Pertumbuhan Ekonomi RI 5,12% di Luar Ekspektasi, Ini Penjelasan Pengamat

Pertumbuhan Ekonomi 5,12% meleset dari ekspektasi beberapa ekonom yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di bawah 5 persen.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 10 Agustus 2025, 12:00 WIB
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam keterangan pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/4/2025), menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi masih diperkirakan berada di kisaran 4,7% hingga 5,5%, dengan titik tengah 5,1. (Liputan6.com/Angga Yuniar).

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun ini mencapai 5,12 persen secara tahunan (year-on-year). 

Angka ini sedikit meleset dari ekspektasi beberapa ekonom yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di bawah 5 persen. Kendati demikian, sejumlah ekonom menilai bahwa capaian ini masih wajar dalam konteks perkembangan ekonomi nasional terkini.

Menurut pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, angka 5,12 persen tersebut masih bisa diterima secara logis.

“Data pertumbuhan ekonomi kuartal II dari BPS, dalam hemat saya, masih cukup reliable dan bisa dipercaya. Raihan 5,12 persen di kuartal II tahun ini sangat bisa dipahami,” kata Ronny dalam keterangan tertulisnya dikutip Liputan6.com, Minggu (10/8/2025).

Ia menilai berbagai komponen pembentuk pertumbuhan seperti konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor masih menunjukkan performa yang cukup stabil dan mendukung capaian tersebut.

Ronny menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga yang mengalami kenaikan tipis didorong oleh momen tahun ajaran baru. Fenomena ini biasanya mendorong pengeluaran tambahan di sektor pendidikan dan kebutuhan anak sekolah, yang pada akhirnya menyumbang pada pertumbuhan konsumsi nasional.

“Kenaikan tipis konsumsi rumah tangga ditopang oleh momen tahun ajaran baru, yang mengharusnya banyak keluarga di Indonesia untuk berbelanja kebutuhan tahun ajaran baru,” ujarnya.

 

 

 

Angka PHK

Deretan gedung perkantoran di Jakarta, Senin (27/7/2020). Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta mengalami penurunan sekitar 5,6 persen akibat wabah Covid-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Adapun besarnya angka PHK di sektor manufaktur memang tak bisa juga dipungkiri. Angkanya cukup mengkhawatirkan. 

Tapi pertumbuhan investasi baru juga tak bisa dinafikan, yang membuka lapangan pekerjaan jauh di atas angka PHK formal yang ada. 

“Artinya, perekonomian nasional masih mampu menyerap cukup banyak lapangan pekerjaan, meskipun Incremental Labour Output Ratio (ILOR) Indonesia masih belum mencapai titik optimal,” ujarnya.

 

Pertumbuhan Positif Belum Cukup untuk Ubah Nasib Ekonomi

Gubernur BI Perry Warjiyo juga mengungkap bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai dengan kuartal I 2025 masih cukup baik di tengah peningkatan ketidakpastian global. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski mengapresiasi capaian 5,12 persen, Ronny juga menyampaikan catatan kritis. Menurutnya, angka pertumbuhan tersebut belum mencerminkan potensi maksimal Indonesia, apalagi jika dikaitkan dengan kebutuhan jangka panjang seperti keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).

Dalam pandangannya, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi tahunan di atas 7 hingga 8 persen agar mampu mengatasi tekanan demografi dan mengoptimalkan bonus demografi yang kini sedang berlangsung. Pertumbuhan 5 persen hanya cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi, tetapi belum cukup untuk membawa perubahan struktural.

“Indonesia memang membutuhkan angka pertumbuhan di atas 7-8 persen pertahun, bahkan lebih, untuk keluar dari jebakan middle income trap dan mengatasi tekanan negatif dari demografi dividen. Untuk ke arah itu, memang belum terlihat tanda-tandanya,” pungkasnya. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya