Liputan6.com, Jakarta - Keluarga kerajaan Inggris selalu punya cara untuk menghasilkan cuan. Salah satunya lewat penjualan merchandise. Dilaporkan bahwa kediaman Raja Charles III di pedesaan menjual boneka beruang Raja Charles dengan harga di atas rata-rata.
Highgrove House, nama kediaman Charles, menjual boneka beruang Raja Charles seharga 269 pound sterling, sekitar Rp5,9 juta. Dalam deskripsinya, boneka edisi terbatas itu merupakan hasil buatan tangan tim Merrythought di Inggris. Boneka tersebut terbuat dari bulu mohair berwarna perak terbaik yang dipadukan dengan beludru katun lembut untuk nuansa mewah.
Advertisement
Cakar kirinya menampilkan sandi kerajaan resmi Raja yang disulam dengan benang emas, serta menampilkan Selempang Ordo Victoria Kerajaan asli dan replika Bintang Ordo Garter. Hanya 1.948 boneka beruang yang diproduksi, dan masing-masing dikemas dalam kotak hadiah mewah yang elegan.
Boneka beruang itu disebut mulai didistribusikan pada 12 Agustus 2025. Mengutip Hello Magazine, Rabu (13/8/2025), meski Pangeran Harry mengungkapkan dalam memoarnya, Spare, bahwa ayahnya memiliki boneka beruang kesayangan saat kecil, sebuah pernyataan di laman Highgrove menyatakan bahwa boneka beruang itu "hanya ditujukan untuk kolektor dewasa dan bukan mainan".
Rahasia Rumah Pedesaan Raja Charles III
Highgrove House juga merilis produk lain yang dapat dibeli dari toko online-nya, termasuk peralatan rumah tangga, makanan, dan mantel Burberry seharga 2.490 pound sterling, hasil kolaborasi dengan keluarga Charles di Gloucestershire.
Highgrove dekat Tetbury di Gloucestershire adalah tempat peristirahatan pedesaan kesayangan Raja yang ia peroleh pada 1980. Ia telah menghabiskan puluhan tahun merenovasi taman di sekitar rumah tersebut.
Pangeran William dan Harry menghabiskan sebagian besar masa kecil mereka di rumah besar tersebut, yang mencakup ruang bawah tanah yang oleh para pangeran remaja saat itu disebut Klub H.
Dalam memoarnya, Harry menulis, "Klub H adalah tempat persembunyian yang sempurna untuk seorang remaja, terutama remaja ini. Ketika saya menginginkan kedamaian, Klub H menyediakannya. Ketika saya menginginkan kenakalan, Klub H adalah tempat teraman untuk bertindak."
Lahannya juga mencakup rumah pohon kesayangan masa kecil Pangeran, yang direnovasi tahun lalu oleh alumni Program Kerajinan Bangunan Yayasan Raja, untuk mengembalikannya ke kejayaannya.
Program Konservasi Gajah Permintaan Raja Charles
Masih terkait dengan Raja Charles, pelaksanaan Program Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI) Aceh yang merupakan program kolaborasi antara Kementerian Kehutanan dan WWF terus dimantapkan. Program itu merupakan tindak lanjut dari pemenuhan permintaan Raja Charles III melalui WWF agar Presiden Prabowo Subianto mendukung upaya konservasi gajah sumatera.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyatakan total ada dua blok dari 98 ribu lahan hutan tanaman industri (HTI) PT THL yang dimiliki Prabowo Subianto di Takengon, Aceh Tengah, yang akan dijadikan sanctuary untuk gajah-gajah sumatera. Blok pertama yang seluas 21 ribu hektare diperkirakan dihuni sekitar 27 individu gajah, sedangkan blok kedua yang seluas 14 ribu hektare dihuni oleh 40--50 individu gajah.
"Kami sekarang start dengan WWF ini bekerja di blok kedua yang jumlahnya 14 ribu. Sementara jumlah individunya sebanyak 40--50 individu," kata Menhut ditemui seusai rapat di Jakarta, Kamis, 7 Agustus 2025.
Agar program berjalan optimal, pihaknya akan memulai dengan menghitung ulang jumlah gajah sumatera di masing-masing blok menggunakan geotermal. Pengidentifikasian itu akan dilakukan pada September 2025. "Kita akan tahu lebih persis jumlah gajah baik di blok 1 dan di blok 2," ujarnya.
Prioritas Perbaikan Habitat
Berikutnya adalah perbaikan habitat (habitat improvement). Fokus yang jadi prioritas adalah pengayaan pakan gajah di area dimaksud. "Kalau manusia itu makan untuk hidup, kalau gajah itu hidup untuk makan karena memang mengonsumsi makanan yang sangat banyak," kata Raja Juli.
Pakan pula yang mendorong gajah keluar dari area tempat tinggalnya. Keterbatasan pakan biasanya memicu mereka mencari makanan di tempat lain, hingga ke perkampungan warga, selain karena ada memori masa lalu bawa areal tersebut sejak dulu memang jadi area jelajahnya.
Untuk itu, upaya pemenuhan pakan jadi prioritas. Selama menunggu habitat bisa menyediakan pakan gajah yang memadai, WWF berinisiatif memberdayakan masyarakat untuk menjual hasil tanam mereka agar bisa memberi pakan gajah yang cukup.
"Bisa rumput-rumput, dan kemudian disimpan di dekat perkampungan agar gajahnya cuma stop sampai sana. Ini bagian dari prevensi kita, jadi mengajak masyarakat untuk memberikan pakan yang cukup kepada gajah sebelum rehabilitasi habitat yang secara lebih sistematis bisa dijalankan," kata Menhut.