Liputan6.com, Jakarta Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan OJK dan Bank Indonesia menggelar Lomba Digitalisasi Pasar 2025. Kegiatan ini bertujuan mempercepat transformasi digital di sektor perdagangan tradisional sekaligus meningkatkan inklusi keuangan di kalangan pelaku UMKM. Lomba Digitalisasi Pasar juga menjadi langkah konkret untuk mendorong para pedagang pasar masuk dalam ekosistem perbankan dan digital.
Dari 153 pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya, sebanyak 20 pasar tradisional dijadikan lokasi percontohan dalam lomba ini. Pasar-pasar tersebut dipilih secara acak dengan mempertimbangkan klasifikasi (kelas A, B, dan C) serta jumlah tempat usaha yang aktif.
Advertisement
Perumda Pasar Jaya menegaskan komitmennya mendukung percepatan transformasi digital di pasar tradisional melalui partisipasi aktif dalam Lomba Digitalisasi Pasar 2025. Manajer Humas Perumda Pasar Jaya, Fahrizal Irfan, mengatakan, lomba ini memberikan manfaat besar, baik bagi Pasar Jaya maupun para pedagang dan pengunjung pasar.
“Poinnya adalah mendorong percepatan adaptasi teknologi, meningkatkan daya saing pasar tradisional, serta memperluas akses pasar bagi pedagang. Dengan masuknya teknologi digital, pedagang bisa menjangkau pembeli dari area yang lebih luas sehingga potensi omzet dan keuntungan pun meningkat,” kata Irfan kepada Liputan6.com, Senin, (11/8/2025).
Dalam pelaksanaan lomba, Irfan menjelaskan Pasar Jaya berperan sebagai fasilitator aktif berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta sejumlah perbankan. Kolaborasi ini mencakup penyediaan sarana dan prasarana, pendampingan pedagang, hingga persiapan teknis lomba.
“Di Pasar Jaya sendiri ada 20 pasar yang mengikuti Lomba Digitalisasi Pasar 2025. Kami memastikan semua peserta siap, baik dari segi infrastruktur maupun pemahaman teknologi,” jelas Irfan.
Inovasi Digital di Pasar Jaya
Pasar Jaya telah menerapkan berbagai inovasi untuk mempermudah transaksi dan pelayanan publik, di antaranya pembayaran non-tunai melalui QRIS dan mesin EDC, aplikasi J-Kios untuk transaksi kios, hingga sistem parkir digital. Menurut Irfan, langkah ini merupakan bagian dari transformasi menuju pasar tradisional yang modern dan efisien.
“Banyak pedagang merasa terbantu karena transaksi menjadi lebih cepat dan aman. Pembeli juga senang karena bisa melakukan pembayaran non-tunai, yang sebelumnya harus selalu membawa uang tunai. Selain praktis, cara ini juga mengurangi risiko kecurangan,” kata Irfan.
Di balik manfaat besarnya, Irfan menyebutkan pelaksanaan transformasi digital di pasar tradisional masih memiliki tantangan. Salah satunya adalah kesiapan sumber daya manusia, terutama terkait literasi digital.
“Peralihan dari pembayaran tunai ke digital memerlukan adaptasi. Literasi digital ini harus dibangun secara bertahap, baik untuk pedagang maupun konsumen,” ungkap Irfan.
Oleh karena itu, Irfan berharap digitalisasi pasar dapat menjadi budaya baru yang berkelanjutan di pasar tradisional, bahkan setelah lomba usai.
Penilaian Lomba Digitalisasi Pasar 2025
Dikutip dari Pemprov DKI Jakarta, Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda DKI Jakarta, Suharini Eliawati, mengatakan Lomba Digitalisasi Pasar 2025 merupakan bagian dari upaya mempercepat transformasi digital di sektor perdagangan tradisional dan meningkatkan inklusi keuangan di kalangan pelaku usaha pasar.
"Kami ingin menghadirkan pasar yang nyaman. Jadi, penilaian tidak hanya soal kemudahan bertransaksi digital, tetapi juga kebersihan, keamanan, serta penataan fasilitas umum dan pedagang kaki lima. Semoga lewat lomba ini pasar-pasar tradisional bisa terus berkembang," jelasnya.
Eli mengatakan sebanyak 20 pasar tradisional dijadikan lokasi percontohan dalam lomba ini.
“Penilaian lomba terbagi dalam dua aspek, yaitu Aspek Pasar yang dinilai oleh tim juri dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, serta Aspek Digitalisasi Perbankan yang dinilai oleh OJK dan Bank Indonesia berdasarkan laporan dari bank peserta. Nantinya, pasar-pasar pemenang akan menjadi percontohan bagi 133 pasar lainnya yang dikelola Perumda Pasar Jaya, maupun bagi daerah lain di Indonesia,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Bapenda DKI Jakarta, Lusiana Herawati, menyatakan, digitalisasi membuka akses pembiayaan yang lebih luas, memungkinkan transaksi yang lebih aman, serta mendorong terciptanya ekosistem pasar yang tertib dan bersih.
Ia berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem transaksi digital, sekaligus mendorong perluasan layanan keuangan yang inklusif.
“Transaksi digital juga memberikan banyak manfaat bagi pedagang, seperti proses yang lebih cepat, aman, dan praktis. Mereka tidak perlu lagi repot menyediakan uang kembalian dan bisa merasa tenang karena dana langsung masuk ke rekening,” ujar Lusiana.
(*)