USD 3.650 per koin, maka India bisa memperoleh lebih dari 23 juta ETH untuk di-staking.

Sementara sebagian pihak, seperti tokoh kripto Aditya Singh, mengklaim bahwa hanya Bitcoin yang layak menjadi cadangan strategis nasional, Raza berpendapat sebaliknya.

Ia menekankan bahwa AS kini mendorong mekanisme staking likuid, dan banyak perusahaan di sana berhasil meraup miliaran dolar dari praktik ini.

“Jika perusahaan AS bisa mendapat keuntungan besar dari staking ETH, India tidak boleh hanya jadi penonton,” ujar Raza.

 

 

INFOGRAFIS: 10 Mata Uang Kripto dengan Valuasi Terbesar (Liputan6.com / Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya