Kisah Kodak, Perusahaan Pencipta Kamera Digital yang Kini Nyaris Mati

Kodak menyatakan tidak memiliki komitmen pembiayaan dan likuiditas untuk melunasi kewajiban utang sekitar USD 500 juta. Kondisi ini menimbulkan keraguan substansial terhadap kemampuannya untuk terus beroperasi.

oleh Linda Maulina KhairunnisaDiterbitkan 13 Agustus 2025, 21:30 WIB
Sejak kamera digital kian berkualitas, semakin sedikit film yang disyut dengan pita seluloid. Ini upaya menyelamatkan Kodak.

Liputan6.com, Jakarta - Eastman Kodak Company, perusahaan fotografi yang sudah berusia 133 tahun, memperingatkan para investor bahwa kelangsungan usaha perusahaan ini berada dalam risiko kebangkrutan dan harus tutup operasional.

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan pada awal pekan ini, Eastman Kodak menyatakan tidak memiliki komitmen pembiayaan dan likuiditas untuk melunasi kewajiban utang sekitar USD 500 juta atau setara Rp 8,12 triliun (estimasi kurs Rp 16.200 per USD).

Manajemen mengakui kondisi tersebut menimbulkan keraguan substansial terhadap kemampuan perusahaan yang didirukan oleh George Eastman ini untuk terus beroperasi.

Kodak berencana mencari tambahan kas dengan menghentikan pembayaran program pensiun. Perusahaan juga menegaskan bahwa kebijakan tarif tidak akan berdampak material pada bisnis, meskipun sebagian besar produk termasuk kamera, tinta, dan film diproduksi di Amerika Serikat (AS).

"Pada kuartal kedua, Kodak terus mencapai kemajuan dalam rencana jangka panjang kami meskipun menghadapi tantangan lingkungan bisnis yang tidak menentu," ujar CEO Kodak, Jim Continenza, dalam keterangan tertulis, seperti dikutip dari CNN, Rabu (13/8/2025).

Dalam pernyataannya kepada CNN, juru bicara Kodak menyampaikan keyakinan bahwa perusahaan akan mampu melunasi sebagian besar utang jangka panjang sebelum jatuh tempo, serta mengubah, memperpanjang, atau membiayai kembali sisa utang dan atau kewajiban saham preferen.

Saham Eastman Kodak (KODK) tercatat anjlok lebih dari 25 persen pada perdagangan Selasa siang kemarin.

 

Naik dan Turun

Bahkan produsen kamera Kodak, dan pabrikan otomotif Lamborghini pun ikut ambil bagian menampilkan ponsel pintar anyar besutan masing-masing.

Eastman Kodak Company berdiri pada 1892, namun akarnya dapat ditelusuri hingga 1879, ketika George Eastman memperoleh paten pertamanya untuk mesin pelapis pelat. Pada 1888, Eastman meluncurkan kamera Kodak pertama dengan harga USD 25 atau sekitar Rp 405,9 ribu dengan kurs saat ini.

Pada masa itu, fotografi belum menjadi industri massal karena memerlukan keterampilan teknis dan peralatan khusus. Namun, kamera Kodak dirancang untuk memudahkan masyarakat mengakses fotografi.

Eastman pun memperkenalkan slogan ikonik: “Anda tekan tombolnya, kami yang mengerjakan sisanya.”

Nama “Kodak” sendiri tidak memiliki arti khusus; menurut perusahaan, George Eastman menciptakannya begitu saja karena menganggap huruf “K” sebagai huruf yang kuat dan tegas.

Kodak menikmati kesuksesan selama lebih dari satu abad dalam produksi kamera dan film. Pada puncaknya di era 1970-an, perusahaan ini menguasai sekitar 90 persen pasar film dan 85 persen pasar kamera di Amerika Serikat, menurut The Economist.

Popularitasnya bahkan diabadikan dalam budaya pop, salah satunya lewat lagu hit Paul Simon, “Kodachrome”, yang menduduki puncak tangga lagu pada 1973.

 

Perlindungan Kebangkrutan

Rol film Kodak dari tahun 1880 lengkapi koleksi museum George Eastman. (Via: boredpanda.com)

Namun, dominasi pasar Kodak tidak bertahan lama—ironisnya, akibat teknologi yang mereka ciptakan sendiri. Pada 1975, Kodak memperkenalkan kamera digital pertama di dunia, tetapi gagal memanfaatkan potensi pasar teknologi tersebut.

Akibatnya, pada 2012, perusahaan mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11. Saat itu, Kodak memiliki 100.000 kreditor dengan total utang mencapai USD 6,75 miliar atau sekitar Rp 109,61 triliun.

Pada 2020, Kodak sempat mendapat angin segar ketika pemerintah AS menunjuknya untuk bertransformasi menjadi produsen bahan farmasi. Kabar tersebut memicu lonjakan harga saham yang begitu cepat hingga memicu 20 kali circuit breaker dalam satu sesi perdagangan.

Meski kini kembali merugi, Kodak menyatakan rencana untuk memperluas segmen bisnis farmasi tersebut. Perusahaan juga tetap memproduksi film dan bahan kimia untuk berbagai sektor, termasuk industri perfilman, serta melisensikan mereknya untuk berbagai produk konsumen.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya