Dari Pahlawan Liga Champions Jadi Korban Revolusi Luis Enrique: Apa yang Salah dengan Gianluigi Donnarumma?

PSG memutuskan melepas Gianluigi Donnarumma demi kiper baru Lucas Chevalier. Keputusan ini lebih soal gaya bermain ketimbang kemampuan.

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 13 Agustus 2025, 14:31 WIB
Kiper Paris Saint-Germain asal Italia #01, Gianluigi Donnarumma, bersiap menghadapi pertandingan final Piala Dunia Antarklub 2025 antara Chelsea (Inggris) dan Paris Saint-Germain (Prancis) di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, pada 13 Juli 2025. (FRANCK FIFE/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Gianluigi Donnarumma baru saja menorehkan musim gemilang bersama PSG. Ia mengangkat trofi Liga Champions dan membawa klubnya ke final Piala Dunia Antarklub. Namun, pencapaian itu tak cukup untuk mempertahankan tempatnya di Parc des Princes.

Kiper berusia 26 tahun itu mengungkapkan kekecewaannya setelah kabar bahwa ia tidak lagi menjadi bagian dari rencana tim. Pernyataan tersebut memicu tanda tanya besar di kalangan penggemar. Mengapa PSG melepas salah satu penjaga gawang terbaik dunia?

Keputusan ini datang setelah PSG mendatangkan Lucas Chevalier dari Lille pada bursa transfer musim panas. Pelatih Luis Enrique menegaskan bahwa alasannya bukan soal kemampuan Donnarumma menepis bola, melainkan profil kiper yang sesuai dengan gaya mainnya.

Perubahan ini menandai pergeseran taktik penting di PSG. Dari mengandalkan kiper tradisional yang mengutamakan shot-stopping, kini mereka memilih sosok yang juga menjadi bagian integral dalam membangun serangan dari belakang.


Luis Enrique Ungkap Alasan Lepas Donnarumma

Kiper Timnas Italia berusia 25 tahun yang kini tengah menjalani musim ke-3 bersama PSG, Gianluigi Donnarumma saat ini mendapatkan gaji sebesar 214,3 ribu pounds atau setara Rp4,1 miliar per pekan. Eks AC Milan tersebut masih terikat kontrak bersama PSG hingga akhir musim 2025/2026. (AFP/Sylvain Thomas)

Donnarumma mengaku frustrasi karena merasa disingkirkan secara sepihak. “Seseorang memutuskan bahwa saya tidak lagi bisa menjadi bagian dari tim dan berkontribusi untuk kesuksesan,” ujarnya. Perwakilannya, Enzo Raiola, bahkan menilai langkah PSG sebagai bentuk kurang hormat terhadap kliennya.

Raiola memaparkan bahwa mereka sempat menerima tawaran kontrak baru dengan gaji lebih rendah demi bertahan. Namun, pembicaraan terhenti setelah PSG berubah haluan. “Hanya sebulan lalu kami bicara soal perpanjangan, lalu tiba-tiba pelatih mengubah pandangan tentang Gigio,” tegasnya.

Luis Enrique menilai keputusan ini sulit namun perlu diambil demi rencana jangka panjang. “Saya hanya punya pujian untuk Donnarumma, tapi kami mencari profil pemain berbeda,” kata Enrique sebelum laga Piala Super UEFA melawan Tottenham. Baginya, kiper harus mendukung gaya bermain berbasis penguasaan bola.


Profil Kiper yang Diinginkan PSG

Kiper Paris Saint-Germain, Gianluigi Donnarumma, tampil impresif saat timnya menang 5-0 atas Inter Milan pada final Liga Champions di Allianz Arena, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB. Donnarumma pun akhirnya merasakan trofi juara Liga Champions. (AP Photo/Luca Bruno)

Saat Donnarumma tiba di Paris pada 2021, ia sudah berstatus juara Euro bersama Italia dan veteran lebih dari 250 laga untuk Milan. Kemampuannya sebagai shot-stopper elite kembali terbukti musim lalu, khususnya di semifinal Liga Champions melawan Arsenal.

Namun, PSG kini menginginkan kiper yang lebih aktif dalam fase build-up. Data musim lalu menunjukkan mereka memimpin Ligue 1 dengan rata-rata penguasaan bola 68,4 persen. Meski begitu, dengan Donnarumma, mereka kerap memilih umpan panjang daripada membangun serangan dari lini belakang.

Lanjut Baca:

Chevalier menawarkan solusi berbeda. Di Lille, ia kerap menjadi ‘pemain ke-11’ dalam penguasaan bola, berani menerima tekanan, mengubah sudut permainan, dan memutuskan momen tepat untuk memecah pressing lawan. Kemampuannya mendistribusikan bola pendek maupun panjang dianggap sejalan dengan visi Enrique.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya